Mutiara Hikmah BES: Bolehkah Beribadah Karena Ingin Masuk Surga?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Setiap orang beriman tentu mendambakan kehidupan yang baik di dunia dan keselamatan di akhirat. Salah satu kabar gembira yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang beriman adalah janji berupa surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗ وَلَهُمْ فِيْهَا اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Artinya:

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”

(QS. Al-Baqarah: 25)

Ayat tersebut secara jelas memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Selain kenikmatan berupa surga dan berbagai rezeki di dalamnya, Allah juga menyebutkan adanya pasangan-pasangan yang suci serta kehidupan yang kekal.

Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan penting:

Bolehkah seorang Muslim termotivasi untuk beribadah karena ingin masuk surga? Bukankah dalam mengabdi kepada Allah kita harus ikhlas semata-mata karena Allah, tanpa motivasi yang lain?

Dalam kajian Mutiara Hikmah Kamis, 10 September 2026, Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si Atau yang di kenal dengan sapaan Akrab nya Brother Eggi Sudjana (BES) memberikan penjelasan bahwa mengharapkan surga dan takut terhadap neraka merupakan bagian dari motivasi yang dibenarkan dalam Islam.

Allah Sendiri Memberikan Motivasi dengan Surga

Menurut kajian ini, Allah sendiri memberikan kabar gembira tentang surga sebagai motivasi bagi orang-orang beriman.

Allah berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ

Artinya:

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka ada surga.”

(QS. Al-Baqarah: 25)

Baca juga:  Ucapan Selamat atas Pelantikan Advokat Asep Bunhori, S.IP., S.H. oleh KAI – Pedang Hitam

Perhatikan kata بَشِّرِ (bassyir) yang berarti “sampaikanlah kabar gembira.”

Dengan demikian, janji surga memang merupakan salah satu bentuk motivasi yang diberikan Allah kepada manusia agar beriman dan melakukan amal saleh.

Allah juga berfirman:

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

Artinya:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga.”

(QS. Ali ‘Imran: 133)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim diperintahkan untuk bersegera mengejar ampunan Allah dan surga-Nya.

Rasulullah Juga Memotivasi Umat dengan Surga

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَافَ أَدْلَجَ وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ

Artinya:

“Barang siapa takut, ia akan bersegera. Barang siapa bersegera, ia akan sampai tujuan. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah adalah surga.”

(HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa surga merupakan sesuatu yang sangat bernilai sehingga seorang Muslim harus bersungguh-sungguh dalam mengejarnya.

Dengan demikian, mengharapkan surga bukanlah sesuatu yang harus dianggap bertentangan dengan keikhlasan.

Lalu, Bagaimana dengan Ikhlas?

Ikhlas merupakan prinsip penting dalam ibadah.

Allah berfirman:

لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَّلَا شُكُوْرًا

Artinya:

“Kami tidak mengharap balasan dan ucapan terima kasih dari kamu.”

(QS. Al-Insan: 9)

Namun, ikhlas tidak berarti seorang hamba tidak boleh berharap mendapatkan karunia dari Allah.

Surga adalah milik Allah. Ampunan adalah milik Allah. Ridha Allah adalah tujuan tertinggi. Ketika seorang hamba memohon surga kepada Allah, pada hakikatnya ia sedang meminta karunia Allah.

Yang menjadi masalah adalah apabila seseorang beramal bukan karena Allah, melainkan karena ingin mendapatkan pujian manusia, jabatan, popularitas atau keuntungan duniawi.

Tiga Tingkatan Motivasi dalam Beribadah

Dalam kajian Mutiara Hikmah BES, dijelaskan adanya gambaran tiga tingkatan motivasi seorang hamba dalam beribadah.

1. Ibadah karena Mengharapkan Surga dan Takut Neraka

Pada tingkatan ini, seseorang beribadah karena mengharapkan surga dan takut terhadap neraka.

Misalnya:

“Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam surga dan jauhkan aku dari neraka.”

Baca juga:  Mutara Hikmah BES: Bersyukur, Bersabar, dan Mengontrol Diri

Motivasi seperti ini dibenarkan dalam Islam. Bahkan terdapat banyak doa dan ayat Al-Qur’an yang mengajarkan manusia untuk memohon surga dan berlindung dari neraka.

2. Ibadah karena Ketaatan kepada Allah

Tingkatan berikutnya adalah seseorang beribadah karena menyadari bahwa Allah adalah Tuhan yang wajib ditaati.

Ia salat karena Allah memerintahkan salat. Ia menjalankan perintah Allah karena kecintaan dan ketundukan kepada-Nya.

Pada tingkat ini, ketaatan tidak semata-mata didorong oleh imbalan, tetapi oleh kesadaran sebagai seorang hamba.

3. Ibadah karena Cinta kepada Allah

Tingkatan yang lebih tinggi adalah beribadah karena kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang hamba menjalankan perintah Allah karena mencintai-Nya, merasakan kebutuhan kepada-Nya dan ingin selalu dekat dengan-Nya.

Namun, tingkatan tersebut tidak berarti orang yang masih berharap surga otomatis kehilangan keikhlasannya.

Seorang Muslim bahkan dapat menggabungkan ketiganya: takut neraka, berharap surga dan mencintai Allah.

Surga Bukan Sekadar Kenikmatan Duniawi

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 25 bahwa penghuni surga mendapatkan berbagai kenikmatan, termasuk rezeki berupa buah-buahan dan pasangan-pasangan yang suci.

Allah menyebutkan hal tersebut karena manusia memiliki fitrah untuk menyukai kenikmatan dan kebahagiaan.

Namun, jangan sampai kenikmatan surga dipahami hanya sebagai kenikmatan material.

Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Lebih tinggi lagi daripada kenikmatan tersebut adalah ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah berfirman:

وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ

Artinya:

“Dan keridaan Allah itu lebih besar.”

(QS. At-Taubah: 72)

Karena itu, surga dapat menjadi wasilah atau sarana motivasi, sedangkan tujuan tertinggi seorang hamba adalah mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jangan Beribadah karena Pujian Manusia

Yang harus dihindari adalah menjadikan manusia sebagai tujuan utama dalam beribadah.

Seseorang salat agar dipuji sebagai orang saleh.

Seseorang bersedekah agar disebut dermawan.

Seseorang membantu orang lain agar mendapatkan popularitas.

Motivasi semacam inilah yang dapat merusak keikhlasan karena amal diarahkan kepada penilaian manusia.

Baca juga:  Rudy Susmanto: Sinergi Pemkab dan DPRD Harus Menjawab Aspirasi Masyarakat

Berbeda halnya ketika seseorang berdoa:

“Ya Allah, aku memohon surga-Mu, aku berlindung dari neraka-Mu dan aku memohon cinta-Mu.”

Permintaan tersebut tetap ditujukan kepada Allah.

Tiga Motivasi yang Dapat Digabungkan

Dalam kajian ini, umat Islam diajak untuk memiliki tiga motivasi sekaligus dalam menjalankan kehidupan beragama.

Pertama, takut terhadap neraka.

Rasa takut tersebut menjadi pengingat agar manusia menjauhi maksiat dan perbuatan yang dilarang Allah.

Kedua, mengharapkan surga.

Harapan terhadap surga menjadi motivasi untuk memperbanyak amal saleh dan kebaikan.

Ketiga, mencintai Allah.

Cinta kepada Allah menjadi kekuatan agar seorang Muslim tetap istiqamah dalam beribadah, bahkan ketika tidak ada pujian manusia dan tidak mendapatkan keuntungan duniawi.

Doa Menggabungkan Ketiga Motivasi

Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana mengajak umat Islam untuk memohon kepada Allah dengan doa:

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga, aku berlindung kepada-Mu dari neraka, dan aku memohon kepada-Mu cinta-Mu.”

Doa tersebut menggambarkan tiga orientasi seorang hamba: mengharapkan surga, berlindung dari neraka dan memohon cinta Allah.

(CBM) Cerdas, Berani dan Militan dalam Mengejar Surga

Sebagai penutup, kajian Mutiara Hikmah BES mengajak umat Islam untuk menjadi pribadi yang cerdas, berani dan militan dalam menjalankan ajaran agama.

Cerdas, memahami bahwa motivasi beribadah memiliki tingkatan dan tidak mudah menghakimi orang yang berharap surga.

Berani, mengejar surga karena itu merupakan kabar gembira dan janji Allah bagi orang-orang beriman dan beramal saleh.

Militan, menggabungkan rasa takut terhadap neraka, harapan terhadap surga dan kecintaan kepada Allah dalam menjalankan kehidupan.

Pada akhirnya, berharap surga bukan berarti tidak ikhlas. Selama harapan tersebut ditujukan kepada Allah dan tidak menjadikan manusia sebagai tujuan ibadah, maka seorang Muslim tetap dapat menjalankan ibadah dengan keikhlasan.

Surga adalah karunia Allah. Neraka adalah sesuatu yang harus dijauhi. Dan di atas semua itu, ridha Allah merupakan tujuan terbesar seorang hamba.

Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Dituding Rapat di Sentul, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor: Itu Fitnah!

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Ketua Komisi I...

BPN Kabupaten Bogor Digeledah, Polisi Usut Dugaan Pemalsuan 52 Sertifikat PTSL

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA — Kantor Badan Pertanahan...

50 Orang Diperiksa! Kasus PTSL Bojonggede 2019 Disorot, Pejabat BPN Ikut Dimintai Keterangan

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA — Kasus dugaan penyimpangan...

Mutiara Hikmah BES: Jangan Tertipu Penampilan dan Retorika, Waspadai Sifat Munafik

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Newsletter

Don't miss

Dituding Rapat di Sentul, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor: Itu Fitnah!

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Ketua Komisi I...

BPN Kabupaten Bogor Digeledah, Polisi Usut Dugaan Pemalsuan 52 Sertifikat PTSL

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA — Kantor Badan Pertanahan...

50 Orang Diperiksa! Kasus PTSL Bojonggede 2019 Disorot, Pejabat BPN Ikut Dimintai Keterangan

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA — Kasus dugaan penyimpangan...

Mutiara Hikmah BES: Jangan Tertipu Penampilan dan Retorika, Waspadai Sifat Munafik

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah BES: 6 Kunci Meraih Rahmat Allah SWT Menurut Al-Qur’an

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Setiap manusia yang beriman...

Dituding Rapat di Sentul, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor: Itu Fitnah!

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, Muhammad Irvan Maulana, angkat bicara terkait beredarnya pesan berantai atau chat di...

BPN Kabupaten Bogor Digeledah, Polisi Usut Dugaan Pemalsuan 52 Sertifikat PTSL

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA — Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bogor digeledah penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, pada...

50 Orang Diperiksa! Kasus PTSL Bojonggede 2019 Disorot, Pejabat BPN Ikut Dimintai Keterangan

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA — Kasus dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) tahun 2019 di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor,...