BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Mutiara Hikmah Senin, 7 September 2026, kali ini mengangkat pertanyaan serius tentang hati manusia. Bagaimana hati manusia yang pada substansinya diciptakan lembut dapat berubah menjadi keras, bahkan menurut Al-Qur’an bisa lebih keras daripada batu?
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 74)
Pertanyaan seriusnya, bagaimana hati manusia bisa mengeras?
Bukankah substansi hati manusia sesungguhnya lembut?
Menurut BES, ayat tersebut dapat diibaratkan sebagai “MRI-nya Allah”, yaitu gambaran tentang bagaimana Allah mengetahui dan menunjukkan kondisi hati manusia.
Hasilnya sangat serius.
Hati manusia bisa menjadi lebih keras daripada batu.
BAGIAN 1: SUBSTANSI ASLI HATI ITU LEMBUT
Menurut BES, substansi dasar hati manusia pada dasarnya adalah lembut.
Allah SWT berfirman:
فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
Artinya:
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
HR. Bukhari
Menurut BES, hati manusia dapat diibaratkan seperti spons.
Substansinya memiliki kemampuan untuk menyerap air, dan dalam kehidupan spiritual manusia, hati seharusnya menyerap hidayah.
Bahkan Allah SWT memberikan perumpamaan tentang batu.
Ada batu yang dapat memancarkan sungai:
يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُ
Ada batu yang terbelah kemudian mengeluarkan air.
Dan ada pula batu yang jatuh karena takut kepada Allah:
يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ
Semua itu terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 74.
Pertanyaannya, jika batu saja dapat menunjukkan tanda-tanda kepatuhan kepada Allah, apakah manusia justru akan kalah dari batu?
Karena itu, menurut BES:
SUBSTANSI HATI ADALAH LEMBUT, HIDUP DAN PEKA.
Itulah fitrah awal manusia.
BAGIAN 2: BAGAIMANA HATI BISA MENGERAS?
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ
Artinya:
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras.”
(QS. Al-Baqarah: 74)
Menurut BES, kalimat “setelah itu” memiliki makna yang sangat serius.
Yaitu setelah manusia melihat bukti, menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan mengetahui kebenaran, tetapi tetap menolak.
BES kemudian menyampaikan tujuh penyakit utama yang dapat menyebabkan hati menjadi keras.
1. Banyak Dosa Tanpa Tobat
Dosa yang dilakukan terus-menerus tanpa penyesalan dan pertobatan dapat meninggalkan pengaruh pada hati.
Allah SWT berfirman:
كَلَّاۗ بَلْ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya:
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Menurut gambaran BES, dosa yang terus dilakukan dapat menjadi seperti titik hitam yang semakin lama semakin menumpuk hingga menjadi kerak pada hati.
Perbuatan salah yang awalnya membuat seseorang merasa takut, lama-kelamaan dapat dianggap biasa apabila terus dilakukan tanpa tobat.
2. Jauh dari Dzikir kepada Allah
Menurut BES, hati membutuhkan hubungan yang terus terjaga dengan Allah.
Allah SWT berfirman:
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Seseorang dapat sibuk dengan pekerjaan, harta, teknologi dan berbagai urusan dunia, tetapi tidak memberi ruang bagi dzikir dan mengingat Allah.
Hati yang tidak mendapatkan hubungan spiritual dengan Allah, menurut BES, berpotensi kehilangan kepekaan.
3. Cinta Dunia Berlebihan
BES mengingatkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat membuat seseorang kehilangan orientasi akhirat.
Dunia menjadi tujuan utama, sementara kebenaran dan ajaran agama dapat dikorbankan demi kepentingan materi, jabatan atau kekuasaan.
Menurut narasi BES, seseorang bisa tergoda mengabaikan nilai agama demi kepentingan dunia.
4. Mengonsumsi yang Haram
Apa yang masuk ke dalam tubuh seseorang, menurut kajian tersebut, juga menjadi persoalan yang harus diperhatikan.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ اَوْلٰى بِهٖ
Artinya:
“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih berhak baginya.”
Dalam konteks kajian ini, BES mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap harta yang diperoleh dari jalan yang tidak dibenarkan, termasuk suap, riba dan korupsi.
5. Menolak Kebenaran Setelah Mengetahuinya
Inilah salah satu inti dari QS. Al-Baqarah ayat 74 menurut kajian BES.
Seseorang sudah mengetahui kebenaran dan telah mendapatkan penjelasan, tetapi memilih berpaling karena kesombongan atau kepentingan tertentu.
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوْا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ
Artinya:
“Maka ketika mereka berpaling, Allah palingkan hati mereka.”
(QS. As-Saff: 5)
Menurut BES, hati menjadi semakin keras ketika manusia terus-menerus menolak nasihat dan kebenaran yang telah diketahuinya.
6. Berteman dengan Orang-Orang yang Keras Hati
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
اَلْمَرْءُ عَلٰى دِيْنِ خَلِيْلِهٖ
Artinya:
“Seseorang tergantung pada agama temannya.”
HR. Abu Dawud
Menurut BES, seseorang yang berada dalam lingkungan yang penuh kebohongan, kezaliman dan kemaksiatan berpotensi terbawa oleh kebiasaan lingkungannya.
7. Tidak Ada Muhasabah dan Tangisan kepada Allah
Hati yang tidak pernah melakukan introspeksi dapat kehilangan kepekaan terhadap dosa dan kesalahan.
Allah SWT berfirman:
اَفَمِنْ هٰذَا الْحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَ وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا تَبْكُوْنَ
Artinya:
“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini, dan kamu tertawa dan tidak menangis?”
(QS. An-Najm: 59-60)
BES mengajak umat untuk kembali melakukan muhasabah.
Bukan hanya mudah tersentuh oleh urusan dunia, tetapi juga memiliki hati yang tersentuh ketika mengingat Allah, membaca Al-Qur’an dan menyaksikan penderitaan sesama.
BAGIAN 3: CIRI-CIRI HATI YANG SUDAH KERAS
Allah SWT memberikan tiga perumpamaan batu dalam QS. Al-Baqarah ayat 74.
1. Batu yang Mengeluarkan Sungai
Batu tersebut masih memberikan manfaat.
Sementara hati yang benar-benar keras, menurut BES, bisa kehilangan keinginan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
2. Batu yang Mengeluarkan Mata Air
Batu masih dapat memberikan kehidupan.
Sedangkan hati yang keras dapat menjadi pelit terhadap ilmu, harta dan nasihat.
3. Batu yang Jatuh karena Takut kepada Allah
Allah berfirman:
يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ
Batu pun digambarkan memiliki ketundukan kepada Allah.
Sementara hati yang keras bisa kehilangan rasa takut.
Mendengar adzan, melihat kematian, menyaksikan bencana dan mendengar ayat tentang akhirat tidak lagi memberikan pengaruh yang mendalam.
Tanda-Tanda Lain Hati yang Mengeras
Menurut BES, beberapa tanda yang perlu menjadi bahan muhasabah antara lain:
Sulit menangis ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an.
Mudah merasa bosan dalam majelis ilmu.
Berani melakukan kemaksiatan secara terbuka.
Tidak peduli terhadap penderitaan umat dan sesama manusia.
Sulit menerima nasihat.
Lebih mencintai kepentingan dunia dibandingkan kehidupan akhirat.
BAGIAN 4: SOLUSI MELEMBUTKAN HATI
Allah SWT menutup QS. Al-Baqarah ayat 74 dengan firman:
وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
“Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Menurut BES, selama manusia masih diberikan kesempatan hidup, pintu untuk kembali kepada Allah masih terbuka.
BES kemudian menawarkan RESEP 4M UNTUK MELEMBUTKAN HATI.
1. MUHASABAH
Setiap manusia perlu melakukan introspeksi terhadap dirinya.
BES mengajak setiap orang untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Dosa apa yang telah saya lakukan hari ini?”
Muhasabah menjadi langkah awal untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya.
2. MUNAJAT MALAM
BES mendorong umat untuk membiasakan diri bangun pada sepertiga malam terakhir untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًا
Artinya:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih tepat untuk membaca.”
(QS. Al-Muzzammil: 6)
3. MENDENGAR DAN MEMBACA AL-QUR’AN
Al-Qur’an harus menjadi sarana untuk membersihkan dan melembutkan hati.
Allah SWT berfirman:
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ
Artinya:
“Seandainya Al-Qur’an ini Kami turunkan kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah.”
(QS. Al-Hasyr: 21)
Menurut BES, jika gunung saja dapat digambarkan tunduk terhadap Al-Qur’an, manusia seharusnya lebih mampu mengambil pelajaran dan melembutkan hatinya.
4. MENGURUS ANAK YATIM DAN MASYARAKAT MISKIN
BES juga menekankan pentingnya kepedulian sosial.
Menyentuh kehidupan masyarakat yang membutuhkan, membantu fakir miskin dan menyayangi anak yatim dapat menjadi sarana untuk membangun kembali kepekaan hati.
KESIMPULAN: HATI ASLINYA LEMBUT
Menurut BES, hati manusia pada dasarnya diciptakan dalam keadaan lembut, hidup dan memiliki kepekaan.
Namun hati dapat mengeras karena:
BANYAK DOSA + JAUH DARI ALLAH + CINTA DUNIA BERLEBIHAN + MENOLAK KEBENARAN + KEHIDUPAN YANG MENJAUHKAN DIRI DARI NILAI KETAUHIDAN.
Batu saja, dalam firman Allah, ada yang:
يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ
“Jatuh karena takut kepada Allah.”
Pertanyaannya, masa manusia kalah dengan batu?
BES kemudian mengajak umat untuk berdoa:
اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلٰى دِيْنِكَ
Artinya:
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
PERINGATAN: KETIKA NASIHAT TIDAK LAGI MASUK KE DALAM HATI
Menurut BES, salah satu kondisi yang harus diwaspadai adalah ketika seseorang terus menerima nasihat, tetapi tidak pernah merasa perlu berubah.
Nasihat hanya masuk melalui telinga, tetapi tidak sampai ke hati.
Karena itu, setiap Muslim harus terus melakukan muhasabah dan memohon kepada Allah agar tidak dibiarkan tenggelam dalam kesalahan.
CEKLIS 20 TANDA HATI KERAS
Referensi Kajian: QS. Al-Baqarah: 74, QS. Al-Muthaffifin: 14 dan QS. Az-Zumar: 22
BAGIAN A: HUBUNGAN DENGAN ALLAH
1. Sulit Khusyuk dalam Shalat
Shalat dilakukan terburu-buru dan pikiran lebih banyak berada pada urusan dunia.
2. Berat Berdzikir dan Membaca Al-Qur’an
Membaca beberapa halaman Al-Qur’an terasa berat, sementara berjam-jam menggunakan media sosial terasa mudah.
3. Tidak Merasa Takut Ketika Mendengar Ancaman Allah
Ayat tentang kematian, azab, neraka dan hari kiamat tidak lagi menggugah hati.
4. Tidak Menyesal Setelah Melakukan Maksiat
Kesalahan terus diulang hingga akhirnya dianggap biasa.
5. Doa Tidak Dilakukan dengan Khusyuk
Berdoa dilakukan tanpa kesungguhan dan keyakinan.
BAGIAN B: HUBUNGAN DENGAN MANUSIA
6. Keras kepada Orang yang Lemah
Mudah membentak dan merendahkan orang lain.
7. Pelit Ilmu dan Harta
Sulit berbagi, bersedekah dan memberikan manfaat.
8. Ghibah, Namimah dan Suudzon Menjadi Kebiasaan
Pertemuan lebih banyak digunakan untuk membicarakan keburukan orang lain.
9. Tidak Peduli terhadap Penderitaan Sesama
Melihat kelaparan, perang, bencana dan penderitaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
10. Sombong dan Sulit Menerima Nasihat
Kritik selalu dianggap sebagai serangan.
BAGIAN C: HUBUNGAN DENGAN DUNIA DAN SYARIAH
11. Cinta Dunia Mengalahkan Akhirat
Kepentingan harta dan jabatan membuat seseorang mengabaikan kewajiban kepada Allah.
12. Menganggap Remeh Perkara Haram
Perbuatan yang jelas dilarang dianggap biasa dan tidak lagi menimbulkan rasa takut.
13. Membiarkan Kemaksiatan Tanpa Kepedulian
Tidak ada keinginan untuk mencegah atau memperbaiki keadaan.
14. Tidak Menyukai Dakwah dan Nasihat
Merasa terganggu ketika diingatkan kepada agama dan kebaikan.
15. Menghalalkan Segala Cara Demi Tujuan
Prinsipnya hanya satu: yang penting mendapatkan apa yang diinginkan.
BAGIAN D: TANDA FISIK DAN SPIRITUAL
16. Tidak Pernah Menangis karena Mengingat Allah
Mudah menangis karena urusan dunia, tetapi hati tidak tersentuh ketika membaca Al-Qur’an.
17. Majelis Ilmu Terasa Membosankan
Sulit duduk dalam kajian agama, tetapi mudah berjam-jam untuk urusan dunia.
18. Hati Gelisah Walaupun Memiliki Banyak Harta
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا
Artinya:
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha: 124)
19. Sering Melupakan Allah
Mengingat Allah hanya ketika sedang menghadapi kesulitan.
20. Merasa Aman dari Azab Allah
Allah SWT berfirman:
اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِ
Artinya:
“Apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah?”
(QS. Al-A’raf: 99)
SKOR DAN SOLUSI
0–4 Centang: Hati Sehat
Tindakan: Pertahankan istiqamah dan terus jaga hati dengan dzikir serta ibadah.
5–9 Centang: Hati Mulai Berkarat
Tindakan: Perbanyak istighfar, muhasabah dan meningkatkan kedekatan kepada Allah.
10–14 Centang: Hati Sedang Mengalami Kekerasan
Tindakan: Perbanyak muhasabah malam, sedekah dan memperbaiki lingkungan pergaulan.
15–20 Centang: Kondisi Hati Sangat Mengkhawatirkan
Tindakan: Segera melakukan tobat, meninggalkan lingkungan buruk, memperbanyak ibadah dan meminta pertolongan Allah.
BES menekankan bahwa ceklis tersebut merupakan bahan muhasabah pribadi, bukan untuk digunakan menghakimi atau menilai orang lain.
KUNCI UTAMA QS. AL-BAQARAH AYAT 74
Batu saja ada yang:
يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ
“Jatuh karena takut kepada Allah.”
Masa kita kalah dengan batu?
BES menutup Mutiara Hikmah Senin dengan doa pelembut hati:
اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ الْاَرْضَ بِنُوْرِ شَمْسِكَ اَبَدًا اَبَدًا
Artinya:
“Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya petunjuk-Mu sebagaimana Engkau menerangi bumi dengan cahaya matahari-Mu untuk selama-lamanya.”
Semoga, insyaa Allah, hati kita, hati keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta hati para pemimpin kita semua dilembutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




