BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si. atau Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan Mutiara Hikmah melalui tadabbur Al-Qur’an. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, BES mengulas QS. As-Saff ayat 1-4 yang menurutnya menjadi “Peta Anti Hipokrit dan Peta Bangunan Kokoh”, sekaligus sangat relevan dengan realita yang ia lihat saat ini.
Dalam renungannya, BES menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “OMON – OMON”, yakni kondisi ketika seseorang atau pihak tertentu banyak berbicara seolah-olah melakukan sesuatu, tetapi fakta atau tindakannya dinilai berbeda dari apa yang disampaikan.
BES membuka Mutiara Hikmahnya dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 1).
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. As-Saff 61: Ayat 2).
Selanjutnya:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
“(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 3).
Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَا تِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَ نَّهُمْ بُنْيَا نٌ مَّرْصُوْصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 4).
BES: Banyak yang “OMON2”, Faktanya Berbeda
Menurut BES, empat ayat dari Surah As-Saff tersebut menjelaskan adanya orang yang seringnya OMON – OMON atau bicaranya seolah-olah, karena fakta yang terjadi berbeda dari yang diomongkannya atau Ngomong doang.
“Bahwa 4 Ayat dari Surah As-Saff tersebut menjelaskan ada nya orang yang seringnya OMON2 saja atau bicaranya Seolah – Olah, karena Faktanya yang terjadi berbeda dari yang di omongkan nya,” kata BES.
Ia kemudian memberikan sejumlah contoh yang menurutnya menjadi gambaran fenomena tersebut, antara lain kasus korupsi, persoalan Pertamina, PLN, kehutanan, pagar laut, batu bara, hingga perkara yang berkaitan dengan mantan Jampidsus.
“Contoh nya banyak kasus Koropsi, antara lain 300 T dari pertamina, PLN yang merugi terus, Kasus Kehutanan banyak lahan kawasan hutan yang Rubah Fungsi, kasus pagar Laut, berbagai batu bara, kasus KM Jampidsus 74 Kg Emas dan hampir 500 Milyard uang ada di temukan di Rumah mantan Jampidus,” ujar BES.
Menurutnya, hal tersebut merupakan apa yang ia sebut sebagai predikat crime, dan ia juga menyinggung putusan MK pada malam sebelumnya.
“Ini yang merupakan predikat crime nya, terakhir putusan MK semalam, semua kasus2 tersebut dan masih banyak lagi belum disebutkan,” tegasnya.
BES mempertanyakan adanya kesan penegakan hukum yang menurutnya hanya tampak di permukaan tetapi tidak sampai pada penyelesaian akhir.
“SE-OLAH2 ADA PERISTIWA PENEGAKAN HUKUM YANG BENAR TAPI FAKTANYA TAK ADA PENYELESAIAN / FINALISASI nya tak ada bahkan hilang begitu saja,” katanya.
Soroti Demokrasi: “Beda Pendapat Saja Lalu Diusir”
Tidak hanya soal penegakan hukum, BES juga mengkritik praktik demokrasi yang menurutnya masih menyisakan persoalan.
Ia menilai NKRI menerapkan demokrasi, namun dalam praktiknya menurut BES justru terdapat kondisi yang seolah-olah tidak mencerminkan demokrasi.
“Termasuk NKRI ini Terapkan Demokrasi tapi semua se-olah2 tak ada demokrasi itu sendiri hatta di kalangan sendiri yang kecil dan teemrbatas tak ada demokrasi, beda pendapat saja lalu di usir / di jauhkan tak pernah di sapa lagi, wa dan telp tak Direspone,” ungkapnya.
BES menyebut kondisi tersebut sebagai “HIPOKRIT TERSELUBUNG”.
“Ketahuilah itu subtansi terjadi HIPOKRIT TERSELUBUNG, NGERI AKBAT nya karena DIBENCI ALLAH!” tegas BES.
QS As-Saff 61:1-4 Disebut “Peta Anti Hipokrit”
Dalam ulasannya, BES kemudian membedah QS As-Saff ayat 1-4 dengan tema:
“QS AS-SAFF 61: AYAT 1-4 – DARI TASBIH ALAM SEMESTA KE BENCI NYA ALLAH KEPADA OMON2.”
Menurut BES, empat ayat berurutan tersebut merupakan “PETA ANTI HIPOKRIT & PETA BANGUNAN KOKOH” dan sangat relevan dengan realita yang ia lihat hari ini.
Ayat 1: Alam Semesta Tidak “OMON – OMON”
BES mengutip:
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
“Apa yang di langit dan bumi bertasbih kepada Allah.”
Menurut BES, sebelum Allah menegur manusia, Allah memberikan contoh terlebih dahulu melalui alam semesta.
“Sebelum Allah tegur manusia, Allah kasih contoh dulu: Alam semesta itu KONSISTEN. Tidak OMON – OMON.”
Ia menggambarkan konsistensi tersebut melalui langit, bumi dan matahari.
“Langit bertasbih dengan tetap di atas, tidak jatuh. Bumi bertasbih dengan tetap berputar, tidak mogok. Matahari bertasbih dengan tetap terbit, tidak korupsi cahaya. Mereka berkata dan mereka kerjakan. Qauluhu = Fi’luhu.”
BES kemudian menyoroti bagian akhir ayat, yaitu:
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Menurutnya, Allah memperkenalkan diri sebagai Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
“Maha Perkasa untuk menghukum yang OMON2, Bijaksana untuk melihat siapa yang konsisten,” ujarnya.
Ayat 2-3: OMON – OMON dan Hipokrit Terselubung
BES kemudian masuk pada QS As-Saff ayat 2-3:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ – كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ
“Wahai orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Menurut BES, ayat tersebut menggambarkan teguran yang sangat keras.
“Ini puncak kemurkaan Allah. Kata مَقْتًا bukan sekadar benci, tapi benci yang sangat dalam, jijik, murka. Lebih berat dari dosa biasa,” jelasnya.
BES kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan istilah yang ia gunakan, yaitu “OMON – OMON” – Se-olah Olah.”
Ia mencontohkan:
Seolah – olah berantas korupsi — 300 T Pertamina disebut, PLN rugi terus, hutan rubah fungsi, pagar laut, batubara, 74 Kg emas & hampir 500 M di rumah mantan Jampidsus — Se-olah2 ada penegakan hukum tapi tak ada finalisasi, hilang begitu saja. OMON2.
Se-olah2 Demokrasi — NKRI bilang demokrasi, tapi beda pendapat saja langsung diusir, dijauhkan, WA tak direspon, telp tak dijawab. Bahkan di kalangan kecil terbatas tidak ada demokrasi. OMON2.
Se-olah2 MK putus keadilan semalam — tapi rakyat lihat putusan seperti pesanan. Se-olah2 hukum, tapi faktanya bukan hukum.
Se-olah2 NKRI — tapi tambang dikuasai segelintir, laut dipagar.
BES menilai fenomena tersebut dapat menghancurkan kepercayaan umat.
“Allah benci level KABUR karena OMON2 ini menghancurkan kepercayaan umat. Langit dan bumi saja tidak OMON2, masa manusia yang beriman OMON2?” katanya.
Ia kembali menegaskan istilah yang digunakan dalam renungannya.
“Ini yang BES sebut HIPOKRIT TERSELUBUNG – NGERI AKIBATNYA KARENA DIBENCI ALLAH! Dibenci Allah = tidak akan ditolong, walaupun pasukannya banyak وَلَوْ كَثُرَتْ (QS 8:19 Senin lalu) di pastikan HANCUR / KALAH,” tegas BES.
Ayat 4: Solusi Allah, “BUNYANUN MARSUS”
Setelah mengkritik fenomena OMON2, BES kemudian menjelaskan QS As-Saff ayat 4 sebagai solusi.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan teratur, seakan-akan seperti bangunan yang tersusun kokoh.”
Menurut BES, setelah Allah menegur orang yang hanya berbicara tanpa melakukan, Allah memberikan solusi berupa bangunan kokoh yang tersusun.
“Setelah Allah tegur yang OMON2, Allah kasih solusi: Jangan seperti buih yang berceceran, jadilah BUNYANUN MARSUSUN – Bangunan Kokoh yang tersusun.”
BES kemudian menjelaskan sifat Bunyanun Marsusun dalam empat poin.
1. Shaf teratur
“Tidak saling menjatuhkan, tidak usir-mengusir karena beda pendapat. Kalau ada yang beda, dirangkul dalam shaf, bukan dibuang.”
2. Saling mengunci
“Seperti bata, satu dan lain saling kuatkan. Bukan saling tikung kasus 300T.”
3. Qaul = Fi’il
“Berkata akan berantas korupsi, ya berantas sampai finalisasi, bukan hilang.”
4. Di jalan Allah, bukan jalan perut
“Yuqatiluna fi Sabilillah, bukan fi Sabili harta 500 M dan atau Triliyunan.”
BES Kaitkan dengan KORLABI
Dalam bagian berikutnya, BES mengaitkan konsep Bunyanun Marsusun dengan gerakan yang ia sebut KORLABI (Komando Pelaporan Bela Islam).
“Inilah KORLABI [ Komando Pelaporan Bela Islam ] yang DHL dan BES bangun! KORLABI adalah upaya Bunyanun Marsusun – RABITHU – tetap siaga di perbatasan keadilan, tidak OMON2, tidak hipokrit terselubung,” kata BES.
“Jangan Bilang Demokrasi Kalau Anti Kritik”
BES kemudian merumuskan konstruksi tadabbur Al-Qur’an untuk Rabu, 7 Oktober 2026:
Tasbih Alam (Ayat 1) → Teguran OMON2 yang Dibenci Allah (Ayat 2-3) → Solusi Barisan Kokoh (Ayat 4).
Menurutnya, pesan utama dari rangkaian ayat tersebut adalah bahwa jika seseorang ingin dicintai Allah atau Yuhibbu, maka harus meninggalkan perilaku yang mengundang Maqtan, yaitu sesuatu yang sangat dibenci Allah.
“Artinya: Jika ingin dicintai Allah (Yuhibbu), maka lawan dari dibenci Allah (Maqtan) adalah Tinggalkan OMON2, jadilah bangunan kokoh yang perkataan sama dengan perbuatan.”
BES kemudian menyampaikan tiga penegasan:
“Jangan bilang demokrasi kalau anti kritik.”
“Jangan bilang berantas korupsi kalau kasus hilang.”
“Jangan bilang penegakan hukum kalau PUTUSAN MK pada Selasa Tgl 6 Oktober 2026 malam, jadi bahan tertawaan.”
Di bagian akhir, BES memberikan pesan yang menurutnya sederhana tetapi menjadi inti dari tadabbur QS As-Saff ayat 1-4.
“Simple: Selesaikan kasus yang BES sebut sampai final, jangan seolah – olah. Karena Allah melihat, dan Allah sangat benci OMON2.”
Wallahu A’lam.
Salam Jihad dan Sabar,
Brother Eggi Sudjana (BES)




