Mutiara Hikmah BES: 950 Tahun Dakwah Nabi Nuh Tak Digubris, Eggi Sudjana Ungkap 7 Daya Halang Hidayah

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah Sabtu, 7 November 2026, mengangkat pelajaran mendalam dari perjuangan dakwah Nabi Nuh AS yang berlangsung selama 950 tahun. Meski menyeru kaumnya siang dan malam, dakwah tersebut justru mendapat penolakan, bahkan dari anggota keluarganya sendiri.

Melalui QS. Nuh ayat 5–7, Eggi Sudjana menguraikan fenomena penolakan terhadap kebenaran yang menurutnya tidak hanya terjadi pada zaman Nabi Nuh AS, tetapi juga memiliki relevansi dengan kehidupan manusia saat ini.

Dalam kajian tersebut, BES mengidentifikasi tujuh daya halang yang menyebabkan manusia menjauh dari hidayah Allah SWT, yakni Firara (lari dari kebenaran), menutup telinga, menutup pandangan, tetap mengingkari, kesombongan, Hubbud Dunya (cinta dunia), serta pengaruh Qarin buruk dan bisikan Iblis.

QS. Nuh Ayat 5–7: Dakwah Siang dan Malam yang Menghadapi Penolakan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

QS. Nuh ayat 5

قَا لَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَا رًا

“Dia (Nuh) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.'”

QS. Nuh ayat 6

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِيْۤ اِلَّا فِرَا رًا

“Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).”

QS. Nuh ayat 7

وَاِ نِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْۤا اَصَا بِعَهُمْ فِيْۤ اٰذَا نِهِمْ وَا سْتَغْشَوْا ثِيَا بَهُمْ وَاَ صَرُّوْا وَا سْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَا رًا

“Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.”

BES menjelaskan bahwa betapa dahsyat dakwah Nabi Nuh AS yang berlangsung selama 950 tahun, tetapi tidak didengar dan diingkari, bahkan oleh anaknya, Kan’an, juga istrinya. Namun, Nabi Nuh tetap meminta kepada Allah agar mengampuni mereka.

Pertanyaan serius yang kemudian diajukan adalah: apa daya halang yang menyebabkan mereka mengingkari dakwah Nabi Nuh, bahkan keluarganya sendiri menentang?

Lebih jauh, bagaimana dengan dimensi kehidupan manusia hari ini? Apakah daya halang tersebut masih sama meskipun peristiwa itu telah terjadi ribuan tahun lalu?

Menurut uraian BES, jumlah manusia dunia saat ini kurang lebih mencapai 8 miliar jiwa, sementara yang tercatat sebagai Muslim hampir 2 miliar manusia di seluruh dunia. Sebelumnya sudah diutus 25 nabi beserta para pengikutnya. Bagi BES, hal tersebut menjadi fakta, data, dan kesaksian bahwa hidayah Allah itu mahal dan tidak diberikan secara sembarangan.

Belum lagi, menurut kajian tersebut, dari 2 miliar Muslim masih terdapat mereka yang munafik, fasik, zalim, riya, sum’ah, ujub serta mutadz. Bagaimana tadaburinya?

Mentadaburi QS. Nuh Ayat 5–7

BES mengajak umat Islam mentadaburi tiga ayat tersebut melalui bacaan:

QALA RABBI INNI DA’AUTU QAUMI LAILAN WA NAHARA – FALAM YAZIDHUM DU’A’I ILLA FIRARA – WA INNI KULLAMA DA’AUTUHUM LITAGHFIRA LAHUM JA’ALU ASHABI’AHUM FI ADZANIHIM WASTAGHSYAU TSIYABAHUM WA ASHARRU WASTAKBARU ISTIKBARA.

Artinya:

Dia Nuh berkata, “Ya Tuhanku, aku telah menyeru kaumku siang dan malam. Tetapi seruanku tidak menambah iman mereka, justru mereka lari dari kebenaran. Dan aku setiap kali menyeru mereka untuk beriman agar Engkau ampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinga dan menutup baju ke wajah, serta tetap mengingkari dan sangat menyombongkan diri.”

BES kembali menegaskan betapa dahsyat dakwah Nabi Nuh AS selama 950 tahun. Namun, dakwah itu tetap diingkari, bahkan oleh anaknya, Kan’an, dan istrinya. Meski demikian, Nabi Nuh tetap meminta Allah mengampuni mereka.

Pertanyaan yang kemudian menjadi pokok pembahasan adalah: apa daya halang yang membuat manusia mengingkari dakwah Nabi Nuh, bahkan keluarganya sendiri menentang? Dan bagaimana dengan dimensi kehidupan manusia hari ini?

Tujuh Lapisan Tadabur: Dari Al-Qur’an hingga Dimensi Kehidupan Hari Ini

Dalam kajian Mutiara Hikmah Sabtu, 7 November 2026, BES mengajak membedah persoalan tersebut melalui tujuh lapisan pembahasan, yaitu Qur’an bil Qur’an, Sirah Nuh, Filosofis, Historis, Sosiologis, Psikologis, dan Dimensi Hari Ini.

Pembahasan tersebut menghubungkan 8 miliar manusia, 2 miliar Muslim, serta berbagai sifat yang menurut penulis menjadi penghalang seseorang menerima hidayah.

Tiga Ayat Dahsyat: Lailan Wa Nahara, Firara, dan Istikbara

Ayat 5: Qala Rabbi Inni Da’autu Qaumi Lailan Wa Nahara

Nuh berkata, “Ya Tuhanku, aku telah menyeru kaumku siang dan malam.”

Da’autu berarti aku menyeru, Qaumi berarti kaumku, sedangkan Lailan Wa Nahara berarti siang dan malam. Bukan hanya pagi, bukan hanya sore, melainkan terus-menerus siang dan malam selama 950 tahun.

BES menghubungkan ketekunan dakwah tersebut dengan perjalanan perjuangannya sendiri selama 40 tahun, LDK, HMI 1979, LMD Salman ITB awal 80-an, Bang Imad, HMI MPO 86–88, KORLABI, serta Mutiara Hikmah selama 11 hari.

Semua itu digambarkan sebagai Lailan Wa Nahara, siang dan malam dalam berdakwah.

BES juga menghubungkannya dengan peristiwa Tabuk dan perintah Infiru, yakni berangkat siang dan malam; peristiwa Hudaibiyah; mimpi Ru’ya Bil Haqq; serta Ali Imran, Wa Antum Tutla Alaikom Ayatullah Wa Fikum Rasuluh, yakni ayat Allah dibacakan dan Rasul berada di tengah-tengah umat.

Ayat 6: Falam YazidHum Du’a’i Illa Firara

“Tetapi seruanku tidak menambah iman mereka, justru mereka lari dari kebenaran.”

Falam YazidHum berarti tidak menambah mereka, Du’a’i berarti seruanku, sedangkan Illa Firara berarti kecuali lari.

Firara berasal dari Fara, yang berarti lari atau kabur. Dalam kajian BES, istilah tersebut dikaitkan dengan Tsaqaltum Ilal Ardi, yakni berat ke bumi, tidak mau Infiru atau tidak mau berangkat.

Firara dimaknai sebagai lari dari kebenaran, lari dari hidayah, bahkan lari dari ampunan.

BES menghubungkan keadaan tersebut dengan kondisi manusia hari ini. Dari sekitar 8 miliar manusia, menurut perhitungan yang disampaikan dalam kajian, sekitar 6 miliar belum Islam. Sementara dari 2 miliar Muslim, menurutnya masih banyak yang memiliki sifat munafik, fasik, zalim, riya, sum’ah, dan ujub.

Baca juga:  Link Live Streaming Timnas Indonesia Vs Myanmar

Ayat 7: Wa Inni Kullama Da’autuhum Litaghfira Lahum Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim Wastaghsyau Tsiyabahu Wa Asharru Wastakbaru Istikbara

“Dan aku setiap kali menyeru mereka agar Engkau ampuni mereka, mereka memasukkan jari ke telinga, menutup baju ke wajah, tetap mengingkari, dan sangat menyombongkan diri.”

Kullama berarti setiap kali, Da’autuhum berarti aku menyeru mereka, sedangkan Litaghfira Lahum berarti agar Engkau mengampuni mereka.

BES menekankan bahwa tujuan dakwah Nabi Nuh bukan untuk 100M, bukan untuk jabatan, melainkan Litaghfira Lahum, agar Allah mengampuni mereka.

Hal tersebut menggambarkan kasih sayang Nabi Nuh kepada kaumnya, sebagaimana konsep Ruhamau Bainahum, yakni kasih sayang di antara mereka.

BES menghubungkannya dengan doa Nabi Muhammad SAW:

“Allahumma Ihdini Qaumi Fa Innahum La Ya’lamun.”

Artinya, “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Namun, ketika Nabi Nuh menyeru mereka, sebagian justru melakukan hal sebaliknya.

Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim berarti memasukkan jari-jari ke telinga, tidak mau mendengar.

Wastaghsyau Tsiyabahum berarti menutup baju ke wajah, tidak mau melihat.

Wa Asharru berarti tetap mengingkari, ngotot, dan tidak mau berubah.

Wastakbaru Istikbara berarti sangat menyombongkan diri. Istikbara dimaknai sebagai takabur dan sombong, sebagaimana ungkapan Ana Khairun Minhu, “Aku lebih baik darinya,” yang dikaitkan dengan kesombongan Iblis.

Tujuh Daya Halang yang Membuat Manusia Mengingkari Dakwah Nabi Nuh

BES kemudian menguraikan tujuh daya halang yang menyebabkan manusia mengingkari dakwah Nabi Nuh, bahkan keluarganya sendiri menentang.

Tujuh daya halang tersebut dihubungkan dengan lima sifat Sayidina Ali, yakni Ridho, Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, dan Ujub, ditambah Qarin buruk serta Tsaqaltum Ilal Ardi. Dalam uraian berikut, BES menjabarkan tujuh daya halang versi tadabur QS. Nuh.

1. Firara: Lari dari Kebenaran

Daya halang pertama adalah Firara, yakni lari dari kebenaran.

Falam YazidHum Du’a’i Illa Firara, seruanku tidak menambah kecuali lari.

Firara berarti tidak mau dekat, tidak mau mendengar, tidak mau melihat, dan memilih menjauh dari kebenaran.

Hal ini dihubungkan dengan Tsaqaltum Ilal Ardi, yakni berat ke bumi dan tidak mau Infiru atau berangkat. BES mengaitkannya dengan sekitar 80 orang munafik dalam peristiwa Tabuk yang tidak ikut berangkat.

Dalam dimensi hari ini, BES menghubungkan Firara dengan manusia yang lari dari Islam, lari dari salat, lari dari Al-Qur’an, serta lari dari tujuh rukun.

Dalam kajian tersebut juga disebutkan angka 75 persen tidak salat dan 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an. Angka tersebut merupakan rujukan yang disampaikan penulis dalam kajiannya.

Firara juga dimaknai sebagai lari dari Aqaamush Shalah, Aatawuz Zakah, Amaru Bil Ma’ruf Nahau Anil Munkar, yakni menegakkan salat, menunaikan zakat, serta menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Kesimpulan BES, hidayah menjadi mahal dan tidak didapatkan apabila manusia terus-menerus lari dari kebenaran.

2. Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim: Memasukkan Jari ke Telinga

Daya halang kedua adalah menutup telinga dan tidak mau mendengar kebenaran.

Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim berarti memasukkan jari ke telinga. Dalam konteks ayat, hal tersebut menggambarkan sikap tidak mau mendengar seruan kebenaran.

BES menghubungkannya dengan Wa Antum Tutla Alaikom Ayatullah, yakni ayat-ayat Allah dibacakan, tetapi manusia tetap tidak mau mendengar.

Dalam dimensi hari ini, BES menyinggung buzzer 100M yang menurut pandangannya tidak mau mendengar Al-Qur’an, Sunnah, Sirah, tujuh rukun, Sumpah Pemuda, Tabuk, Hudaibiyah, dan Fathu Makkah.

Menutup telinga terhadap kebenaran menjadi daya halang yang menyebabkan manusia sulit menerima hidayah.

3. Wastaghsyau Tsiyabahum: Menutup Baju ke Wajah

Daya halang ketiga adalah menutup pandangan dan tidak mau melihat kebenaran.

Wastaghsyau Tsiyabahum dimaknai sebagai menutup baju ke wajah. Artinya, tidak mau melihat tanda-tanda kebenaran.

BES menghubungkannya dengan Simahum Fi Wujuhihim Min Atsaris Sujud, yakni tanda bekas sujud pada wajah.

Ia juga mengutip perumpamaan:

Kazar’in Akhraja Syath’ahu Fa Azarahu Fastaghladha Fastawa Ala Suqihi Yu’jibuz Zurra’a Liyaghidha Bihimul Kuffar.

Perumpamaan tersebut menggambarkan benih yang mengeluarkan tunas, kemudian menjadi kuat, besar, dan tegak sehingga menyenangkan penanamnya serta menjengkelkan orang-orang kafir.

Dalam pandangan BES, Wastaghsyau Tsiyabahum menggambarkan sikap manusia yang menutup mata terhadap kebenaran Islam, tidak mau melihat Masjidil Haram, Ka’bah, dan tanda-tanda kebenaran.

Manusia yang tidak mau melihat kebenaran juga menghadapi penghalang dalam memperoleh hidayah.

4. Wa Asharru: Tetap Mengingkari dan Ngotot

Daya halang keempat adalah Asharru, yakni tetap mengingkari, ngotot, dan tidak mau berubah.

BES menjelaskan Asharru berasal dari Asharra, yang berarti tetap atau terus-menerus.

Istilah tersebut dikaitkan dengan Asharru Alal Ma’asyiyah, yakni tetap berada dalam kemaksiatan dan tidak mau bertobat.

Dalam dimensi hari ini, BES menghubungkannya dengan buzzer 100M yang menurut pandangannya tetap menyebarkan hoaks dan tidak mau bertobat.

Ia juga menyinggung pejabat yang tetap melakukan korupsi serta sekitar 80 orang munafik dalam peristiwa Tabuk yang tetap tidak ikut berangkat.

Asharru menjadi daya halang karena manusia memilih mempertahankan pengingkaran dan tidak mau berubah.

5. Wastakbaru Istikbara: Sangat Menyombongkan Diri

Daya halang kelima adalah kesombongan atau takabur.

Istikbara berarti sombong dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.

BES menghubungkannya dengan ungkapan Ana Khairun Minhu, “Aku lebih baik darinya,” yang merupakan perkataan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam AS.

Iblis merasa lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.

Kesombongan juga dihubungkan dengan Qarun yang sombong karena harta, Firaun yang sombong karena kekuasaan, dan Haman yang sombong karena jabatan.

Dalam dimensi hari ini, BES menyinggung oligarki, buzzer 100M, serta pejabat yang menurut pandangannya menunjukkan kesombongan dan tidak menjalankan kewajiban agama.

Baca juga:  Kurnia Royani Diminta Pahami Perbedaan RJ dan “Demi Hukum”, BES-DHL: Teruslah Berjuang!

Wastakbaru Istikbara menjadi penghalang hidayah karena manusia merasa dirinya lebih baik dan tidak mau menerima kebenaran.

6. Hubbud Dunya: Cinta Dunia

Daya halang keenam adalah Hubbud Dunya atau cinta dunia.

BES menghubungkannya dengan firman Allah:

Aradhitum Bil Hayatid Dunya Minal Akhirah.

Artinya, apakah kamu lebih ridha dengan kehidupan dunia daripada akhirat?

Kemudian:

Fama Mata’ul Hayatid Dunya Fil Akhirati Illa Qalil.

Artinya, kenikmatan kehidupan dunia dibandingkan kehidupan akhirat hanyalah sedikit.

Menurut BES, Hubbud Dunya merupakan kecenderungan manusia yang lebih mencintai dunia daripada Allah dan kehidupan akhirat.

Ia menghubungkan hal tersebut dengan kaum Nabi Nuh, termasuk anaknya, Kan’an, dan istrinya, yang menurut uraian kajian lebih mencintai dunia daripada mengikuti kebenaran.

Dalam kehidupan hari ini, Hubbud Dunya dikaitkan dengan uang 100M, jabatan, proyek, oligarki, dan buzzer.

Cinta dunia dapat menyebabkan manusia menjauh dari kebenaran, menutup telinga, menutup mata, tetap mengingkari, dan menyombongkan diri.

7. Qarin Buruk dan Iblis: Teman Buruk serta Bisikan yang Menyesatkan

Daya halang ketujuh adalah pengaruh Qarin buruk dan bisikan Iblis.

BES menghubungkannya dengan ungkapan:

Inni Kana Li Qarin.

Artinya, dahulu aku mempunyai seorang teman.

Kemudian:

A Innaka Laminal Musaddiqin?

Apakah kamu benar-benar termasuk orang yang membenarkan?

Dan:

A Idza Mitna Wa Kunna Turaban Wa Izaman A Inna Lamadinun?

Apakah apabila kita telah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kita benar-benar akan dibangkitkan untuk menerima balasan?

Dalam penjelasan BES, Qarin buruk dapat membisikkan agar manusia tidak beriman dan tidak mengikuti dakwah Nabi Nuh.

Bahkan setelah 950 tahun Nabi Nuh berdakwah, pengaruh buruk tersebut digambarkan dapat membuat anak Kan’an, istri Nuh, dan kaumnya tetap mengingkari seruan kebenaran.

Iblis juga membisikkan agar manusia memilih kesenangan dunia dan meninggalkan akhirat.

Dalam dimensi hari ini, BES menghubungkan pengaruh Qarin buruk dan Iblis dengan buzzer 100M, oligarki, serta berbagai pengaruh yang menurut pandangannya menjauhkan manusia dari salat dan Al-Qur’an.

Karena itu, Qarin buruk dan Iblis menjadi daya halang ketujuh yang perlu diwaspadai.

Tujuh Daya Halang dan Hubungannya dengan Lima Sifat Sayidina Ali

BES menyimpulkan bahwa tujuh daya halang yang membuat manusia mengingkari dakwah Nabi Nuh, bahkan keluarganya sendiri menentang, terdiri atas:

Firara.

Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim.

Wastaghsyau Tsiyabahum.

Asharru.

Wastakbaru Istikbara.

Hubbud Dunya.

Qarin Buruk dan Iblis.

Ketujuh daya halang tersebut dihubungkan dengan lima sifat Sayidina Ali, yaitu Ridho, Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, dan Ujub, ditambah Qarin buruk serta Tsaqaltum Ilal Ardi.

BES kembali menegaskan bahwa Nabi Nuh telah berdakwah selama 950 tahun, Lailan Wa Nahara, siang dan malam. Namun, karena adanya tujuh daya halang tersebut, seruan dakwahnya justru dihadapi dengan Firara.

Dengan demikian, hidayah Allah menjadi mahal dan tidak diberikan secara sembarangan.

Dimensi Hari Ini: Apakah Daya Halang Zaman Nabi Nuh Masih Sama?

Dalam bagian berikutnya, BES mengajukan pertanyaan besar: sudah ribuan tahun berlalu, apakah daya halang manusia dalam menerima kebenaran masih sama?

Ia membandingkan kondisi zaman Nabi Nuh dengan kehidupan manusia pada tahun 2026.

Menurut uraian BES, jawabannya adalah sama. Tujuh daya halang Nabi Nuh masih ditemukan dalam kehidupan manusia sekarang karena manusia memiliki persoalan hati atau Qulub yang serupa.

Ia menghubungkan hal tersebut dengan Wajilat Qulubuhum dan Qasa Qulubuhum.

Dimensi Hari Ini: 8 Miliar Manusia dan 6 Miliar Firara

Dari sekitar 8 miliar manusia, BES menyebut sekitar 6 miliar belum memeluk Islam. Kondisi tersebut dihubungkan dengan Falam YazidHum Du’a’i Illa Firara, yakni seruan yang tidak menambah keimanan, justru direspons dengan lari dari kebenaran.

Menurut BES, hal itu merupakan daya halang pertama yang sama dengan gambaran dalam dakwah Nabi Nuh.

2 Miliar Muslim: Berapa yang Tidak Menutup Telinga?

BES kemudian mengajukan pertanyaan, dari 2 miliar Muslim yang tercatat, berapa banyak yang tidak melakukan Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim?

Berapa banyak yang masih mau mendengar Al-Qur’an?

Dalam kajian tersebut kembali disebut angka 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an yang dikaitkan dengan Monash.

BES memaknai hal tersebut sebagai gambaran Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim, yaitu memasukkan jari ke telinga dan tidak mau mendengar Al-Qur’an.

Berapa yang Tidak Wastaghsyau Tsiyabahum?

BES mempertanyakan berapa banyak manusia yang tidak menutup mata terhadap kebenaran.

Ia menghubungkan angka 75 persen tidak salat dengan Wastaghsyau Tsiyabahum, yakni menutup baju ke wajah dan tidak mau melihat kebenaran.

Menurut uraian tersebut, manusia tidak mau melihat salat, Masjidil Haram, Ka’bah, serta Simahum Fi Wujuhihim Min Atsaris Sujud, tanda bekas sujud.

Berapa yang Tidak Asharru?

BES kembali mempertanyakan berapa banyak manusia yang tidak tetap mengingkari.

Menurutnya, dari 2 miliar Muslim masih terdapat banyak orang yang tetap melakukan kemaksiatan, korupsi, serta penyebaran hoaks melalui buzzer 100M.

Hal tersebut dihubungkan dengan Asharru, yakni tetap mengingkari dan tidak mau berubah.

Berapa yang Tidak Wastakbaru Istikbara?

Pertanyaan berikutnya adalah berapa banyak manusia yang tidak menyombongkan diri?

BES menyinggung oligarki, buzzer, serta pejabat yang menurut pandangannya menunjukkan kesombongan.

Ia menghubungkannya dengan Ana Khairun Minhu, “Aku lebih baik,” sebagaimana kesombongan Iblis.

Berapa yang Tidak Hubbud Dunya?

BES mempertanyakan berapa banyak manusia yang tidak terjebak cinta dunia.

Aradhitum Bil Hayatid Dunya Minal Akhirah, apakah manusia lebih ridha terhadap kehidupan dunia daripada akhirat?

Fama Mata’ul Hayatid Dunya Fil Akhirati Illa Qalil, kenikmatan dunia dibandingkan akhirat hanyalah sedikit.

Menurut BES, 8 miliar manusia menghadapi persoalan Hubbud Dunya, termasuk mereka yang mencintai uang 100M, jabatan, proyek, oligarki, dan buzzer.

Berapa yang Tidak Terpengaruh Qarin Buruk dan Iblis?

BES juga mempertanyakan berapa banyak manusia yang terbebas dari pengaruh teman buruk dan bisikan Iblis.

Inni Kana Li Qarin menjadi pengingat tentang pengaruh teman buruk yang membisikkan agar manusia tidak beriman.

Baca juga:  Eggi Sudjana: Konsistensi Ucapan dan Perbuatan Kalahkan Fitnah dan Tuduhan Sesat

Dalam kajian tersebut, BES menghubungkan pengaruh tersebut dengan buzzer 100M, oligarki, dan bisikan yang menjauhkan manusia dari salat serta membaca Al-Qur’an.

Dengan demikian, menurut BES, tujuh daya halang yang terjadi pada zaman Nabi Nuh masih sama dengan persoalan manusia pada tahun 2026.

8 Miliar Manusia, 2 Miliar Muslim, dan Hidayah yang Mahal

BES kembali menegaskan bahwa dimensi hari ini sama dengan masa lalu. Tujuh daya halang tersebut adalah Firara, Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim, Wastaghsyau Tsiyabahum, Asharru, Wastakbaru Istikbara, Hubbud Dunya, serta Qarin Buruk dan Iblis.

Menurutnya, 950 tahun dakwah Nabi Nuh memiliki relevansi dengan kehidupan manusia tahun 2026.

BES menghubungkannya dengan firman Allah:

Wa Ma Amana Ma’ahu Illa Qalil.

Artinya, tidak ada yang beriman bersama Nuh kecuali sedikit.

Kata Qalil berarti sedikit.

Menurut BES, hal tersebut menjadi perbandingan dengan sekitar 2 miliar Muslim dari 8 miliar manusia, atau sekitar 25 persen.

Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah yang tercatat sebagai Muslim belum otomatis menggambarkan kualitas keimanan seseorang.

Hidayah Allah mahal dan tidak sembarangan. Sebab, dari 2 miliar Muslim masih terdapat berbagai sifat yang perlu diwaspadai.

Munafik, Fasik, Zalim, Riya, Sum’ah, Ujub, dan Mutadz

BES kemudian membahas berbagai sifat yang menurutnya menjadi persoalan dalam kehidupan umat.

Munafik

BES menghubungkannya dengan sekitar 80 orang munafik dalam peristiwa Tabuk yang memilih tidak berangkat.

Hal tersebut dikaitkan dengan Tsaqaltum Ilal Ardi, yakni berat ke bumi dan tidak mau Infiru.

Fasik

Fasik dimaknai sebagai keluar dari ketaatan. Dalam kajian tersebut, BES menghubungkannya dengan orang yang meninggalkan salat.

Ia kembali menyebut angka 75 persen tidak salat sebagai bagian dari uraian kajiannya.

Zalim

Zalim dimaknai sebagai tindakan aniaya, termasuk korupsi yang merugikan orang lain.

Riya

Riya adalah melakukan sesuatu agar dilihat dan dipuji manusia, bukan karena Allah.

BES menghubungkannya dengan Fa Sayarallahu Amalakum, yakni Allah akan melihat amal perbuatan manusia.

Namun, orang yang riya justru ingin dilihat manusia, termasuk melalui tindakan yang dipandang sebagai buzzer bayaran.

Sum’ah

Sum’ah adalah keinginan agar amal dan perbuatan didengar manusia, ingin dikenal, dan ingin terkenal, bukan semata-mata karena Allah.

Ujub

Ujub adalah rasa bangga terhadap diri sendiri yang dapat berkembang menjadi kesombongan.

Mutadz atau Mutakabbir

Dalam uraian kajian, BES juga menyebut Mutadz dan kemudian Mutakabbir, yang dikaitkan dengan sifat sombong.

Seluruh sifat tersebut dihubungkan dengan tujuh daya halang, yakni Firara, Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim, Wastaghsyau Tsiyabahum, Asharru, Wastakbaru Istikbara, Hubbud Dunya, serta Qarin Buruk dan Iblis.

Karena itu, menurut BES, dari 2 miliar Muslim masih banyak yang perlu melakukan introspeksi diri.

Hidayah mahal dan tidak sembarangan. Hanya Qalil atau sedikit yang benar-benar beriman.

BES menghubungkannya dengan firman Allah:

Wa Ma Amana Ma’ahu Illa Qalil.

Tidak beriman bersama Nuh kecuali sedikit.

Kemudian:

Qad Aflahal Mu’minun.

Artinya, sungguh beruntung orang-orang yang beriman.

Aflaha berarti beruntung.

Bagi BES, orang yang beruntung adalah mereka yang mampu melawan tujuh daya halang tersebut dan mempertahankan keimanannya.

Solusi: Melawan Tujuh Daya Halang dengan Tujuh Variabel Iman

Pada bagian akhir kajiannya, BES menyampaikan solusi untuk menghadapi tujuh daya halang tersebut, yaitu dengan melawan dan memperkuat tujuh variabel iman yang dibahas sebelumnya.

Ia merujuk QS. Al-Anfal ayat 2:

Wajilat Qulubuhum, Zadathum Imana, Yatawakkalun.

Dalam uraian BES, terdapat beberapa prinsip yang menjadi jalan untuk melawan daya halang.

Melawan Firara dengan Wajilat Qulubuhum

Wajilat Qulubuhum dimaknai sebagai hati yang gemetar karena Allah.

Manusia tidak seharusnya lari dari kebenaran, tetapi justru memiliki hati yang takut kepada Allah.

Melawan Ja’alu Ashabi’ahum Fi Adzanihim dengan Mendengarkan Ayat Allah

BES menghubungkannya dengan:

Wa Idza Tuliyat Alaihim Ayatuhu Zadathum Imana.

Artinya, apabila ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, bertambahlah iman mereka.

Dengan demikian, manusia harus mau mendengar ayat-ayat Allah, bukan menutup telinga terhadap kebenaran.

Melawan Wastaghsyau Tsiyabahum dengan Tidak Menutup Mata terhadap Kebenaran

Manusia harus mau melihat tanda-tanda kebesaran Allah dan tidak menutup mata terhadap kebenaran.

BES kemudian menghubungkan solusi tersebut dengan Wajilat Qulubuhum, Zadathum Imana, dan Yatawakkalun.

Ia juga mengaitkannya dengan Qad Aflahal Mu’minun, Fattabi’uni Yuhbibkumullah, serta ayat:

Ahasiban Nasu An Yutraku An Yaqulu Amanna Wa Hum La Yuftanun.

Manusia tidak cukup hanya mengatakan beriman, tetapi juga akan diuji.

Shadaqu berarti benar, bukan Kadzibin atau dusta.

Menurut BES, orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang mampu menghadapi ujian dan melawan tujuh daya halang.

Kapal Nabi Nuh dan Keselamatan Orang-Orang yang Beriman

BES kembali mengingatkan bahwa meskipun Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, tidak banyak yang beriman kepadanya.

Hal tersebut sebagaimana firman Allah:

Wa Ma Amana Ma’ahu Illa Qalil.

Tidak beriman bersama Nuh kecuali sedikit.

Qalil berarti sedikit.

Namun, kelompok kecil yang beriman itulah yang diselamatkan melalui kapal Nabi Nuh ketika banjir besar datang.

Dalam perumpamaan kajian tersebut, BES menghubungkan kapal Nabi Nuh dengan kapal Islam sebagai simbol keselamatan bagi orang-orang yang berpegang teguh pada keimanan.

Sebaliknya, manusia yang tetap terjebak dalam tujuh daya halang diibaratkan akan tenggelam sebagaimana mereka yang tidak ikut dalam kapal Nabi Nuh.

BES menegaskan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh banyaknya jumlah manusia, tetapi oleh keimanan dan kesungguhan melawan penghalang hidayah.

Ia menutup kajian dengan pesan bahwa dari 8 miliar manusia dan 2 miliar Muslim, yang benar-benar mampu melawan tujuh daya halang mungkin hanya sedikit.

Namun, kelompok yang sedikit itu tetap memiliki kesempatan untuk selamat sebagaimana orang-orang beriman yang mengikuti Nabi N9uh.

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar,

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Newsletter

Don't miss

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal...

Polemik Ijazah Memanas, Eggi Sudjana Kirim Pesan Moral Tegas kepada Jokowi!

JAKARTA |  MATA PENA INDONESIA – Polemik terkait keaslian...

Mutiara Hikmah Jumat: Eggi Sudjana Ungkap 3 Parameter Iman dalam Al-Qur’an, Dilengkapi 7 Hadis Rasulullah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si atau dengan sebutan Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan kajian Mutiara...

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Dalam perkembangan penanganan perkara tersebut, tiga...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden RI Prabowo Subianto menjadi sorotan praktisi hukum. Ahmad Muhibullah, S.H., advokat dan konsultan...