Mutiara Hikmah, BES: Generasi Taqwa dan Pelajaran dari Bangsa-Bangsa Terdahulu

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah Senin, 14 September 2026, mengajak umat Islam mengambil pelajaran dari QS. Al-An’am ayat 6 tentang perjalanan generasi terdahulu, kekuasaan, nikmat Allah, dosa, serta pentingnya membangun generasi yang bertakwa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَـكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ قَرْنٍ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَّـكُمْ وَاَرْسَلْنَا السَّمَآءَ عَلَيْهِمْ مِّدْرَارًا ۖ وَّجَعَلْنَا الْاَنْهٰرَ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمْ فَاَهْلَكْنٰهُمْ بِذُنُوْبِهِمْ وَاَنْشَأْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ قَرْنًا اٰخَرِيْنَ

“Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka.”

QS. Al-An’am 6: Ayat 6

Menurut Brother Eggi Sudjana, ayat tersebut memberikan peringatan penting bahwa kekuatan, kekuasaan, kemakmuran dan berbagai kenikmatan dunia bukanlah jaminan keselamatan manusia.

Yang akan menjadi bekal ketika manusia menghadap Allah SWT, menurutnya, bukanlah kekayaan, jabatan ataupun berbagai pencapaian duniawi, melainkan iman dan amal saleh.

QS. Al-An’am Ayat 6 dan Pelajaran Sejarah

Brother Eggi Sudjana menyebut QS. Al-An’am ayat 6 sebagai sebuah “tamparan sejarah” karena Allah menggambarkan bagaimana sebuah generasi dapat memperoleh kekuatan dan berbagai kenikmatan, tetapi kemudian mengalami kehancuran akibat dosa-dosanya.

Ia merangkum pola tersebut dalam empat tahapan.

Pertama, tamkin atau kekuatan.

Suatu bangsa memperoleh kedudukan, kekuatan dan kemampuan menguasai kehidupan dunia.

Kedua, datangnya berbagai nikmat.

Allah memberikan berbagai kenikmatan, termasuk hujan dan sungai yang menjadi sumber kehidupan.

Namun, menurut Brother Eggi Sudjana, kenikmatan tersebut dapat berubah menjadi ujian ketika manusia justru melupakan Allah dan terjerumus dalam berbagai kemaksiatan.

Ketiga, datangnya peringatan.

Manusia mendapatkan peringatan melalui ajaran agama, nasihat para ulama dan berbagai pengingat agar kembali kepada jalan yang benar.

Baca juga:  Rudy Susmanto Ajak Warga Hadiri Open House Lebaran Idul Fitri 1447 H di Stadion Pakansari

Keempat, kehancuran akibat dosa.

Allah berfirman:

فَاَهْلَكْنٰهُمْ بِذُنُوْبِهِمْ

“Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka.”

Bagi Brother Eggi Sudjana, pesan terpenting dari ayat tersebut adalah bahwa nikmat bukanlah jaminan keselamatan. Ketaatan kepada Allah yang menjadi jalan keselamatan.

Pertanyaan tentang Generasi Taqwa

Dari ayat tersebut, Brother Eggi Sudjana kemudian mengangkat pertanyaan mengenai arah pembentukan generasi di Indonesia.

Ia menyoroti gagasan Generasi Emas 2045 dan mempertanyakan sejauh mana pembangunan generasi bangsa juga diarahkan pada pembentukan generasi yang bertakwa kepada Allah SWT.

Menurut pandangan Brother Eggi Sudjana, pembangunan manusia tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi dan pencapaian duniawi. Menurutnya, aspek iman dan ketakwaan juga harus menjadi perhatian utama.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan:

“Adakah gagasan dan perjuangan yang secara khusus mengupayakan terwujudnya Generasi Taqwa?”

Menurutnya, pertanyaan tersebut penting untuk dijawab karena sebuah bangsa bukan hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki iman, akhlak dan amal saleh.

Mengaitkan Ketakwaan dengan Kehidupan Berbangsa

Brother Eggi Sudjana juga menyoroti Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi:

“Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Dari ketentuan tersebut, ia mempertanyakan bagaimana nilai ketuhanan dapat diwujudkan secara lebih nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam materi Mutiara Hikmah ini, Brother Eggi Sudjana menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara agama, hukum dan kehidupan bernegara.

Ia juga mengkritik apa yang menurutnya merupakan stigma terhadap pihak-pihak yang menyuarakan penerapan nilai-nilai syariah.

Namun, pandangan mengenai sistem hukum dan politik tersebut merupakan analisis dan sikap yang disampaikan Brother Eggi Sudjana dalam materi Mutiara Hikmah ini.

Mengapa Generasi Taqwa Penting?

Menurut Brother Eggi Sudjana, gagasan Generasi Taqwa harus dimulai dari pembentukan individu, keluarga dan lingkungan masyarakat.

Ia mengusulkan sebuah roadmap yang ia sebut sebagai “Cetak Generasi Taqwa” dengan tiga pilar utama.

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Waspadai Istidraj, Ketika Kesenangan Justru Bisa Menjadi Jalan Menuju Azab

Pilar Pertama: Taqwa Individu

Pilar pertama dimulai dari anak-anak dan generasi muda.

Brother Eggi Sudjana mengusulkan pembinaan melalui pendidikan agama yang tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga pemahaman fikih, muamalah, akhlak dan tanggung jawab sosial.

Landasan yang ia gunakan antara lain firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

QS. At-Tahrim 66: Ayat 6

Menurutnya, pembentukan generasi bertakwa harus dimulai dari keluarga.

Pilar Kedua: Taqwa Komunitas

Pilar kedua adalah membangun ketakwaan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Brother Eggi Sudjana mendorong penguatan kegiatan sosial, pendidikan agama, kepedulian terhadap sesama serta pembangunan ekonomi yang sesuai dengan prinsip syariah.

Ia mengaitkannya dengan firman Allah:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.”

QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 2

Menurutnya, masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian dan semangat saling membantu dalam kebaikan.

Pilar Ketiga: Taqwa dalam Kehidupan Bernegara

Pilar ketiga berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Brother Eggi Sudjana menyampaikan gagasan agar umat Islam memiliki kader yang mampu berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk politik dan pemerintahan, dengan membawa nilai kejujuran, keberanian, keadilan dan tanggung jawab.

Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan QS. Al-Hajj ayat 41:

الَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ

“Orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf.”

QS. Al-Hajj 22: Ayat 41

Bagi Brother Eggi Sudjana, kekuasaan dan kedudukan seharusnya dipandang sebagai amanah yang harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Prinsip CBM: Cerdas, Berani, Militan

Dalam materi tersebut, Brother Eggi Sudjana juga menghubungkan gagasan Generasi Taqwa dengan prinsip CBM: Cerdas, Berani, Militan.

Cerdas, berarti memiliki ilmu dan kemampuan untuk memahami persoalan kehidupan dengan tetap berpegang pada nilai agama.

Baca juga:  Mengapa Allah Menyebut Sedekah sebagai ‘Pinjaman’? Prof Eggi Sudjana Ungkap Makna QS Al-Baqarah 245

Berani, berarti memiliki keberanian untuk mempertahankan prinsip kebenaran dan keadilan.

Militan, berarti konsisten dalam menjalankan nilai-nilai tersebut dan tidak mudah menyerah dalam perjuangan kebaikan.

Ia juga mengingatkan firman Allah:

اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

QS. Muhammad 47: Ayat 7

Generasi Emas atau Generasi Taqwa?

Pada bagian akhir Mutiara Hikmah, Brother Eggi Sudjana mengajak umat Islam merenungkan kembali orientasi pembangunan generasi.

Menurutnya, istilah Generasi Emas dapat dimaknai sebagai cita-cita pembangunan manusia yang unggul secara duniawi. Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan tersebut harus disertai dengan iman dan ketakwaan.

Sebab, menurutnya, keberhasilan manusia tidak semata-mata diukur dari kekayaan, jabatan, teknologi atau prestasi dunia, tetapi juga dari sejauh mana manusia menjalankan iman dan amal saleh.

Karena itu, ia mengajukan pilihan reflektif:

“Mau Generasi Emas atau Generasi Taqwa?”

Bagi Brother Eggi Sudjana, keduanya tidak semestinya dipertentangkan apabila pembangunan manusia yang unggul juga dibarengi dengan iman, akhlak dan ketakwaan.

Kesimpulan: Membangun Generasi dari Sekarang

Brother Eggi Sudjana menyimpulkan bahwa QS. Al-An’am ayat 6 memberikan pelajaran bahwa sejarah dapat menjadi peringatan bagi generasi setelahnya.

Bangsa yang mendapatkan kekuatan dan berbagai kenikmatan harus tetap menjaga ketakwaan dan tidak terjerumus dalam kesombongan serta kemaksiatan.

Karena itu, menurutnya, pembentukan Generasi Taqwa tidak harus menunggu perubahan besar dari atas. Pendidikan ketakwaan dapat dimulai dari keluarga, kemudian berkembang di lingkungan masyarakat dan diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Ia menegaskan bahwa apa yang dibawa manusia ke dalam kubur bukanlah kekayaan dan berbagai pencapaian duniawi, melainkan iman dan amal saleh.

Sebagai penutup, Brother Eggi Sudjana mengajak umat Islam memanjatkan doa:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

QS. As-Saffat 37: Ayat 100

Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Mutiara Hikmah, BES: Standar Bicara dan Jalan Hidup dalam QS. An-Nisa Ayat 114-115

Oleh: Prof Dr H. Eggi Sudjana SH., M.Si BOGOR |...

Mutiara Hikmah, BES: Harta Jangan Melalaikan, Sedekah Jangan Ditunda

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Mutiara Hikmah Sabtu,...

Curhat Pagi Koh Halim: Istiqamah dalam Ibadah Berawal dari Rasa Membutuhkan Allah

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA –Sebuah  Curhatan Pagi hari...

Mutiara Hikmah BES: Ketika Kebenaran Al-Qur’an Ditinggalkan, Apa Penyebab dan Solusinya?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah, BES: Standar Bicara dan Jalan Hidup dalam QS. An-Nisa Ayat 114-115

Oleh: Prof Dr H. Eggi Sudjana SH., M.Si BOGOR |...

Mutiara Hikmah, BES: Harta Jangan Melalaikan, Sedekah Jangan Ditunda

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Mutiara Hikmah Sabtu,...

Curhat Pagi Koh Halim: Istiqamah dalam Ibadah Berawal dari Rasa Membutuhkan Allah

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA –Sebuah  Curhatan Pagi hari...

Mutiara Hikmah BES: Ketika Kebenaran Al-Qur’an Ditinggalkan, Apa Penyebab dan Solusinya?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Dituding Rapat di Sentul, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor: Itu Fitnah!

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Ketua Komisi I...

Mutiara Hikmah, BES: Standar Bicara dan Jalan Hidup dalam QS. An-Nisa Ayat 114-115

Oleh: Prof Dr H. Eggi Sudjana SH., M.Si BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah, Minggu 13 September 2026,...

Mutiara Hikmah, BES: Harta Jangan Melalaikan, Sedekah Jangan Ditunda

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Mutiara Hikmah Sabtu, 12 September 2026, Dalam kesempatannya Brother Eggi Sudjana (BES)  mengangkat pesan penting dari Allah Subhanahu...

Curhat Pagi Koh Halim: Istiqamah dalam Ibadah Berawal dari Rasa Membutuhkan Allah

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA –Sebuah  Curhatan Pagi hari ini, Jumat 11 September 2026, Koh Halim mengangkat sebuah renungan penting tentang bagaimana seseorang dapat...