Mutiara Hikmah BES: Memahami Takdir dan Rahasia Ayat Al-Qur’an yang Tak Pernah Bertentangan (An-Nisa’ 78-82)

Oleh : Prof Dr Eggi Sudjana, SH., M.Si

Matapenaindonesia.co.id Mutiara Hikmah – Ahad 12 Juli 2026

Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَا لِهٰۤؤُلَآءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, ‘Ini dari sisi Allah,’ dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, ‘Ini dari engkau (Muhammad).’ Katakanlah, ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 78)

مَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّا سِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِا للّٰهِ شَهِيْدًا

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 79)

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰ نَ ۗ وَلَوْ كَا نَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَا فًا كَثِيْرًا

“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 82)

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Memahami QS At-Taubah Ayat 29 dengan Ilmu dan Jihad Konstitusi

3 HAL MENDASAR:

1. Kematian pasti datang kapan dan di mana pun, dalam benteng kokoh sekalipun

2. Kebaikan dari Allah, tapi keburukan dari kesalahan dirimu sendiri

3. Al-Qur’an tidak ada pertentangan di dalamnya, karena itu Wahyu-Nya

Di sisi lain ada logika manusia yang tidak mau disalahkan bila menimpa takdir-Nya yang buruk, bahkan berani menyalahkan Allah. Berikut pemahaman untuk menjawab pertanyaan: bagaimana memahami tidak ada pertentangan dalam Al-Qur’an, serta memahami takdir buruk yang menimpa kita benar-benar karena kesalahan diri sendiri?

Mutiara Hikmah Ahad 12 Juli 2026 – An-Nisa’ 78, 79, 82

MasyaAllah ayatnya nusuk banget. Ini 3 ayat ini obat buat hati AKBERS biar nggak jadi “munafik zaman now” yang suka nyalahin orang dan nyalahin Allah.

Langsung kita bedah ya:

3 HAL MENDASAR DARI AYAT TADI

1. KEMATIAN PASTI DATANG – An-Nisa’ 78
‘ayna maa takuunuu yudrikkumul maut walau kuntum fii buruujim musyayyadah’

Mau sembunyi di bunker, di istana, di rumah yang paling aman. Kalau ajal tiba, tetap datang.

Pelajaran AKBERS: Jangan takut mati di jalan dakwah. Takutlah mati dalam keadaan lalai.

2. TAUHID RUBUBIYAH & TANGGUNG JAWAB – An-Nisa’ 78-79
Ini yang paling berat:
‘maa ashoobaka min hasanatin fa minallah, wa maa ashoobaka min sayyi’atin fa min nafsik’

Maknanya:

– Kebaikan = 100% dari Allah. Karena taufik, hidayah, nikmat semua dari Dia

– Keburukan = Ada 2 sisi:

– Sisi Takdir: Semua terjadi atas izin dan ilmu Allah. ‘qul kullum min ‘indillah’ = “Semua dari sisi Allah”

– Sisi Sebab: Kenapa ditakdirkan buruk ke kita? Karena ‘min nafsik’ = dari kesalahan, maksiat, lalai, atau hikmah ujian kita sendiri

Baca juga:  Hizbullah A. Sudjana Tanggapi Ahmad Khozinudin: "Jangan Merasa Paling Suci Hingga Lupa Bercermin"

Ini bukan Allah dzalim. Ini Allah Adil.

3. AL-QUR’AN TIDAK ADA KONTRADIKSI – An-Nisa’ 82
‘walau kaana min ‘indi ghairillah lawajaduu fiih ikhtilaafan katsiiraa’

Kalau Qur’an buatan manusia pasti berantakan isinya. Tapi ini Wahyu, 100% nyambung.

PERTANYAAN SERIUS: “GIMANA NGGAK KONTRADIKSI ANTARA AYAT 78 & 79?”

Ayat 78: ‘kullum min ‘indillah’ = Semua dari Allah
Ayat 79: ‘sayyi’ah min nafsik’ = Keburukan dari diri sendiri

Jawabannya pakai 2 Kaidah Aqidah Ahlus Sunnah:

KAIDAH 1: TINGKATAN TAKDIR ADA 4

1. Ilmu = Allah tahu semua yang akan terjadi

2. Kitab = Allah tulis di Lauh Mahfudz

3. Masyi’ah = Nggak ada yang terjadi kecuali atas kehendak Allah

4. Khalq = Allah yang menciptakan semua, termasuk perbuatan kita

Jadi pas musibah menimpa, itu sudah ditakdirkan Allah. Itu maksudnya ‘kullum min ‘indillah’.

KAIDAH 2: MANUSIA PUNYA IKHTIAR
Allah kasih kita akal, syariat, dan kemampuan memilih.
Pas kita maksiat → Allah biarkan → terjadilah keburukan itu.
Maka kita yang disalahkan. Itu maksudnya ‘min nafsik’.

Ilustrasi gampang:
Ada api. Sifat api membakar itu ciptaan Allah.
Tapi kalau kamu yang pegang apinya, yang salah siapa? Kamu.
Allah ciptakan sebab akibat. Kita yang milih naruh tangan ke api.

Baca juga:  Ketua IMW Laporkan Lurah Cirimekar ke Kejari, Dugaan Penyimpangan Dana Kelurahan Disorot

Jadi:
Allah yang mentakdirkan = Benar
Kita yang jadi sebabnya = Benar juga

Nggak kontradiksi. Ini namanya “Jama’ bainad dalilain” = Menggabungkan 2 dalil.

KENAPA LOGIKA MANUSIA SUKA NYALAHIN ALLAH?

Jawabannya ada di ayat 78: ‘fa maa li haaulaail qoumi laa yakaaduuna yafqohuuna hadiitsa’
= “Mengapa mereka hampir-hampir tidak memahami pembicaraan”

Karena 3 penyakit hati:

1. Nggak mau intropeksi = Lebih enak nyalahin Allah, pemerintah, orang lain

2. Nggak paham tauhid = Nggak paham Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana

3. Hatinya sakit = Sama seperti yang pernah disampaikan sebelumnya. Pas kena musibah lari ke selain Allah

IMPLEMENTASI

Pas kena musibah, latih 3 langkah ini:

1. TAUHID – Ucapkan “Ini takdir Allah”, sikapnya ridho dan bersabar

2. MUHASABAH – Ucapkan “Ini pasti ada salahku”, lalu beristighfar dan perbaiki diri

3. TINDAKAN – Tanyakan “Apa hikmahnya?”, lalu bangkit dan cari solusi

Jangan sampai: pas kena buruk nyalahin orang lain, nyalahin pemimpin, atau nyalahin keadaan.

KESIMPULAN :

Al-Qur’an tidak kontradiksi.
Takdir buruk itu 2 sisi: Ditakdirkan Allah, tapi sebabnya dari kita.
Tujuannya biar kita: Tawakal ke Allah + Sibuk perbaiki diri.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Semoga Allah jadikan kita yang kalau kena nikmat = Syukur, kalau kena musibah = Sabar + Muhasabah.

Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana ( BES )

Latest

Newsletter

Don't miss

Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat TNI AD

MEDAN, MPI — Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa...

Mutiara Hikmah BES: Pilihan Anak Bangsa, Penjara Lebih Baik daripada Memenuhi Ajakan Mereka

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si...

Mutiara Hikmah BES: Lebih Baik Kehilangan Jabatan dan Harta daripada Mengorbankan Iman

BOGOR, MPI — Ada kalanya mempertahankan prinsip membutuhkan keberanian untuk...

Mutiara Hikmah BES: QS Al-Hajj Ayat 2 Mengingatkan Dahsyatnya Kiamat, Huru-Hara Dunia Jangan Disamakan dengan Azab Akhirat

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si dalam Mutiara Hikmah Kamis, (27/8/2026), mengajak umat Islam untuk mentadaburi QS. Al-Hajj ayat 2, yang menggambarkan...

Manifesto Peradaban: Prof. Eggi Sudjana Bedah QS. An-Nur Ayat 55, Iman dan Amal Shalih sebagai Jalan Menuju Istikhlafah

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si (BES) dalam kajian Mutiara Hikmah Rabu, (26/8/2026), mengangkat tema “Manifesto Peradaban” dengan menjadikan QS. An-Nur...

Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat TNI AD

MEDAN, MPI — Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa memimpin Sidang Pantukhir Pusat Calon Bintara (Caba) Prajurit Karier (PK) TNI AD Gelombang III Tahun...