BOGOR, MATAPENAINDONESIA.CO.ID — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si., kembali menyampaikan renungan keislaman melalui Mutiara Hikmah Sabtu, (15/8/2026). Dalam kajiannya, Prof. Eggi mengangkat kandungan QS. Al-Balad ayat 10-20, khususnya konsep fakku roqobah atau membebaskan manusia dari belenggu perbudakan.
Menurut Prof. Eggi, pesan QS. Al-Balad tetap relevan untuk direnungkan dalam kehidupan modern. Ia mempertanyakan bagaimana manusia dapat menjalankan amanah Allah untuk menempuh al-‘aqabah, yakni jalan yang mendaki dan sukar, sekaligus menghadapi berbagai bentuk belenggu kehidupan.
QS. Al-Balad Ayat 10-20
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِ
Wa hadainaahun-najdaiin
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).”
(QS. Al-Balad: 10)
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ
Fa laqtahamal-‘aqabah
“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar.”
(QS. Al-Balad: 11)
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ
Wa maa adrooka mal-‘aqabah
“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”
(QS. Al-Balad: 12)
فَكُّ رَقَبَةٍ
Fakku roqobah
“Yaitu melepaskan perbudakan (hamba sahaya).”
(QS. Al-Balad: 13)
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
Au ith’aamun fii yauming dzii masghabah
“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan.”
(QS. Al-Balad: 14)
يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
Yatiiman dzaa maqrabah
“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.”
(QS. Al-Balad: 15)
أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
Au miskiinan dzaa matrabah
“Atau orang miskin yang sangat fakir.”
(QS. Al-Balad: 16)
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
Summa kaana minalladziina aamanuu wa tawaashau bish-shobri wa tawaashau bil-marhamah
“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”
(QS. Al-Balad: 17)
أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ
Ulaa-ika ash-haabul-maimanah
“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”
(QS. Al-Balad: 18)
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
Walladziina kafaruu bi-aayaatinaa hum ash-haabul-masy-amah
“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”
(QS. Al-Balad: 19)
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ
‘Alaihim naarum mu’shadah
“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”
(QS. Al-Balad: 20)
Prof. Eggi: Perbudakan Modern Perlu Direnungkan
Dalam Mutiara Hikmah tersebut, Prof. Eggi Sudjana menilai konsep fakku roqobah tidak hanya dapat direnungkan dalam konteks perbudakan fisik sebagaimana yang dikenal pada masa lalu.
Ia mengajak masyarakat melihat berbagai bentuk ketergantungan, tekanan, dan belenggu kehidupan yang menurutnya dapat muncul dalam berbagai lini kehidupan modern.
Lima bidang yang menjadi perhatian dalam renungan tersebut adalah pendidikan, politik, ekonomi, hukum, dan kebudayaan.
Prof. Eggi memandang bahwa perjuangan membebaskan manusia dari berbagai bentuk belenggu harus dilakukan dengan iman, kesabaran, kasih sayang, ilmu, serta upaya nyata untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan.
Dalam konteks pendidikan, misalnya, ia menekankan pentingnya pendidikan yang membangun akhlak dan nilai keimanan. Dalam bidang ekonomi, perhatian diarahkan kepada persoalan kemiskinan, ketimpangan, utang, serta praktik ekonomi yang dapat menekan masyarakat.
Sementara dalam politik dan hukum, renungan tersebut mengingatkan pentingnya keadilan, amanah, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. Adapun dalam kebudayaan, masyarakat diajak menjaga nilai moral, keluarga, dan akhlak.
Tidak Cukup Hanya Beriman, Tetapi Harus Saling Menguatkan
Prof. Eggi juga menyoroti QS. Al-Balad ayat 17 yang menyebutkan pentingnya iman, saling berpesan dalam kesabaran, dan saling berpesan dalam kasih sayang.
Menurutnya, manusia tidak seharusnya menghadapi berbagai persoalan kehidupan seorang diri.
Semangat tawashou bish-shobr wa tawashou bil-marhamah dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap keluarga, tetangga, masyarakat, anak yatim, kaum miskin, dan siapa pun yang sedang menghadapi kesulitan.
Dengan demikian, konsep fakku roqobah tidak hanya dipahami sebagai pembebasan dari perbudakan, tetapi juga sebagai ajakan untuk membantu sesama keluar dari berbagai belenggu kehidupan.
Lalu Bagaimana dengan Orang yang Mengalami Beban Hidup Sangat Berat?
Dalam renungan lanjutannya, Prof. Eggi mengajukan pertanyaan penting: bagaimana menjelaskan kondisi seseorang yang menghadapi persoalan hidup begitu berat hingga sampai pada tindakan bunuh diri?
Pertanyaan tersebut dikaitkan dengan QS. Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۖ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Tidak Ada Pertentangan antara QS. Al-Balad dan Al-Baqarah 286
Dalam perspektif renungan tersebut, QS. Al-Balad dan QS. Al-Baqarah 286 tidak dipandang bertentangan.
QS. Al-Balad menggambarkan bahwa jalan menuju kebaikan terkadang merupakan jalan yang berat dan membutuhkan perjuangan. Sementara QS. Al-Baqarah 286 menegaskan keadilan Allah bahwa manusia tidak dibebani di luar kesanggupannya.
Keduanya dapat dipahami sebagai pesan yang saling melengkapi: manusia diperintahkan berusaha menghadapi ujian, tetapi pada saat yang sama diajarkan untuk memohon pertolongan Allah dan tidak menghadapi kesulitan seorang diri.
Ayat tersebut juga mengajarkan doa:
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.”
Bunuh Diri dan Pentingnya Menolong Orang yang Sedang Terpuruk
Persoalan bunuh diri juga perlu dilihat dengan pendekatan keagamaan sekaligus kemanusiaan.
Dalam ajaran Islam, bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang. Namun, orang yang sedang mengalami tekanan berat tidak semestinya hanya dihakimi atau dicela. Mereka membutuhkan pertolongan, pendampingan, kasih sayang, dan ikhtiar untuk mendapatkan bantuan yang tepat.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan QS. Al-Balad ayat 17 tentang tawashou bish-shobr dan tawashou bil-marhamah—saling menguatkan dalam kesabaran dan saling menguatkan dalam kasih sayang.
Karena itu, ketika seseorang berada dalam kondisi sangat tertekan, keluarga, sahabat, tokoh agama, masyarakat, maupun tenaga profesional memiliki peran penting untuk hadir dan membantu.
Persoalan kesehatan mental dan tekanan kehidupan juga tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan nasihat. Dalam kondisi berat, mencari bantuan psikolog, psikiater, dokter, atau layanan kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar.
Jalan ‘Aqabah adalah Jalan Kepedulian
Pada akhirnya, Mutiara Hikmah Prof. Eggi Sudjana mengajak umat untuk tidak hanya berbicara mengenai pembebasan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membebaskan sesama dari kesulitan.
Semangat fakku roqobah dapat diwujudkan dengan membantu orang miskin, memperhatikan anak yatim, menegakkan keadilan, memberikan pendidikan yang baik, membangun ekonomi yang berkeadilan, serta menghadirkan kasih sayang di tengah masyarakat.
Pesan QS. Al-Balad ayat 17 menjadi penting:
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
“Saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”
Dengan demikian, jalan al-‘aqabah bukan sekadar jalan yang berat, tetapi jalan perjuangan menuju kehidupan yang lebih adil, manusiawi, dan diridai Allah.
Mutiara Hikmah Prof. Eggi Sudjana pada Sabtu, 15 Agustus 2026, ditutup dengan sebuah ajakan agar manusia tidak menyerah menghadapi kehidupan, tidak membiarkan sesama berjuang sendirian, serta senantiasa memohon pertolongan Allah dalam menghadapi setiap ujian.
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




