Prof Eggi Sudjana: Peringatan dan Tanggung Jawab Moral Dalam Kehidupan

MUTIARA HIKMAH – SABTU, 9 MEI 2026

Matapenaindonesia Firman Allah Subhanahu Wa Ta’Alaa

QS. Al-Ma’idah Ayat 62.

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Wa tarā katsīram minhum yusāri‘ūna fil-itsmi wal-‘udwāni wa aklihimus-suḥta, labi’sa māaa ya‘malūn.

Artinya:
“Dan engkau akan melihat banyak di antara mereka berlomba-lomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram (suap atau harta yang tidak benar). Sungguh, sangat buruk apa yang telah mereka kerjakan.”

📚 PENJELASAN AYAT

Ayat ini menggambarkan perilaku sebagian manusia yang terbiasa melakukan perbuatan buruk, berbuat zalim, dan menimbulkan permusuhan, serta berusaha mendapatkan harta dan kedudukan dengan cara yang tidak sah.

Kata “suht” dalam ayat ini mencakup segala bentuk praktik yang tidak benar, seperti suap, uang haram, hasil korupsi, serta harta dan kedudukan yang diperoleh dengan cara yang batil dan tidak bermoral.

Perilaku buruk ini tidak hanya dilakukan, tetapi bahkan dikejar dengan cepat dan dianggap sebagai hal yang biasa, demi kepentingan diri sendiri maupun kelompok.

🌍 PERILAKU TERSEBUT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1. Mencari Keuntungan dengan Cara Haram
Terdapat orang yang sengaja mencari keuntungan dengan cara memfitnah, menyuap, memotong hak orang lain, memanipulasi data, atau mengambil harta yang bukan miliknya. Bahkan, tidak sedikit yang berlomba-lomba mencari “jalan belakang” hanya untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan duniawi.

2. Menggunakan Fitnah dan Permusuhan Sebagai Alat
Seringkali orang menjadikan fitnah dan tuduhan tanpa bukti yang kuat sebagai cara untuk menjatuhkan orang lain. Ketika hal ini dilakukan untuk mendapatkan jabatan atau pengaruh, berarti lingkungan tersebut sedang mengalami kerusakan moral. Orang tidak lagi berlomba dalam kebaikan, melainkan berlomba dalam intrik dan kepentingan pribadi.

3. Penyebaran Hoaks dan Kebencian
Di media sosial, misalnya, banyak orang yang dengan cepat menyebarkan fitnah, kebencian, atau berita bohong hanya demi popularitas, memuaskan hawa nafsu, atau mendapatkan keuntungan pribadi. Padahal, orang yang menyebarkan hal-hal buruk tersebut belum tentu memiliki akhlak yang lebih baik.

Baca juga:  Advokat Ahmad Muhibullah, S.H. Kecam KPK: "Jangan Ada Perlakuan Istimewa untuk Tersangka Korupsi, Netizen Sudah Geram!

🌱 Hikmah:
Kecepatan seseorang dalam melakukan perbuatan buruk bukanlah tanda kecerdasan, melainkan tanda bahwa hati telah rusak, iman telah lemah, dan moral telah rapuh. Allah SWT memberikan peringatan yang tegas kepada siapa saja yang berlomba-lomba dalam berbuat dosa dan permusuhan.

Ayat ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang menganggap suap sebagai hal biasa, kebohongan sebagai strategi, fitnah sebagai senjata, dan kezaliman sebagai jalan menuju kekuasaan. Perilaku semacam ini akan menyebabkan kerusakan moral yang berkelanjutan, di mana orang akan saling bertikai dan akhirnya kehancuran, kecuali mereka yang menjauhi cara-cara buruk tersebut.

Ayat ini berlaku sepanjang zaman. Siapa pun yang gemar berbuat zalim, mendapatkan kedudukan dengan cara yang tidak benar, dan memakan harta haram, termasuk dalam kelompok yang mendapat peringatan ini.

✨ Hikmah yang Bisa Dipetik:

– Jangan menjadi orang yang sombong, merasa paling benar atau paling hebat

– Tetaplah rendah hati, layaknya butiran padi yang semakin berisi semakin menunduk

– Jangan membiasakan dosa kecil, karena lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang besar

– Harta haram dan kedudukan yang diperoleh secara zalim tidak akan membawa keberkahan dalam hidup

– Seorang mukmin seharusnya berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kezaliman

Lingkungan yang membiarkan perbuatan buruk akan mengalami kerusakan secara bertahap: kebohongan menjadi sulit dibedakan dengan kejujuran, tokoh teladan hilang, tujuan hidup menjadi kabur, serta tumbuh keraguan dan ketidakpercayaan antar sesama.

📖 LANJUTAN: QS. AL-MA’IDAH AYAT 63

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Baca juga:  Prof Eggi Sudjana: Kekuatan Iman, Kesehatan Hati, dan Teguh Prinsip

Laulā yanhāhumur-rabbāniyyūna wal-aḥbāru ‘an qaulihimul-itsma wa aklihimus-suḥta, labi’sa mā kānū ya‘malūn.

Artinya:
“Mengapa para ulama dan pemuka agama mereka tidak melarang mereka dari perkataan dosa dan dari memakan harta haram? Sungguh sangat buruk apa yang telah mereka perbuat.”

⚖️ PENJELASAN AYAT INI

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, yang menegur para tokoh agama, ulama, pemimpin moral, dan orang-orang yang berilmu, karena membiarkan perbuatan buruk terjadi tanpa berusaha mencegahnya.

Tidak hanya pelaku kejahatan yang bertanggung jawab, tetapi juga orang yang mengetahui kebenaran namun tetap diam di saat terjadinya kemungkaran, memiliki tanggung jawab moral yang besar.

Kata “rabbāniyyūn” merujuk kepada orang-orang alim yang membina masyarakat dengan ilmu dan akhlak, sedangkan “ahbār” merujuk kepada para ulama dan pemuka agama.

Mereka ditegur karena:

1. Tidak memberikan nasihat yang baik kepada masyarakat

2. Membiarkan perbuatan korupsi dan ketidakadilan terjadi

3. Diam di saat orang lain berbohong

4. Tidak berusaha mencegah penyimpangan yang terjadi di depan mata

Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu yang dimiliki seseorang harus melahirkan keberanian moral. Orang yang berilmu tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi juga harus hadir untuk menjaga nilai-nilai kebenaran di tengah masyarakat.

🏢 CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1. Dalam Lingkungan Kerja
Jika seorang atasan mengetahui adanya ketidakadilan, fitnah, atau tuduhan tanpa bukti terhadap bawahannya, namun memilih diam atau berpihak pada kelompok yang lebih banyak, maka sikap tersebut turut memperbesar kerusakan. Kebenaran tidak diukur dari banyaknya orang yang mendukung, melainkan dari seberapa kuat bukti yang dimiliki. Sikap diam di saat terjadinya keburukan sama berbahayanya dengan melakukan keburukan itu sendiri.

2. Dalam Keluarga
Orang tua yang membiarkan anaknya terbiasa berkata kasar, berbohong, atau mengambil hak orang lain tanpa memberikan arahan dan pengajaran yang baik, akan melihat kebiasaan buruk itu tumbuh menjadi hal yang besar seiring berjalannya waktu. Pendidikan akhlak dan pemberian nasihat adalah bentuk tanggung jawab moral yang tidak boleh diabaikan.

3. Dalam Kehidupan Sosial dan Media
Ketika masyarakat mengetahui adanya fitnah, berita bohong, atau ketidakadilan, namun semua memilih diam karena takut, maka perbuatan buruk tersebut akan dianggap sebagai hal yang wajar dan semakin meluas. Seringkali kerusakan besar terjadi bukan karena banyaknya orang yang berbuat jahat, melainkan karena orang-orang yang berbuat baik kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran.

Baca juga:  CV Pustaka Teknik Tegaskan Tidak Terlibat dalam Dugaan Makelar Proyek Jalan KM 5 Mentawai

🌟 Hikmah yang Bisa Dipetik:

– Orang yang berilmu memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar

– Diam di saat terjadinya keburukan dapat menjadi kesalahan yang serius

– Pemberian nasihat yang baik adalah bentuk kepedulian, bukan kebencian

– Masyarakat akan mengalami kerusakan jika para pemimpin moral kehilangan keberanian untuk berbuat benar

– Ilmu yang sejati harus melahirkan akhlak yang baik dan keberpihakan kepada kebenaran

🌙 PROGRAM HIDUP MUSLIM: ASI

Di tengah kondisi moral yang semakin menurun, seorang Muslim wajib memiliki program hidup yang dapat menjadi penjagaan iman dan akhlak, yaitu program ASI:

📖 A = Al-Qur’an → Membaca, memahami, merenungkan, dan mengamalkan wahyu Allah SWT.
🕌 S = Shalat → Menjaga hubungan yang baik dengan Allah melalui shalat yang khusyuk dan dilakukan secara terus-menerus.
🤲 I = Infaq → Membersihkan harta dan membantu sesama dengan perasaan yang tulus dan ikhlas.

Dengan mengamalkan program ASI ini, hati akan menjadi hidup, akhlak akan tetap terjaga, dan kita akan lebih kuat dalam menghadapi segala bentuk fitnah, kezaliman, serta kerusakan moral di sekitar kita.

Salam Ta’zim dan Jihad – Brother Eggi Sudjana (BES)
Editor: Agusto Sulistio

Latest

Resmi Dilepas Menuju Tanah Suci, 439 Calon Jamaah Haji Kloter 14 Asal Kabupaten Bogor

CIBINONG, MPI - Pemerintah Kabupaten Bogor melepas sebanyak 439 calon jamaah...

PIPA PDAM “MENJAJAH” TANAH WARISAN! Supriadi Jerit: Lahan Produktif Berubah Jadi Kubangan Lumpur Akibat Luapan

SINGKAWANG, MPI - Kebijakan dan tata kelola infrastruktur yang dinilai...

Walikota Bogor Ajak Warga Sambut dan Meriahkan Kirab Budaya Bogor Rangkaian Milangkala Tatar Sunda

KOTA BOGOR, MPI - Walikota Bogor, Dedi A. Rachim, menyampaikan ajakan...

Prof Eggi Sudjana: Kekuatan Iman, Kesehatan Hati, dan Teguh Prinsip

Mutiara Hikmah - Jumat, 8 Mei 2026Matapenaindonesia - Allah...

Newsletter

Don't miss

Resmi Dilepas Menuju Tanah Suci, 439 Calon Jamaah Haji Kloter 14 Asal Kabupaten Bogor

CIBINONG, MPI - Pemerintah Kabupaten Bogor melepas sebanyak 439 calon jamaah...

PIPA PDAM “MENJAJAH” TANAH WARISAN! Supriadi Jerit: Lahan Produktif Berubah Jadi Kubangan Lumpur Akibat Luapan

SINGKAWANG, MPI - Kebijakan dan tata kelola infrastruktur yang dinilai...

Walikota Bogor Ajak Warga Sambut dan Meriahkan Kirab Budaya Bogor Rangkaian Milangkala Tatar Sunda

KOTA BOGOR, MPI - Walikota Bogor, Dedi A. Rachim, menyampaikan ajakan...

Prof Eggi Sudjana: Kekuatan Iman, Kesehatan Hati, dan Teguh Prinsip

Mutiara Hikmah - Jumat, 8 Mei 2026Matapenaindonesia - Allah...

Momentum May Day, Bupati Bogor Apresiasi Peran Buruh Jaga Kondusivitas dan Perkuat Sinergi

CIBINONG, MPI - Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyampaikan apresiasi kepada...

Resmi Dilepas Menuju Tanah Suci, 439 Calon Jamaah Haji Kloter 14 Asal Kabupaten Bogor

CIBINONG, MPI - Pemerintah Kabupaten Bogor melepas sebanyak 439 calon jamaah haji Kloter 14 JKS asal Kabupaten Bogor Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi di Gedung Tegar Beriman,...

PIPA PDAM “MENJAJAH” TANAH WARISAN! Supriadi Jerit: Lahan Produktif Berubah Jadi Kubangan Lumpur Akibat Luapan

SINGKAWANG, MPI - Kebijakan dan tata kelola infrastruktur yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, nasib menyedihkan menimpa Supriadi, warga...

Walikota Bogor Ajak Warga Sambut dan Meriahkan Kirab Budaya Bogor Rangkaian Milangkala Tatar Sunda

KOTA BOGOR, MPI - Walikota Bogor, Dedi A. Rachim, menyampaikan ajakan resmi kepada seluruh masyarakat Kota Bogor untuk turut hadir, menyaksikan, dan memeriahkan Kirab Budaya Bogor...