Buruh Tambang Bogor–Sumedang–Cirebon Demo di Gedung Sate Tuntut Kejelasan Nasib

BANDUNG, MPI – Ratusan pekerja tambang menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (6/2). Mereka membawa dump truk sebagai simbol protes atas nasib yang terkatung-katung sejak aktivitas pertambangan dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Massa aksi berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Bogor, seperti Cigudeg, Rumpin, hingga Parungpanjang. Kedatangan mereka sempat memblokir ruas Jalan Diponegoro dan mengepung gerbang utama Gedung Sate.

Para pekerja menyuarakan keresahan atas kebijakan penghentian sementara aktivitas pertambangan sejak September 2025. Kebijakan yang disebut “sementara” itu dinilai tidak pernah memberikan kejelasan lebih lanjut, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi ribuan buruh tambang.

Baca juga:  GMPB Aksi di Depan KPK, Desak Usut Tuntas Dugaan Potongan Insentif Bappenda Bogor

Koordinator aksi, Yadi Suryadi, menegaskan bahwa penghentian tambang yang berlangsung berbulan-bulan telah berdampak besar pada kehidupan buruh.

“Katanya sementara, tapi tidak ada kejelasan sementara itu sampai kapan. Itu yang menjadi pertanyaan masyarakat,” ujarnya.

Massa mendesak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau perwakilan Pemprov Jabar menemui mereka secara langsung.

“Gubernur, wakil gubernur, minimal sekda turun ke bawah. Kita hanya ingin berdiskusi,” kata Yadi.

Dampak Penghentian Tambang
Menurut Yadi, kebijakan ini tidak hanya merugikan buruh, tetapi juga pengusaha dan masyarakat sekitar. Ia menilai kondisi tersebut justru menguntungkan pihak luar Jawa Barat karena kebutuhan material bangunan harus dipasok dari daerah lain.

Baca juga:  PWRI Bogor Raya Tetap Kawal HAKORDIA 2025, Dorong Gerakan Antikorupsi Melalui Penyebaran Informasi yang Benar

Dampak lain juga dirasakan di pasar. Harga bahan material bangunan di Jawa Barat dilaporkan melonjak tajam akibat terhentinya produksi tambang lokal.

“Harga bahan material bisa naik sampai dua kali lipat. Ini jelas menghambat pembangunan,” tuturnya.

Tuntutan Kepastian
Melalui aksi ini, buruh tambang menuntut kepastian kebijakan dan jaminan hukum bagi usaha pertambangan yang telah memiliki izin resmi. Mereka meminta kejelasan bagi perusahaan dengan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP), Surat Izin Pertambangan Batuan (SIPB), maupun yang sedang dalam proses perpanjangan izin.

Baca juga:  Kondusivitas Wilayah Terjaga, Babinsa Koramil 03/Sukmajaya Gelar Patroli Gabungan 4 Pilar

Rangkuman Dampak Penghentian Tambang

 

  • Kehidupan buruh,  Kehilangan mata pencaharian, ketidakpastian ekonomi
  • Pengusaha Usaha berhenti, investasi terhenti
  • Masyarakat sekitar  Aktivitas ekonomi lokal menurun
  • Pasar bahan bangunan Harga melonjak hingga dua kali lipat
  • Pembangunan Proyek terhambat akibat keterbatasan material

Aksi di Gedung Sate dipastikan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Yadi menyebut massa dari berbagai daerah lain akan terus berdatangan menyampaikan tuntutan serupa.

“Dari aliansi semua. Ini datang dari Bogor, Subang, Padalarang, dan daerah lainnya. Kita akan terus berdatangan, karena banyak masyarakat yang terdampak,” pungkasnya. [ATS]

Latest

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Rumus Jiwa Tenang: Anti-Syirik dan Dzikir 24 Jam Menuju Surga Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah Senin, 12 Oktober 2026, menguraikan...

Mutiara Hikmah,  QS An-Nisa Ayat 116–121, Eggi Sudjana: Mengapa Syirik Tidak Diampuni, Bukankah Allah Maha Pengampun?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali mengangkat persoalan mendasar...

Dugaan Sarang Prostitusi Online Berkedok “Kontrakan Reformasi” di Gunung Putri Resahkan Warga

GUNUNG PUTRI | MATA PENA INDONESIA - Sebuah bangunan indekos dua lantai bernama Kontrakan Reformasi yang berlokasi di Desa Nagrak, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten...