Mutiara Hikmah, Eggi Sudjana: 5 Ciri Fir’aun dalam Kekuasaan, Penindasan Adu Domba hingga Janji Allah bagi Kaum Tertindas

 JAKARTA | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah Selasa, 13 Oktober 2026, menguraikan kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun berdasarkan Al-Qur’an Surah Al-Qasas ayat 2–5. Dalam narasinya, Eggi mengajak umat memahami lima ciri Fir’aun yang menurutnya dapat menjadi bahan refleksi dalam membaca persoalan kekuasaan, perpecahan masyarakat, penindasan, hingga kerusakan sistem kehidupan pada masa kini dan masa mendatang.

Kajian tersebut menghubungkan pembahasan Nafsul Mutmainnah atau jiwa yang tenang dengan perjuangan melawan kezaliman. Melalui pendekatan yang disebutnya sebagai Ost Jubedil, Eggi menekankan bahwa ketenangan jiwa bukan berarti berdiam diri ketika menyaksikan ketidakadilan.

Dalam naskah Mutiara Hikmah yang disampaikan pada Selasa, 13 Oktober 2026, Eggi mengawali pembahasannya dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

تِلْكَ اٰيٰتُ الْـكِتٰبِ الْمُبِيْنِ

“Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah).”

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 2).

Selanjutnya, Allah SWT berfirman:

نَـتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِا لْحَـقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 3).

Kemudian, firman Allah SWT dalam Surah Al-Qasas ayat 4 menjelaskan:

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَـعًا يَّسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَآءَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

“Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir’aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.”

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 4).

Adapun Surah Al-Qasas ayat 5 berbunyi:

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَئِمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 5).

Eggi kemudian menjelaskan bahwa kisah Musa dan Fir’aun merupakan pelajaran yang dapat direnungkan dalam kehidupan sekarang.

“Bahwasanya telah jelas fakta yang terjadi di muka Bumi ini di Mesir contoh nya mengenai Kisah Musa dan Firaun, Ayat Qur’an dari Ayat 2 sd 5 dari Surah Al-Qasas, menerangkan KELAKUAN BEJAD nya Fir’aun yang dilawan oleh Nabi Musa AS, seperti tertulis jelas di Ayat 4 nya dari Surah Al-Qasas tersebut, kini bagaimana memahami dalam dimensi hari Ini dan akan datang di kemudian Hari, mengenai kelakuan Bejad nya Fir’aun?”

Eggi kemudian memberikan jawaban yang menjadi pokok pembahasan Mutiara Hikmah kali ini.

“QS AL-QASAS 2-5 – DARI NAFSUL MUTMAINNAH KEMARIN MENUJU MELAWAN KELAKUAN BEJAD FIR’AUN HARI INI.”

Menurutnya, pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari kajian sebelumnya mengenai akhir perjalanan Nafsul Mutmainnah menuju Jannati.

“Tadabbur BES hari ini sangat tajam. Kalau Senin kemarin kita bahas akhir perjalanan: Nafsul Mutmainnah masuk Jannati, hari ini Selasa kita bahas awal perlawanan: Musa melawan Fir’aun.”

Ia menegaskan, rangkaian pembahasan tersebut merupakan siklus lengkap Ost Jubedil.

QS. Al-Qasas Ayat 2: Kitabul Mubin dan Pola Fir’aun

Baca juga:  Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) Desak BPK RI Segera Audit Dana MRP Se-Tanah Papua

Dalam menguraikan ayat kedua, Eggi menyoroti istilah Mubin yang berarti jelas.

“Allah buka kisah Musa-Fir’aun dengan kata MUBIN – jelas. Bukan dongeng, bukan mitos. Kitab yang menjelaskan dengan terang. Artinya kelakuan Fir’aun itu pola yang jelas, berulang, dan bisa dibaca. Tidak samar. Siapa yang belajar Qur’an pasti kenal Fir’aun zaman ini,” tulisnya.

Bagi Eggi, ayat tersebut menjadi landasan untuk membaca pola perilaku yang ia hubungkan dengan kesewenang-wenangan kekuasaan dalam kehidupan masa kini.

QS. Al-Qasas Ayat 3: Kebenaran untuk Orang Beriman

Pada ayat ketiga, Eggi kembali mengutip firman Allah SWT:

نَتْلُو عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Kami bacakan kepadamu sebagian kisah Musa dan Fir’aun dengan sebenarnya (bil Haqq) untuk orang-orang yang beriman.”

Ia menjelaskan dua kunci utama dalam ayat tersebut, yakni Bil Haqq dan Liqaumin yu’minun.

“Bil Haqq – dengan kebenaran. Bukan hoax, bukan OMON2. Fakta. Seperti fakta 300T, fakta pagar laut, fakta hutan dirusak,” tulis Eggi.

Sementara itu, mengenai Liqaumin yu’minun, ia menyatakan bahwa kisah tersebut ditujukan bagi orang-orang yang beriman.

“Hanya orang beriman yang paham kisah ini. Orang yang syirik uang jabatan kemarin Ahad tidak akan paham, dia akan bela Fir’aun,” lanjutnya.

Lima Ciri Fir’aun dalam Dimensi Kehidupan Masa Kini

Dalam bagian utama kajiannya, Eggi menguraikan lima ciri Fir’aun sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Qasas ayat 4. Ia kemudian menghubungkan setiap ciri dengan persoalan yang menurut pandangannya terjadi dalam kehidupan masa kini dan berpotensi berlanjut pada masa mendatang.

1. Kesewenang-wenangan dan Kesombongan Kekuasaan

Ciri pertama merujuk pada penggalan ayat:

عَلَا فِي الْأَرْضِ

Yang berarti berbuat sewenang-wenang di bumi dan merasa tinggi.

Eggi menjelaskan bahwa Fir’aun merasa paling tinggi dan paling berkuasa. Ia menghubungkannya dengan ungkapan Ana Rabbukumul A’la atau “Akulah Tuhan paling tinggi” sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nazi’at ayat 24.

“Fir’aun merasa paling tinggi, paling berkuasa, Ana Rabbukumul A’la – Akulah Tuhan paling tinggi (QS 79:24). Tidak mau dikritik, tidak mau diadili,” tulisnya.

Dalam dimensi masa kini, Eggi mengkritik penguasa yang menurutnya merasa berada di atas hukum.

“Penguasa yang merasa di atas hukum. Ubah konstitusi seenaknya (MK), merasa kebal, tidak bisa disentuh. Oligarki yang merasa pemilik bumi, hutan boleh dibabat, laut boleh dipagar, rakyat kecil tidak ada artinya. Inilah ‘Ala – kesombongan struktural,” demikian narasinya.

2. Memecah Belah Masyarakat

Ciri kedua merujuk pada penggalan ayat:

وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا

Yakni menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok dan terpecah belah.

Eggi menyebut strategi tersebut sebagai Devide et Impera atau politik pecah belah.

“Strategi utama Fir’aun: Devide et Impera – pecah belah. Bani Israil diadu domba, kelompok dibuat fanatik buta,” tulisnya.

Dalam konteks sekarang, ia menyinggung politik identitas, buzzer bayaran, polarisasi, dan pertentangan antarkelompok masyarakat.

“Politik identitas, buzzer bayaran, polarisasi, rakyat dipecah jadi cebong kampret, dibuat ribut antar sesama sementara oligarki rampok di atas. Rakyat dibuat Shiya’an – kelompok-kelompok yang saling benci, sehingga lupa siapa Fir’aun sebenarnya. Inilah kerjaan OMON2 Rabu,” lanjutnya.

3. Menindas dan Melemahkan Kelompok Masyarakat

Baca juga:  Mutiara Hikmah, QS As-Saff 61:1-4, Eggi Sudjana Soroti “OMON - OMON”: Jangan Bicara Berantas Korupsi Jika Kasus Tak Pernah Final

Ciri ketiga terdapat dalam penggalan ayat:

يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ

Eggi menjelaskan istilah Yastad’ifu sebagai tindakan membuat pihak lain lemah secara sistematis.

“Yastad’ifu – membuat lemah secara sistematis. Bukan lemah alami, tapi dilemahkan,” tulisnya.

Dalam bidang ekonomi, ia menyoroti masyarakat kecil, UMKM yang digusur, petani yang kehilangan tanah, serta nelayan yang menurut narasinya tidak bisa melaut karena persoalan pagar laut sepanjang 30 kilometer.

Dalam bidang hukum, Eggi mengkritik kondisi ketika aktivis menurutnya dikriminalisasi, masyarakat yang melapor justru menjadi tersangka, serta pihak yang ia sebut sebagai koruptor bernilai 300 triliun yang dilindungi.

Adapun dalam bidang pendidikan, ia menyoroti kondisi masyarakat yang sengaja dibuat bodoh agar mudah dikuasai.

“Inilah lawan dari QS Al-Qasas 2 Kitabul Mubin yang mencerdaskan,” tulisnya.

4. Menghancurkan Generasi Penerus dan Mengeksploitasi Perempuan

Ciri keempat berkaitan dengan penggalan ayat:

يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ

Ayat tersebut menjelaskan tindakan Fir’aun membunuh anak laki-laki Bani Israil dan membiarkan hidup anak perempuan mereka.

Eggi menjelaskan bahwa tindakan tersebut dapat dipahami dari sisi sejarah maupun secara maknawi.

“Secara fisik Fir’aun bunuh bayi laki-laki karena takut kekuasaannya direbut. Secara maknawi,” tulisnya.

Dalam pembahasan Yudzabbihu Abna’ahum, Eggi menggambarkan penghancuran potensi generasi penerus bangsa.

“Bunuh potensi anak bangsa, bunuh carakter. Narkoba dibiarkan merajalela untuk bunuh generasi muda, lapangan kerja dipersempit, anak muda dibuat pengangguran, beasiswa dipotong, generasi pejuang dimatikan karakternya. Juga secara harfiah: penculikan, pembunuhan aktivis muda yang melawan,” demikian narasi yang disampaikannya.

Sementara itu, melalui istilah Wayastahyi Nisa’ahum, ia menyoroti persoalan eksploitasi perempuan.

“Perempuan dibiarkan hidup tapi untuk diperas, dieksploitasi, dijadikan objek. Perempuan pekerja diupah murah, TKW disiksa, perempuan korban kekerasan tidak dilindungi, tapi dijadikan komoditas industri hiburan. Hidup tapi tidak merdeka,” tulis Eggi.

5. Merusak Sistem Kehidupan

Ciri kelima merujuk pada penggalan ayat:

اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

Eggi menjelaskan istilah Mufsidin sebagai gambaran orang-orang yang berbuat kerusakan.

“Puncaknya: Mufsidin. Bukan hanya zalim, tapi perusak sistem kehidupan. Merusak ekologi, merusak moral, merusak hukum,” tulisnya.

Ia kemudian menguraikan tiga bentuk kerusakan yang menjadi perhatiannya.

Pertama, kerusakan bumi yang ia kaitkan dengan batu bara, hutan, tambang ilegal bernilai 300 triliun, dan persoalan pagar laut. Ia menyebutnya sebagai Mufsidin ekologi.

Kedua, kerusakan konstitusi yang ia hubungkan dengan Mahkamah Konstitusi dan undang-undang pesanan, yang disebutnya sebagai Mufsidin hukum.

Ketiga, kerusakan akal sehat yang ia kaitkan dengan OMON2 dan ghurur atau janji palsu, dengan merujuk pada QS. An-Nisa ayat 120. Ia menyebutnya sebagai Mufsidin pikiran.

Dalam bagian ini, Eggi juga menyinggung dugaan ijazah palsu Joko Widodo.

“Dugaan Ijasah Palsu nya jokowido, hingga 3 X ke Pengadilan Negeri [PN] Jakarta Pusat, Surakarta dan kembali ke Jakarta Pusat serta DUMAS ke BARESKRIM Tgl 9 Desember 2024 dan GPK [Gelar Perkara Khusus] di Mabes Polri tgl 9 July 2025,” tulisnya.

Pernyataan tersebut merupakan klaim yang tercantum dalam narasi Eggi dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran hukum.

QS. Al-Qasas Ayat 5: Janji Allah bagi Orang-Orang yang Tertindas

Baca juga:  Rembuknas & HUT Pertama Partai Perubahan: Muhammad Ghufron Resmi Jadi Ketua Umum, Tegaskan Komitmen Kerakyatan

Setelah menguraikan kelima ciri Fir’aun, Eggi mengarahkan pembahasan pada QS. Al-Qasas ayat 5 yang menurutnya menjadi bagian penting dalam memahami janji Allah kepada orang-orang yang tertindas.

Ia mengutip firman Allah SWT:

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka pewaris bumi.”

Eggi kemudian menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan jawaban Allah setelah penggambaran empat perilaku buruk Fir’aun sebelumnya.

“Ini jawaban Allah. Setelah 4 kelakuan bejad, Allah bilang Wa Nuridu – Dan Kami berkehendak,” tulisnya.

Ia menguraikan tiga hal penting dalam ayat tersebut.

Pertama, Allah memberikan karunia kepada Mustad’afin, yakni orang-orang yang tertindas, yang sebelumnya mengalami tindakan Yastad’ifu.

Kedua, mereka dijadikan Aimmah atau pemimpin. Menurut Eggi, mereka tidak selamanya berada dalam posisi tertindas, tetapi dapat menjadi pemimpin.

Ketiga, mereka dijadikan Waritsin atau pewaris bumi. Ia menghubungkan makna tersebut dengan gambaran Fir’aun yang merasa menjadi pemilik bumi, sementara Allah menjanjikan kedudukan bagi orang-orang yang tertindas.

“Inilah yang BES Ikhtiarkan / perjuangkan selama ini hingga detik ini. Dari Mustad’af menjadi Waritsin. Dari Nafsul Mutmainnah kemarin jiwa yang tenang, menjadi pemimpin yang melawan Fir’aun hari ini,” tulisnya.

Konstruksi Ost Jubedil BES: Anti-Syirik, Nafsul Mutmainnah, dan Melawan Fir’aun

Dalam bagian berikutnya, Eggi menghubungkan materi Mutiara Hikmah dari Ahad hingga Selasa sebagai satu rangkaian pemikiran.

“Ahad lalu anti syirik -> Senin Nafsul Mutmainnah -> Selasa Musa melawan Fir’aun. Tidak bisa Mutmainnah kalau diam melihat Fir’aun. Jiwa tenang bukan jiwa diam, tapi jiwa yang melawan Fir’aun dengan dzikir Berdiri Duduk Berbaring jadi jiwa yang hidup adalah selalu BERJIHAD [Q.S. 2 ayat 218 Jo Q.S. 3 ayat 142 Jo Q.S. 5 ayat 54 Jo Q.S. 9 ayat 105 dan 111],” demikian narasi yang disampaikan Eggi.

Melalui rangkaian tersebut, ia menekankan bahwa jiwa yang tenang harus tetap disertai kesadaran dan perjuangan menghadapi kezaliman.

Dimensi Akan Datang: Fir’aun Digital, Ekologi, dan Hukum

Eggi juga memperingatkan bahwa menurut pandangannya, kelakuan Fir’aun dapat terus muncul dalam bentuk baru pada masa mendatang.

Ia menyebut tiga bentuk yang perlu diwaspadai, yakni Fir’aun digital, Fir’aun ekologi, dan Fir’aun hukum.

Fir’aun digital digambarkan sebagai pihak yang menguasai data dan menggunakan kecerdasan buatan atau AI untuk mengontrol rakyat.

Fir’aun ekologi menggambarkan korporasi yang menguasai air dan pangan.

Sementara Fir’aun hukum menggambarkan kekuasaan yang tidak mau berakhir.

Eggi kemudian menegaskan kembali keyakinannya terhadap pesan QS. Al-Qasas ayat 5.

“Tapi janji ayat 5 pasti: Mustad’afin akan jadi Waritsin. Sejarah Mesir membuktikan Fir’aun tenggelam, Musa menang. Sejarah Indonesia akan sama,” tulisnya.

Melalui Mutiara Hikmah tersebut, Eggi mengajak pembaca memahami kisah Musa dan Fir’aun sebagai pelajaran mengenai kekuasaan, penindasan, perpecahan, serta perjuangan orang-orang yang tertindas. Ia juga menghubungkan pesan tersebut dengan rangkaian Ost Jubedil, yang menurutnya menempatkan anti-syirik, Nafsul Mutmainnah, dan perjuangan melawan kezaliman dalam satu kesinambungan.

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar.

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Rumus Jiwa Tenang: Anti-Syirik dan Dzikir 24 Jam Menuju Surga Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH.,...

Warga Sukmajaya Tolak Kafe Samping Masjid Al-Huda Depok dan Tutup Permanen

DEPOK | MATA PENA INDONESIA — Kebijakan dan komitmen Pemerintah Kota...

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Rumus Jiwa Tenang: Anti-Syirik dan Dzikir 24 Jam Menuju Surga Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah Senin, 12 Oktober 2026, menguraikan...

Warga Sukmajaya Tolak Kafe Samping Masjid Al-Huda Depok dan Tutup Permanen

DEPOK | MATA PENA INDONESIA — Kebijakan dan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam menjaga kondusivitas sosial serta keberadaan rumah ibadah kini tengah diuji. Gelombang penolakan keras...

Mutiara Hikmah,  QS An-Nisa Ayat 116–121, Eggi Sudjana: Mengapa Syirik Tidak Diampuni, Bukankah Allah Maha Pengampun?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali mengangkat persoalan mendasar...