BOGOR | MATA PENA INDONESIA— Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), dalam pesan Mutiara Hikmah Jumat, 9 Oktober 2026, mengangkat tema “QS Ali Imran 102 dan Al-Maidah 54: Takwa Haqqa Tuqatihi dan 5 Ciri Kaum Pengganti yang Dicintai Allah.”
Dalam uraiannya, Eggi Sudjana menekankan pentingnya memahami makna takwa yang sebenarnya sebagaimana terkandung dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS Ali ‘Imran ayat 102. Menurutnya, pesan ayat tersebut perlu dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dibaca tanpa memahami kandungan moralnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 102).
Eggi Sudjana mengingatkan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan kewajiban khatib dalam khutbah Jumat. Ia mengajak umat Islam memahami pesan moral di balik perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa atau Haqqa Tuqatihi.
“Bagaimana takwa yang sebenarnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?” menjadi pertanyaan mendasar yang diangkat dalam Mutiara Hikmah kali ini.
Menurut Eggi, Al-Qur’an perlu dijelaskan melalui Al-Qur’an itu sendiri dengan metodologi Tadabburi Al-Qur’an bil Qur’an, yakni memahami ayat secara fungsional sebagai petunjuk (Huda), penjelas (Bayyinah), dan pembeda (Furqan), sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 185.
Untuk menjelaskan makna takwa tersebut, Eggi kemudian menghubungkannya dengan QS. Al-Ma’idah ayat 54.
QS. Al-Ma’idah Ayat 54: Lima Ciri Kaum yang Dicintai Allah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54).
Berdasarkan ayat tersebut, Eggi menguraikan lima ciri yang menurutnya menjadi petunjuk, penjelas, sekaligus pembeda bagi orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah.
1. Allah Mencintai Mereka dan Mereka Mencintai Allah
Ciri pertama adalah Yuhibbuhum wa Yuhibbunahu, yang berarti Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah.
Menurut Eggi, cinta kepada Allah merupakan fondasi utama dalam mewujudkan Haqqa Tuqatihi atau sebenar-benar takwa. Cinta tersebut harus dibuktikan melalui tindakan nyata, kesediaan berkorban, serta kerinduan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ia menegaskan bahwa cinta kepada Allah tidak cukup berhenti pada ucapan, tetapi harus terlihat dalam perbuatan dan sikap hidup sehari-hari.
Eggi juga mengaitkan prinsip ini dengan pembahasan sebelumnya mengenai Power Buta dalam QS. Al-Anfal ayat 19. Kekuatan, menurut uraian tersebut, harus berlandaskan tauhid dan kecintaan kepada Allah.
2. Bersikap Lemah Lembut terhadap Sesama Mukmin
Ciri kedua adalah Azillah ‘alal Mukminin, yakni bersikap rendah hati, lemah lembut, dan penuh kasih sayang terhadap sesama orang beriman.
Eggi menekankan bahwa takwa yang benar tidak semestinya melahirkan permusuhan di antara sesama Muslim hanya karena perbedaan pendapat.
Ia menyoroti sikap saling menjauhkan, memutus komunikasi, memblokir WhatsApp, hingga mengucilkan kawan sebagai perilaku yang perlu direnungkan kembali.
Menurutnya, sifat azillah mengajarkan kerendahan hati, kelembutan, dan kasih sayang. Ia juga menghubungkannya dengan konsep Bunyanun Marsusun, yakni bangunan yang kokoh dan saling menguatkan, sebagaimana dibahas dalam QS. As-Saff.
3. Bersikap Tegas terhadap Kekafiran dan Kezaliman
Ciri ketiga adalah A’izzah ‘alal Kafirin, yang dalam uraian Eggi dimaknai sebagai sikap tegas dan berwibawa dalam menghadapi kekafiran serta berbagai bentuk kezaliman.
Eggi mengaitkan prinsip tersebut dengan persoalan oligarki, korupsi, dan penjajahan. Ia menekankan pentingnya sikap tegas dalam menghadapi ketidakadilan serta menolak perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.
Menurut Eggi, persoalan yang perlu menjadi bahan introspeksi adalah ketika seseorang justru bersikap keras kepada sesama Muslim, tetapi terlalu lunak terhadap tindakan yang dinilainya bertentangan dengan prinsip keadilan.
Ia mengajak umat Islam mengevaluasi sikap dan keberpihakan agar tidak kehilangan prinsip dalam memperjuangkan kebenaran.
4. Berjihad di Jalan Allah
Ciri keempat adalah Yujahiduna fi Sabilillah, yaitu berjihad di jalan Allah.
Dalam penjelasannya, Eggi menghubungkan jihad dengan perjuangan melalui berbagai bentuk kebaikan, termasuk jihad harta melalui infak, jihad melawan hawa nafsu dengan menahan amarah, serta memaafkan orang lain.
Ia juga menekankan perjuangan melawan kezaliman dan korupsi sebagai bagian dari pesan moral yang diangkat dalam pembahasannya.
Dalam konteks tersebut, Eggi menyebut KORLABI, kependekan dari Komando Pelaporan Bela Islam, sebagai salah satu bentuk perjuangan yang dikaitkannya dengan pembelaan terhadap Islam.
Pesan yang ditekankan adalah bahwa takwa harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui pernyataan atau simbol identitas.
5. Tidak Takut terhadap Celaan Orang yang Mencela
Ciri kelima adalah Wa La Yakhafuna Laumata La’im, yakni tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela.
Eggi menempatkan ciri kelima ini sebagai salah satu poin penting dalam Mutiara Hikmah Jumat tersebut.
Menurutnya, takwa yang sesungguhnya melahirkan keberanian untuk mempertahankan prinsip, meskipun seseorang menghadapi kritik, stigma, atau pengucilan.
Ia mencontohkan berbagai situasi ketika perjuangan melawan oligarki disebut radikal, pembelaan terhadap Palestina dikaitkan dengan stigma teroris, kritik terhadap Mahkamah Konstitusi dipersepsikan sebagai makar, atau dakwah antikorupsi dianggap sebagai sikap oposisi.
Dalam uraian tersebut, berbagai bentuk celaan itu dikaitkan dengan frasa Laumata La’im dalam QS. Al-Ma’idah ayat 54.
Eggi menegaskan bahwa orang yang berpegang pada prinsip kebenaran tidak seharusnya menjadikan celaan manusia sebagai alasan untuk meninggalkan keyakinan dan perjuangan yang diyakininya benar.
Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak takut dikucilkan, dicap radikal, atau dijauhi oleh lingkungan pergaulan ketika mempertahankan prinsip.
Namun, pesan tersebut juga mengajak umat untuk terus melakukan introspeksi terhadap keyakinan, sikap, dan tindakan masing-masing berdasarkan ajaran Al-Qur’an.
Dalam penekanannya, Eggi menyatakan bahwa apabila lima ciri tersebut tidak menjadi pegangan hidup, maka substansi keislaman seseorang patut dipertanyakan. Ia mengaitkan hal itu dengan peringatan mengenai kemurtadan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 54.
Pernyataan tersebut merupakan penekanan Eggi dalam menafsirkan pesan moral ayat, yang mengajak umat Islam mengukur keimanan melalui perilaku dan komitmen terhadap ajaran agama, bukan semata-mata identitas administratif.
Rangkaian Mutiara Hikmah Senin hingga Jumat
Eggi juga menyusun pembahasan Jumat ini sebagai puncak rangkaian Mutiara Hikmah yang disampaikan sejak Senin hingga Kamis.
Menurutnya, setiap ayat yang dibahas memiliki keterkaitan dalam menjelaskan karakter orang bertakwa.
Senin, QS. Al-Anfal ayat 19 — Power Allah dan Fath.
Pembahasan menekankan bahwa kekuatan dan kemenangan tidak cukup hanya diukur dari besarnya kekuasaan, tetapi harus dikaitkan dengan tauhid dan pertolongan Allah.
Selasa, QS. Ali ‘Imran ayat 133–134 — Tiga karakter muttaqin.
Eggi mengangkat tiga karakter orang bertakwa, yakni berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan orang lain.
Nilai-nilai tersebut dikaitkan dengan karakter Azillah ‘alal Mukminin, yaitu kelembutan dan kasih sayang terhadap sesama orang beriman.
Rabu, QS. As-Saff ayat 1–4 — Antara ucapan dan perbuatan.
Pembahasan menyoroti pentingnya keselarasan antara perkataan dan tindakan serta konsep Bunyanun Marsusun, yakni bangunan kokoh yang saling menguatkan.
Pesan ini mengingatkan agar seseorang tidak hanya menyampaikan janji atau pernyataan, tetapi juga membuktikannya melalui perbuatan nyata.
Kamis, QS. Hud ayat 3 — Istighfar dan kehidupan yang baik.
Eggi mengangkat istighfar sebagai upaya memohon ampun kepada Allah dan menjauhi azab. Ia juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan pentingnya keturunan yang saleh dalam kehidupan manusia.
Jumat, QS. Ali ‘Imran ayat 102 dan QS. Al-Ma’idah ayat 54 — Puncak pembahasan takwa.
Pada Jumat ini, Eggi menyatukan pembahasan sebelumnya melalui konsep Haqqa Tuqatihi dan lima ciri kaum yang dicintai Allah.
Menurutnya, kelima ciri tersebut perlu dijadikan dasar pegangan hidup dan ideologi seorang Muslim agar keimanan tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan dalam sikap dan tindakan.
Takwa Harus Menjadi Pegangan Hidup
Melalui Mutiara Hikmah ini, Eggi Sudjana mengajak umat Islam untuk memahami perintah bertakwa sebagai komitmen sepanjang kehidupan.
Pesan Wa La Tamutunna Illa wa Antum Muslimun dalam QS. Ali ‘Imran ayat 102 mengingatkan umat agar senantiasa menjaga keislaman hingga akhir hayat.
Sementara itu, QS. Al-Ma’idah ayat 54 memberikan gambaran mengenai karakter kaum yang dicintai Allah, yaitu mencintai dan dicintai-Nya, bersikap lembut terhadap sesama mukmin, tegas menghadapi kekafiran dan kezaliman, berjihad di jalan Allah, serta tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.
Eggi menekankan bahwa lima ciri tersebut bukan sekadar bahan bacaan, melainkan harus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ia mengajak umat agar tidak menjadikan stigma atau penilaian manusia sebagai penghalang dalam mempertahankan prinsip, sembari terus mengevaluasi perilaku dan memperkuat komitmen terhadap ajaran Al-Qur’an.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada bagian akhir QS. Al-Ma’idah ayat 54:
ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya:
“Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
Eggi menutup pesan Mutiara Hikmah tersebut dengan mengingatkan bahwa menjadi bagian dari kaum yang dicintai Allah merupakan karunia besar yang harus disyukuri dan diperjuangkan melalui keimanan serta amal nyata.
Wallahu A’lam.
Salam Jihad dan Sabar.
Brother Eggi Sudjana (BES)




