Mutiara Hikmah, BES: QS Al-An’am 6:65 dan Bahaya Diadu Domba Antar-Golongan

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Selasa, 29 September 2026, mengangkat pembahasan QS Al-An’am ayat 65 tentang berbagai bentuk azab serta peringatan Allah SWT mengenai manusia yang dicampurkan ke dalam golongan-golongan yang saling bertentangan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰۤى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.’ Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(nya).”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 65)

BES kemudian mengajak umat untuk memahami secara lebih mendalam bagian ayat:

“Mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan dan merasakan sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.”

Menurut BES, ayat tersebut dapat dikaitkan dengan berbagai peristiwa konflik antargolongan yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Ia menyebut antara lain peristiwa yang berkaitan dengan PKI pada 1948 dan 1965, Gerakan DI/TII, PRRI, peristiwa 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan, gerakan penolakan terhadap asas tunggal Pancasila, gerakan untuk kembali kepada UUD 1945 asli, hingga berbagai pertarungan kepentingan politik ketika masyarakat mendukung partai maupun calon presiden yang berbeda.

BES kemudian mengajukan pertanyaan:

Apakah berbagai peristiwa tersebut termasuk bagian yang dimaksudkan dalam QS Al-An’am ayat 65 dalam konteks bangsa Indonesia?

Menurut BES, pemahaman terhadap ayat tersebut perlu dilihat sebagai sebuah peringatan tentang bahaya ketika manusia terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berhadapan.

QS AL-AN’AM 6:65 – AZAB PALING MENGERIKAN: DIADU DOMBA

Dalam penjelasannya, BES menyebut QS Al-An’am ayat 65 sebagai ayat yang memiliki relevansi dengan kondisi bangsa yang pernah mengalami konflik antargolongan.

Menurut BES, Allah menyebut tiga bentuk azab dalam ayat tersebut. Dua di antaranya berkaitan dengan azab dari atas dan bawah, sementara bentuk ketiga berkaitan dengan hubungan sosial antarmanusia.

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Memahami Takdir, Usaha Manusia, Ancaman Kekafiran dan Hikmah dalam QS. Al-Qamar Ayat 3-5

1. عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ – AZAB DARI ATAS

BES menjelaskan bagian pertama:

عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ

“Azab dari atas.”

Menurut BES, bentuknya dapat dipahami antara lain sebagai hujan batu, petir, maupun berbagai bentuk ancaman yang datang dari atas.

Dalam konteks kekinian, BES juga menggunakan istilah seperti drone, rudal dan bahkan kebijakan zalim dari penguasa di atas sebagai analogi dalam memahami bentuk ancaman dari atas.

2. أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ – AZAB DARI BAWAH KAKI

Bagian kedua:

أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ

“Atau dari bawah kaki kalian.”

BES mengaitkannya dengan berbagai bentuk bencana dan krisis seperti gempa, lumpur, banjir, wabah, resesi hingga krisis pangan.

3. أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا – DICAMPURKAN DALAM GOLONGAN-GOLONGAN

Namun, menurut BES, bagian yang paling perlu diperhatikan adalah:

أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

“Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.”

BES kemudian menjelaskan istilah Yalbisakum Shiya’an.

Menurut penjelasan BES, yalbisu bermakna mencampur atau mengaduk-aduk, sedangkan shiya’an dapat dipahami sebagai golongan-golongan.

Dalam konteks yang dibawakan BES, istilah tersebut kemudian dikaitkan dengan sekte, partai, ormas dan fanatisme kelompok yang membuat manusia terpecah serta saling merasa paling benar.

Sementara:

وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

dipahami BES sebagai kondisi ketika sebagian manusia merasakan keganasan sebagian yang lain.

Bentuknya, menurut BES, tidak selalu berupa peperangan fisik, tetapi juga dapat berupa konflik, fitnah, saling melaporkan dan berbagai bentuk pertentangan sosial.

BES juga merujuk pada penafsiran yang menyebut bahwa Rasulullah SAW berlindung dari bentuk azab berupa manusia yang saling merasakan keganasan satu sama lain.

APAKAH INDONESIA TERMASUK YANG DIMAKSUD AYAT INI?

BES kemudian mengajukan pertanyaan mengenai konteks bangsa Indonesia.

Menurutnya, QS Al-An’am 6:65 bukan hanya untuk satu bangsa tertentu, melainkan merupakan peringatan yang dapat menjadi bahan introspeksi bagi bangsa-bangsa yang mengalami perpecahan.

Dalam materi tersebut, BES mengaitkan konsep Yalbisakum Shiya’an dengan sejumlah episode sejarah Indonesia.

1. 1948 DAN 1965 – KONFLIK POLITIK DAN KEKERASAN

Baca juga:  Prabowo dan Eggi Sudjana Dinilai Perlu Kembali Bersinergi, Wacana Masuk Kabinet Kembali Mencuat

BES menyebut peristiwa 1948 dan 1965 sebagai contoh yang menurutnya memperlihatkan konsep ba’sa ba’dhin, yaitu sebagian kelompok merasakan keganasan dari kelompok lainnya.

Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan konflik yang melibatkan PKI dan kelompok-kelompok lain, termasuk umat Islam dan unsur TNI.

BES menyebut peristiwa Madiun 1948 serta rangkaian peristiwa 1965 sebagai bagian dari sejarah konflik ideologi dan politik Indonesia.

Peristiwa 1965 sendiri merupakan bagian penting dari sejarah nasional dan juga telah dikaji dari perspektif pelanggaran HAM. Komnas HAM mencatat berbagai bentuk kekerasan berat pada periode 1965–1966, termasuk pembunuhan, penyiksaan, penganiayaan, penghilangan orang secara paksa dan bentuk pelanggaran lainnya.

BES kemudian mengaitkannya dengan persoalan perpecahan ideologi dan kelompok yang menurutnya dapat membuat bangsa saling berhadapan.

2. DI/TII, PRRI DAN PERMESTA

BES juga menyebut gerakan DI/TII serta PRRI/Permesta sebagai contoh lain dari konflik antara kelompok dan pemerintah.

Dalam kerangka pemikiran BES, berbagai konflik tersebut memperlihatkan bagaimana perbedaan kepentingan dan identitas kelompok dapat berkembang menjadi pertentangan yang lebih luas.

3. ASAS TUNGGAL PANCASILA PADA ERA ORDE BARU

BES kemudian menyinggung kebijakan asas tunggal Pancasila pada era Orde Baru.

Menurut BES, hal tersebut merupakan salah satu bentuk Yalbisakum Shiya’an dalam konteks politik Indonesia.

Ia juga mengaitkannya dengan peristiwa Tanjung Priok 1984, yang menurut BES menjadi salah satu contoh ketika perbedaan sikap politik dan ideologi berkembang menjadi konflik dan kekerasan.

4. KONDISI POLITIK HARI INI

BES kemudian membawa pembahasan tersebut ke kondisi politik kontemporer.

Ia menyebut adanya pertarungan antara partai politik, pendukung calon presiden, buzzer dan kelompok-kelompok yang menurutnya dapat membuat masyarakat terpecah.

Menurut BES, bentuk pertentangan saat ini tidak selalu menggunakan parang dan senapan.

“Dulu parang dan senapan, sekarang fitnah medsos dan laporan hukum,” demikian narasi yang disampaikan BES.

BES kemudian menyebut istilah-istilah politik yang pernah populer untuk menggambarkan polarisasi masyarakat.

Menurutnya, masyarakat dapat diaduk menjadi kelompok-kelompok yang saling berhadapan dan kemudian mengalami “keganasan” dalam bentuk saling melaporkan, saling memfitnah dan saling menjegal.

Bagi BES, kondisi tersebut merupakan bentuk yang perlu diwaspadai dalam memahami pesan QS Al-An’am 6:65.

Baca juga:  Marak Pengolahan Emas Ilegal di Kampung Parigi Cisarua, Bogor: Beroperasi 24 Jam, Buang Limbah Berbahaya ke Sungai

MENGAPA AZAB TERSEBUT TURUN?

BES kemudian mengaitkan pembahasan dengan bagian akhir ayat:

انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

“Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda kekuasaan Kami agar mereka memahami(nya).”

Menurut BES, ayat tersebut mengandung pesan agar manusia yafqahuun, yaitu memahami dan mengambil pelajaran dari berbagai tanda yang telah dijelaskan Allah.

BES mengajak umat untuk mengambil pelajaran dari sejarah konflik bangsa Indonesia agar tidak kembali terjebak dalam pertentangan antargolongan.

Menurut BES, selama manusia lebih membanggakan kelompoknya masing-masing daripada persatuan berdasarkan nilai-nilai agama, maka potensi konflik akan terus muncul.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan momentum 30 September, ketika masyarakat Indonesia kembali mengingat rangkaian peristiwa 1965.

TUGAS KORLABI DAN KADER UMAT ISLAM YANG CBM DALAM KONTEKS QS AL-AN’AM 6:65

Dalam bagian akhir Mutiara Hikmah, BES menyampaikan sejumlah poin yang menurutnya menjadi tugas KORLABI (Komando Pelaporan Bela Islam) dan kader umat Islam yang CBM.

1. JANGAN MENAMBAH SHIYA’AN BARU

Menurut BES, KORLABI bukan untuk menambah perpecahan, melainkan untuk mengembalikan berbagai kelompok kepada satu komando:

Bela Islam, Bela Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan.

“Bukan bela partai dan orang per orang,” tegas BES dalam narasinya.

2. KEMBALI KEPADA NILAI TAUHID

BES kemudian mengaitkan obat dari perpecahan dengan nilai tauhid.

Ia menyebut UUD 1945 asli dan prinsip ketauhidan sebagai bagian dari gagasan yang menurutnya perlu dikembalikan dalam kehidupan berbangsa.

BES menyoroti frasa:

“Atas berkat rahmat Allah”

sebagai bagian dari Pembukaan UUD 1945 yang menurutnya menunjukkan dimensi ketuhanan dalam kehidupan bernegara.

3. 30 SEPTEMBER SEBAGAI MOMENTUM REFLEKSI

BES kemudian mengajak masyarakat menjadikan momentum 30 September sebagai kesempatan untuk mengingat sejarah dan mengambil pelajaran.

Menurutnya, pengalaman konflik masa lalu perlu menjadi peringatan agar masyarakat tidak kembali terpecah dan saling berhadapan karena perbedaan golongan.

BES menutup pembahasannya dengan sebuah pesan:

“Bangsa yang melupakan Allah akan Allah hukum dengan cara diadu domba sesama anak bangsanya sendiri.”

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Eggi Sudjana di Tengah Aksi Petisi 26: Bersihkan Bogor dari Korupsi, Narkoba dan Judi

CIBINONG, MATAPENAINDONESIA.CO.ID – Tokoh nasional dan aktivis senior, Prof....

Mutiara Hikmah, BES: QS An-Nur 24:26 dan Misteri Jodoh Fir’aun, Asiyah serta Nabi Luth

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah, BES: Standar Cinta Allah, Ittiba’ kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah, BES: QS Al-An’am 6:44, Hukum Istidraj dan Kesenangan yang Bisa Menjadi Jebakan

BOGOR | MATA PENA INDONESIA– BISMILLAH, Prof Eggi Sudjana...

Newsletter

Don't miss

Eggi Sudjana di Tengah Aksi Petisi 26: Bersihkan Bogor dari Korupsi, Narkoba dan Judi

CIBINONG, MATAPENAINDONESIA.CO.ID – Tokoh nasional dan aktivis senior, Prof....

Mutiara Hikmah, BES: QS An-Nur 24:26 dan Misteri Jodoh Fir’aun, Asiyah serta Nabi Luth

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah, BES: Standar Cinta Allah, Ittiba’ kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah, BES: QS Al-An’am 6:44, Hukum Istidraj dan Kesenangan yang Bisa Menjadi Jebakan

BOGOR | MATA PENA INDONESIA– BISMILLAH, Prof Eggi Sudjana...

Mutiara Hikmah BES, Jangan Mudah Kafirkan Orang! BES Bedah Makna Berhala dalam QS At-Taubah 24

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES)...

Eggi Sudjana di Tengah Aksi Petisi 26: Bersihkan Bogor dari Korupsi, Narkoba dan Judi

CIBINONG, MATAPENAINDONESIA.CO.ID – Tokoh nasional dan aktivis senior, Prof. Dr. Eggi Sudjana, hadir di tengah persiapan aksi Petisi 26 di Posko Katar Cibinong, Kabupaten...

Mutiara Hikmah, BES: QS An-Nur 24:26 dan Misteri Jodoh Fir’aun, Asiyah serta Nabi Luth

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Senin,...

Mutiara Hikmah, BES: Standar Cinta Allah, Ittiba’ kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Sabtu,...