BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Setiap manusia yang beriman tentu mengharapkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rahmat Allah merupakan salah satu karunia terbesar yang dibutuhkan manusia, baik dalam menjalani kehidupan di dunia maupun dalam perjalanan menuju kehidupan akhirat.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana cara mendapatkan rahmat Allah?
Dalam kajian Tadabbur Al-Qur’an Mutiara Hikmah Selasa, 8 September 2026, Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana (BES) menjelaskan sedikitnya terdapat enam perkara yang harus senantiasa dilakukan oleh seorang Muslim dalam upaya mengejar rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebelum memahami enam perkara tersebut, menurut kajian ini, penting terlebih dahulu memahami pertanyaan mendasar:
Apa Itu Rahmat Allah?
Secara bahasa, kata rahmat berasal dari bahasa Arab الرَّحْمَة, yang bermakna kasih sayang, kelembutan dan belas kasih yang mendatangkan kebaikan.
Rahmat Allah dapat dipahami sebagai segala bentuk kebaikan, kasih sayang dan karunia yang Allah berikan kepada makhluk-Nya, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat.
Dalam penjelasan para ulama, rahmat Allah juga dimaknai sebagai kehendak Allah untuk memberikan nikmat dan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Artinya:
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A’raf: 156)
Rahmat Allah begitu luas dan meliputi seluruh makhluk. Namun, dalam kajian ini dijelaskan bahwa terdapat dua bentuk rahmat Allah yang penting untuk dipahami.
1. Rahmat ‘Ammah atau Rahmat Umum
Rahmat umum adalah kasih sayang dan kebaikan Allah yang diberikan kepada seluruh makhluk-Nya.
Contohnya adalah udara untuk bernapas, hujan, sinar matahari, rezeki, kesehatan dan berbagai nikmat kehidupan lainnya.
Rahmat ini dapat dirasakan oleh seluruh manusia, baik orang yang beriman maupun yang belum beriman.
2. Rahmat Khosshoh atau Rahmat Khusus
Rahmat khusus merupakan rahmat yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan berusaha menjalankan ketaatan kepada-Nya.
Rahmat khusus ini dapat berupa hidayah, keimanan, taufik untuk berbuat baik, ketenangan hati, ampunan dosa hingga surga dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman:
فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَاعْتَصَمُوْا بِهٖ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِيْ رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍۙ وَّيَهْدِيْهِمْ اِلَيْهِ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۗ ١٧٥
Artinya:
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya serta menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya.”
(QS. An-Nisa: 175)
Menurut kajian tersebut, rahmat yang harus dikejar oleh orang-orang beriman adalah Rahmat Khosshoh, karena rahmat inilah yang akan mengantarkan manusia menuju ampunan, hidayah dan keselamatan hingga memperoleh surga serta ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal tersebut juga diperkuat oleh hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa manusia tidak dapat masuk surga hanya karena amalnya semata, melainkan karena rahmat Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الجَنَّةَ
Artinya:
“Tidak ada seorang pun di antara kalian yang amalnya dapat memasukkannya ke dalam surga.”
Para sahabat bertanya, termasuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Beliau menjawab:
وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ
Artinya:
“Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”
Dengan demikian, amal saleh merupakan bentuk usaha dan pengabdian manusia kepada Allah, sedangkan masuknya seorang hamba ke dalam surga terjadi atas rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Enam Kunci Meraih Rahmat Allah
Berdasarkan tadabbur Al-Qur’an yang disampaikan Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana, terdapat enam perkara yang harus terus diusahakan oleh setiap Muslim dalam mengejar rahmat Allah.
1. Beriman kepada Allah dan Berpegang Teguh kepada Agama-Nya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَاعْتَصَمُوْا بِهٖ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِيْ رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍۙ وَّيَهْدِيْهِمْ اِلَيْهِ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۗ ١٧٥
Artinya:
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya serta menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya.”
(QS. An-Nisa: 175)
Berpegang teguh kepada Allah berarti menjadikan Al-Qur’an, Sunnah dan ajaran agama sebagai pedoman dalam kehidupan.
Dalam kehidupan nyata, keimanan dapat diuji ketika seseorang menghadapi pilihan antara keuntungan duniawi dan jalan yang halal.
Misalnya, seseorang mendapatkan tawaran pekerjaan atau proyek yang mengandung praktik yang bertentangan dengan ajaran agama. Keimanan mendorongnya untuk menolak yang haram dan tetap mencari rezeki yang halal.
Keputusan untuk mempertahankan prinsip tersebut merupakan bagian dari usaha seorang hamba untuk berpegang teguh kepada Allah.
2. Taat kepada Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ ١٣٢
Artinya:
“Taatilah Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) agar kamu diberi rahmat.”
(QS. Ali ‘Imran: 132)
Ketaatan berarti melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya serta berusaha menjauhi segala larangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan terkadang membutuhkan pengorbanan dan keberanian.
Sebagai contoh, ketika seseorang sedang sibuk bekerja atau menghadiri rapat, kemudian tiba waktu salat, ia tetap berusaha memenuhi kewajibannya kepada Allah.
Ketaatan seperti inilah yang menjadi bagian dari usaha manusia dalam mengejar keberkahan dan rahmat Allah.
3. Bersabar Ketika Menghadapi Musibah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِینَ ١٥٥
Artinya:
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Allah kemudian menjelaskan sifat orang-orang yang sabar:
ٱلَّذِینَ إِذَاۤ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِیبَةࣱ قَالُوۤا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّاۤ إِلَیۡهِ رَ ٰجِعُونَ ١٥٦
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”
Allah kemudian berfirman:
أُو۟لَـٰۤىِٕكَ عَلَیۡهِمۡ صَلَوَ ٰتࣱ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةࣱۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧
Artinya:
“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah: 155–157)
Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap menjaga keimanan ketika menghadapi ujian serta tetap berusaha mencari jalan keluar yang benar.
Ketika usaha mengalami kegagalan atau seseorang menghadapi musibah, seorang Muslim diajarkan untuk tidak mencaci takdir dan tetap kembali kepada Allah.
4. Berbuat Baik dan Menjalankan Ihsan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Ihsan dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kebaikan, baik dalam hubungan kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Berbuat baik dapat berupa membantu orang yang membutuhkan, menjaga amanah, berlaku jujur, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin serta tidak menyakiti orang lain.
Setiap bentuk kebaikan yang dilakukan dengan niat mencari ridha Allah merupakan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada rahmat-Nya.
5. Memperbanyak Istighfar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya:
“Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. An-Naml: 46)
Istighfar merupakan pengakuan seorang hamba atas kelemahannya serta permohonan ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan.
Dosa dapat menjadi penghalang bagi manusia untuk mendapatkan berbagai kebaikan. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa memperbaiki diri dan memperbanyak istighfar.
Ketika seseorang melakukan kesalahan, seperti berkata buruk atau membicarakan keburukan orang lain, maka ia tidak hanya dianjurkan untuk beristighfar, tetapi juga meninggalkan perbuatan tersebut dan berusaha memperbaiki diri.
6. Membaca dan Mendengarkan Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya:
“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-A’raf: 204)
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk didengarkan, dipahami, ditadabburi dan diamalkan dalam kehidupan.
Semakin dekat seorang hamba kepada Al-Qur’an, maka semakin besar pula kesempatan baginya untuk mendapatkan petunjuk dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dimensi Allah Berkuasa, Dimensi Manusia Berusaha
Dalam kajian tersebut, Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana menekankan bahwa terdapat dimensi kekuasaan Allah dan dimensi usaha manusia.
Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Namun manusia diperintahkan untuk terus berusaha dalam menjalankan kehidupan dan memperbaiki diri.
Manusia tidak dapat memastikan kapan dan bagaimana rahmat Allah datang. Akan tetapi, manusia dapat terus membuka pintu-pintu menuju rahmat tersebut melalui keimanan, ketaatan, kesabaran, perbuatan baik, istighfar dan kedekatan kepada Al-Qur’an.
Rumus Meraih Rahmat Allah
Kajian Mutiara Hikmah tersebut merangkum enam jalan untuk mengejar rahmat Allah:
IMAN + TAAT + SABAR + IHSAN + ISTIGHFAR + MEMBACA AL-QUR’AN = MEMBUKA PINTU RAHMAT ALLAH
Pada akhirnya, seorang Muslim harus terus berusaha menjalankan enam perkara tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Rahmat Allah adalah karunia yang sangat luas. Karena itu, manusia tidak boleh berhenti berusaha, tidak boleh berputus asa dan harus terus memperbaiki diri.
Kita berusaha, Allah yang menentukan. Kita mengejar rahmat-Nya dengan iman dan amal saleh, sementara Allah Maha Kuasa memberikan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Salam Jihad. Brother Eggi Sudjana (BES)




