JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Mutiara Hikmah Sabtu, 12 September 2026, Dalam kesempatannya Brother Eggi Sudjana (BES) mengangkat pesan penting dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Al-Munafiqun ayat 9-10.
Melalui dua ayat tersebut, Brother Eggi Sudjana mengajak umat Islam untuk merenungkan dua hal penting dalam menjalani kehidupan, yakni jangan sampai harta dan anak-anak melalaikan manusia dari mengingat Allah, serta jangan menunda berinfak hingga kematian datang.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَاۤ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 9
Kemudian Allah berfirman:
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.'”
QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 10
Dua Pesan Penting dari Allah
Menurut Brother Eggi Sudjana, dua ayat tersebut merupakan peringatan keras agar manusia tidak terlena oleh kehidupan dunia.
Pertama, jangan sampai harta dan anak melalaikan manusia dari mengingat Allah.
Harta dan keluarga pada dasarnya merupakan nikmat dan amanah. Namun, ketika keduanya membuat seseorang meninggalkan kewajiban kepada Allah, maka justru dapat menjadi sumber kerugian.
Kerugian tersebut bukan hanya berkaitan dengan kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat.
Harta bisa habis, sementara anak-anak pun belum tentu menjadi sumber kebahagiaan apabila tidak dibimbing dengan baik. Di sisi lain, kesibukan mengejar dunia dapat membuat seseorang menunda salat, meninggalkan membaca Al-Qur’an, atau tidak menghadiri majelis ilmu.
Kedua, segera berinfak sebelum kematian datang.
Brother Eggi Sudjana menekankan bahwa QS. Al-Munafiqun ayat 10 menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian telah datang. Pada saat itu, seseorang berharap diberikan kesempatan hidup kembali walaupun hanya sebentar agar dapat bersedekah dan menjadi orang saleh.
Mengapa yang Diminta adalah Sedekah?
Brother Eggi Sudjana kemudian mengajukan pertanyaan yang mendalam: mengapa dalam ayat tersebut manusia yang telah menghadapi kematian meminta kesempatan untuk bersedekah, bukan meminta kesempatan untuk melaksanakan haji, salat, puasa, atau mengucapkan syahadat?
Menurutnya, pertanyaan tersebut mengandung pelajaran penting tentang power of infaq atau kekuatan sedekah.
Ada empat kekuatan utama yang disorot.
1. Power Terakhir
Sedekah menjadi salah satu amal yang sangat ditekankan untuk dilakukan sebelum kesempatan hidup berakhir.
Manusia tidak boleh menunggu sampai ajal mendekat untuk berbuat baik. Selama masih hidup, kesempatan beramal harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
2. Power Penghapus Dosa
Sedekah juga memiliki keutamaan sebagai salah satu amal yang dapat menjadi sebab terhapusnya dosa.
Dalam hadis disebutkan:
الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.”
HR. Tirmidzi.
Pesan ini menjadi pengingat agar manusia tidak hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi juga menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan kebaikan.
3. Power Bukti Iman
Menurut Brother Eggi Sudjana, infak dan sedekah juga merupakan bentuk nyata dari kecintaan seorang hamba kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
QS. Ali ‘Imran 3:92
Karena itu, sedekah bukan sekadar memberikan sesuatu yang tidak lagi diperlukan. Lebih dari itu, sedekah menjadi latihan untuk melepaskan kecintaan berlebihan terhadap harta.
4. Power Sedekah Jariyah
Brother Eggi Sudjana juga mengingatkan tentang sedekah jariyah, yakni amal yang manfaat dan pahalanya dapat terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
اِذَا مَاتَ ابْنُ اٰدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara…”
Di antaranya adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Mengapa Manusia Sulit Berinfak?
Dalam analisis yang disampaikan Brother Eggi Sudjana, terdapat beberapa hal yang menyebabkan manusia sulit mengeluarkan hartanya untuk berinfak.
Salah satunya adalah takut miskin.
Allah berfirman:
الشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan.”
QS. Al-Baqarah 2:268
Ketakutan tersebut dapat membuat manusia terlalu mencintai harta dan berpikir bahwa sedekah akan mengurangi kekayaan.
Padahal, dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:
مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
Selain takut miskin, kecintaan berlebihan terhadap dunia juga dapat membuat seseorang lupa bahwa harta merupakan titipan Allah.
Karena itu, sedekah seharusnya tidak dipandang sebagai uang yang hilang, tetapi sebagai bentuk investasi untuk kehidupan akhirat.
Cerdas, Berani dan Militan dalam Berinfak
Brother Eggi Sudjana kemudian mengaitkan sikap dalam berinfak dengan prinsip CBM: Cerdas, Berani, Militan.
Cerdas, yakni memahami bahwa harta merupakan amanah dan sedekah tidak akan mengurangi keberkahan rezeki.
Berani, yaitu berani melawan rasa pelit dan tidak membiarkan kecintaan terhadap harta menguasai hati.
Militan, yakni membangun kebiasaan berinfak secara konsisten dan tidak menunggu menjadi kaya terlebih dahulu.
Dua Ayat, Dua Arah Kehidupan
Brother Eggi Sudjana menyimpulkan bahwa QS. Al-Munafiqun ayat 9 dan 10 memberikan dua arah penting bagi kehidupan seorang Muslim.
Pertama, jangan biarkan harta dan anak menguasai hati hingga melalaikan dari mengingat Allah.
Kedua, gunakan harta sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui infak dan sedekah.
Penyesalan manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang harus ditunggu. Selagi masih diberikan kesempatan hidup, manusia harus memperbanyak amal saleh dan memanfaatkan rezeki yang diberikan Allah untuk kebaikan.
Di akhir renungannya, Brother Eggi Sudjana mengajak umat Islam untuk memanjatkan doa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُنْفِقِيْنَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang gemar berinfak dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Salam Jihad. Brother Eggi Sudjana (BES)




