JAKARTA | MATA PENA INDONESIA –Sebuah Curhatan Pagi hari ini, Jumat 11 September 2026, Koh Halim mengangkat sebuah renungan penting tentang bagaimana seseorang dapat menjaga istiqamah dalam beribadah sesuai syariat Islam. Koh Halim mengajak umat Islam untuk tidak memandang ibadah semata-mata sebagai kewajiban yang harus diselesaikan, tetapi juga sebagai kebutuhan jiwa kepada Allah SWT.
Menurut Koh Halim, istiqamah dalam ibadah akan lebih mudah dijalankan apabila seseorang mulai menumbuhkan rasa membutuhkan Allah. Kewajiban tetap harus ditunaikan, namun ketika hati sudah merasakan kebutuhan kepada Allah, ibadah tidak lagi dipandang sebagai beban.
“Benar, istiqamah dalam ibadah akan lebih mudah jika ibadah dirasakan sebagai kebutuhan jiwa, bukan hanya kewajiban yang harus diselesaikan,” demikian inti renungan Koh Halim dalam Curhat Pagi Hari.
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang hanya memandang ibadah sebagai kewajiban terkadang akan menjalankannya sebatas menggugurkan kewajiban. Berbeda halnya ketika ibadah telah menjadi kebutuhan hati, sehingga seseorang justru merasa ada sesuatu yang kurang ketika meninggalkannya.
Shalat sebagai Kebutuhan untuk Menenangkan Hati
Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan shalat.
Shalat tidak semestinya hanya dipahami sebagai aktivitas untuk memenuhi kewajiban, misalnya dengan prinsip “yang penting sudah shalat”. Lebih dari itu, shalat dapat menjadi kebutuhan jiwa untuk menenangkan hati sekaligus menjadi tempat seorang hamba mengadu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketika shalat telah dirasakan sebagai kebutuhan, seseorang akan berusaha menjaganya bukan semata-mata karena kewajiban, tetapi karena membutuhkan ketenangan dan pertolongan Allah.
Membaca Al-Qur’an Bukan Sekadar Mengejar Target
Begitu pula dengan membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an tidak hanya dilakukan demi mengejar target jumlah halaman atau menyelesaikan bacaan tertentu.
Koh Halim mengajak agar tumbuh perasaan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, muncul kesadaran dalam diri bahwa ada sesuatu yang terasa kurang apabila dalam satu hari seseorang tidak membaca Al-Qur’an.
Dzikir dan Doa karena Membutuhkan Pertolongan Allah
Dzikir dan doa juga menjadi bagian penting dalam membangun rasa membutuhkan Allah.
Dzikir dan doa bukan hanya dilakukan karena diperintahkan, tetapi juga karena manusia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan, perlindungan, serta petunjuk Allah SWT dalam menjalani kehidupan.
Kesadaran tersebut diharapkan dapat membuat seseorang lebih dekat kepada Allah dan semakin mudah menjaga istiqamah dalam beribadah.
Sedekah sebagai Kesempatan untuk Berbagi
Dalam hal sedekah, seseorang juga diharapkan tidak hanya melihatnya sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.
Lebih dari itu, dapat tumbuh rasa membutuhkan kesempatan untuk berbagi dan membantu orang lain.
Dengan cara pandang tersebut, sedekah tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang mengurangi apa yang dimiliki, melainkan menjadi kesempatan untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat kepada sesama.
Tahajud dan Kerinduan untuk Bermunajat
Contoh lainnya adalah ibadah tahajud. Pada awalnya, bangun pada malam hari untuk melaksanakan tahajud mungkin terasa berat.
Namun, ketika seseorang telah merasakan ketenangan setelah bermunajat kepada Allah, maka dapat tumbuh kerinduan untuk kembali melaksanakannya.
Dari sinilah rasa membutuhkan Allah dapat berkembang menjadi kekuatan untuk menjaga istiqamah dalam beribadah.
Jangan Hanya Bertanya tentang Kewajiban
Pada bagian akhir renungannya, Koh Halim mengajak umat Islam untuk mengubah cara pandang terhadap ibadah.
Jangan hanya bertanya:
“Apa kewajiban saya kepada Allah?”
Tetapi tumbuhkan pula kesadaran:
“Betapa saya membutuhkan Allah.”
Kesadaran akan kebutuhan kepada Allah inilah yang diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga istiqamah.
Semakin kuat rasa membutuhkan Allah, insyaallah semakin ringan hati seseorang untuk menjalankan dan mempertahankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Inti Curhat Pagi Koh Halim: ibadah bukan sekadar kewajiban yang harus dituntaskan, tetapi merupakan kebutuhan jiwa seorang hamba kepada Allah SWT. (Red)




