BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si atau dengan spaan akrab nya Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah Rabu, 9 September 2026, mengangkat kajian serius mengenai ciri-ciri orang munafik sebagaimana dijelaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Al-Munafiqun ayat 4.
Dalam kajiannya, BES mengingatkan umat Islam agar tidak mudah tertipu oleh penampilan yang mengagumkan, jabatan, kemewahan, popularitas, maupun retorika yang terdengar indah. Sebab, menurutnya, Allah telah memberikan gambaran mengenai orang-orang munafik yang secara lahiriah dapat terlihat meyakinkan, namun sesungguhnya rapuh dan kosong dalam mempertahankan kebenaran.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِذَا رَاَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَامُهُمْۗ وَاِنْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْۗ كَاَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌۗ يَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْۗ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْۗ قَاتَلَهُمُ اللّٰهُۖ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Artinya:
“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?”
(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 4)
Menurut BES, ayat tersebut merupakan gambaran yang sangat dalam mengenai karakter orang munafik.
“Bahwa ayat ini ada dalam Surah ke-63 mengenai ciri-ciri orang-orang munafik, yaitu pertama, tubuh atau performance dirinya mengagumkan. Kedua, pembicaraan atau tutur katanya, retorikanya, mengesankan dan menarik hingga kita seperti terhipnotis untuk mengikutinya. Ketiga, bila dikritik tersinggung dan tidak terima,” demikian substansi kajian BES.
Oleh karena itu, BES mengajak umat Islam yang memiliki karakter CBM, yaitu Cerdas, Berani, dan Militan, agar selalu waspada dan tidak mudah gentar.
Menurutnya, mereka digambarkan Allah seperti kayu yang tersandar. Dari luar terlihat berdiri, tetapi sesungguhnya rapuh dan tidak memiliki kekuatan sendiri.
Ayat “X-Ray” Allah untuk Membongkar Topeng Munafik
BES menyebut QS. Al-Munafiqun ayat 4 sebagai ayat yang dapat diibaratkan sebagai “X-Ray” dari Allah untuk membongkar kemunafikan.
Allah berfirman:
هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ
Artinya:
“Mereka itulah musuh, maka waspadalah terhadap mereka.”
Menurut BES, peringatan tersebut sangat relevan dengan kehidupan zaman sekarang, ketika masyarakat sering kali menilai seseorang hanya berdasarkan tampilan luar, kemampuan berbicara, popularitas, jumlah pengikut di media sosial, jabatan maupun kekuasaan.
Padahal, kata BES, seorang Muslim harus mampu melihat bukan hanya “cover”, tetapi juga isi, rekam jejak dan konsistensi antara perkataan dan perbuatannya.
Tiga Ciri Munafik dalam QS. Al-Munafiqun Ayat 4
1. Performance Mengagumkan
Allah berfirman:
وَاِذَا رَاَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَامُهُمْ
Artinya:
“Apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu.”
BES menjelaskan bahwa seseorang dapat terlihat gagah, rapi, wangi, mengenakan pakaian mahal, memiliki kendaraan mewah, banyak pengikut, atau memiliki jabatan tinggi.
Namun semua itu, menurutnya, tidak otomatis menunjukkan kualitas keimanan dan akhlak seseorang.
Bahaya terbesar adalah ketika manusia tertipu oleh penampilan luar dan lupa memeriksa isi serta perbuatannya.
Dalam kehidupan nyata, BES memberikan gambaran bahwa seseorang dapat berbicara mengenai agama, tetapi perilakunya bertentangan dengan apa yang disampaikannya. Ada pula orang yang tampil dermawan di depan publik, tetapi kebaikannya dilakukan semata-mata untuk pencitraan.
Karena itu, umat Islam diminta tidak hanya melihat kemasan.
2. Retorika yang Mengesankan dan Menghipnotis
Allah kemudian berfirman:
وَاِنْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ
Artinya:
“Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya.”
Menurut BES, orang munafik dapat memiliki kemampuan berbicara yang sangat baik. Kata-katanya terdengar meyakinkan, datanya tampak lengkap, bahasanya menarik, bahkan terkadang dalil dapat digunakan untuk memengaruhi pendengarnya.
Inilah yang disebutnya sebagai bahaya ketika kebenaran kalah oleh kefasihan retorika.
BES mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mengikuti seseorang hanya karena ia pintar berbicara.
“Jangan sampai kita terhipnotis oleh retorika, tetapi lupa menguji apakah perkataannya benar, apakah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta apakah sesuai dengan perbuatannya,” menjadi salah satu pesan utama dalam kajian tersebut.
3. Hatinya Rapuh dan Penakut
Allah juga menggambarkan mereka:
كَاَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ
Artinya:
“Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.”
Kemudian Allah berfirman:
يَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ
Artinya:
“Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka.”
Menurut BES, gambaran tersebut menunjukkan seseorang yang mungkin terlihat kuat dari luar, tetapi sesungguhnya rapuh dalam batin.
Ketika dikritik, langsung tersinggung. Ketika diingatkan, tidak menerima. Ketika mendengar kebenaran yang tidak sesuai dengan kepentingannya, menjadi gelisah.
“Luar kokoh, tetapi dalam keropos,” demikian gambaran yang disampaikan dalam kajian tersebut.
BES menilai bahwa salah satu sebabnya adalah karena tidak adanya pijakan iman yang kuat.
Iman, menurutnya, adalah akar. Tanpa akar yang kuat, seseorang akan seperti kayu tersandar yang mudah tumbang.
Perintah Allah: Waspadalah
Bagian yang menjadi perhatian utama dalam QS. Al-Munafiqun ayat 4 adalah firman Allah:
هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ
“Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka.”
Menurut BES, kata فَاحْذَرْهُمْ merupakan peringatan agar umat memiliki kewaspadaan.
Namun, kewaspadaan bukan berarti bertindak tanpa ilmu.
Justru, umat Islam harus meningkatkan kecerdasan dan kemampuan melakukan tabayyun, memeriksa rekam jejak, menilai fakta, serta membandingkan perkataan seseorang dengan perbuatannya.
BES kemudian mengaitkannya dengan prinsip CBM: Cerdas, Berani dan Militan.
Cerdas: Jangan Tertipu Cover
Sikap cerdas berarti tidak langsung terpukau oleh penampilan maupun pidato.
Seseorang harus dilihat rekam jejak dan konsistensinya.
Pidato yang baik harus dibuktikan dengan perilaku yang baik.
Berani: Jangan Gentar Menghadapi Kebatilan
Menurut BES, seorang Muslim tidak boleh takut menyampaikan kebenaran hanya karena seseorang memiliki kekuasaan, popularitas, pengikut atau kekuatan retorika.
Jika sebuah kebenaran memiliki dasar yang kuat, maka harus disampaikan dengan ilmu dan cara yang benar.
Militan: Istiqamah Memegang Kebenaran
Militan dalam konteks kajian ini adalah memiliki keteguhan dalam memegang prinsip dan kebenaran.
BES mengajak umat agar tidak mengorbankan akidah dan prinsip hanya demi kepentingan dunia.
Menurutnya, kemunafikan dapat terlihat kuat ketika berada di panggung, tetapi akan terlihat rapuh ketika menghadapi ujian.
Muhasabah: Jangan-Jangan Kita Memiliki Sifat yang Sama
BES mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukan hanya menemukan sifat munafik pada orang lain.
Setiap orang juga harus melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri.
Ada tiga pertanyaan penting yang perlu diajukan:
Pertama, apakah ibadah yang dilakukan hanya untuk membuat orang lain kagum?
Hal tersebut berkaitan dengan bahaya riya.
Kedua, apakah seseorang pandai berbicara dan berdakwah, tetapi tidak menjalankan apa yang disampaikan?
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff: Ayat 3)
Ketiga, apakah kita mudah tersinggung ketika menerima nasihat?
Menurut BES, kemampuan menerima nasihat merupakan bagian penting dalam menjaga hati agar tidak dikuasai kesombongan.
Doa yang disampaikan dalam kajian tersebut adalah:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ النِّفَاقِ
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemunafikan.”
Mukmin dan Munafik di Era Media Sosial
Dalam lanjutan kajiannya, BES menyampaikan materi mengenai tujuh perbedaan mukmin dan munafik di era media sosial.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat setiap orang dapat membangun citra. Karena itu, umat harus semakin berhati-hati agar tidak menjadikan media sosial sebagai sarana pencitraan semata.
1. Niat dan Motif
Seorang mukmin berusaha melakukan sesuatu karena Allah.
Sedangkan sifat munafik ditandai dengan kecenderungan melakukan sesuatu hanya agar dilihat manusia.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 142 mengenai sifat orang yang melakukan sesuatu dengan tujuan riya.
2. Penampilan
Seorang mukmin berusaha menjaga keselarasan antara lahir dan batin.
Sedangkan seseorang yang hanya mengutamakan penampilan dapat terlihat sangat baik di hadapan publik, tetapi kosong dalam perbuatan.
3. Ucapan
Mukmin dituntut untuk menyampaikan قَوْلًا سَدِيْدًا, yaitu perkataan yang benar.
Sedangkan retorika yang indah tidak memiliki nilai apabila tidak disertai kejujuran dan amal.
4. Ketika Menghadapi Ujian
Mukmin diajarkan untuk bersabar ketika menghadapi kesulitan dan bersyukur ketika memperoleh kenikmatan.
Sebaliknya, orang yang tidak memiliki pijakan iman yang kuat akan mudah panik dan menyalahkan orang lain ketika menghadapi tekanan.
5. Sikap di Media Sosial
Media sosial seharusnya dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan dan menyebarkan manfaat.
Namun BES mengingatkan agar teknologi tidak digunakan untuk ghibah, pencitraan berlebihan, adu domba maupun penyebaran informasi yang tidak benar.
6. Sikap terhadap Syariat
Seorang mukmin dituntut memiliki sikap:
سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا
Artinya:
“Kami mendengar dan kami taat.”
Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan bagian dari keimanan.
7. Lingkungan dan Lingkaran Pergaulan
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap seseorang.
Seorang mukmin seharusnya berada dalam lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan.
Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 71 mengenai hubungan antara mukmin laki-laki dan perempuan yang saling menjadi penolong dalam kebaikan.
Rumus Deteksi Cepat: 3T
BES juga menyampaikan konsep sederhana untuk melakukan muhasabah terhadap karakter seseorang, yaitu 3T atau Test.
Test Uang
Bagaimana seseorang ketika dihadapkan pada keuntungan yang berasal dari sesuatu yang tidak benar?
Test Jabatan
Bagaimana seseorang ketika memperoleh kedudukan dan kekuasaan?
Apakah ia tetap rendah hati atau justru menjadi sombong?
Test Kritik
Bagaimana seseorang ketika diberikan nasihat dan kritik?
Apakah mampu menerima dan memperbaiki diri, atau justru menyerang balik?
Menurut BES, ujian-ujian tersebut dapat menunjukkan kualitas karakter seseorang.
Pesan untuk Kader KORLABI CBM
Kepada kader dan umat Islam, BES menyampaikan tiga pesan utama.
CERDAS: Jangan mudah silau oleh jumlah pengikut, penampilan maupun kemewahan.
BERANI: Sampaikan kebenaran dengan ilmu dan tidak takut menghadapi tekanan.
MILITAN: Istiqamah dalam mempertahankan akidah dan prinsip kebenaran.
BES juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW:
اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَاَحَبُّ اِلَى اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ
Artinya:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim No. 2664)
Penutup
Pada akhirnya, BES menyimpulkan bahwa orang munafik dapat diibaratkan sebagai “kayu tersandar”.
Dari luar terlihat kuat dan mengagumkan, tetapi di dalam tidak memiliki akar yang kuat.
“Luar mengkilap, tetapi dalam kosong. Kuat di orasi, tetapi lemah dalam akidah. Keras di media, tetapi ciut ketika menghadapi ujian,” menjadi gambaran yang disampaikan dalam Mutiara Hikmah tersebut.
Karena itu, tugas umat Islam adalah memperkuat ilmu, memperbaiki diri dan tidak mudah tertipu oleh penampilan maupun retorika.
Bongkar topeng dengan ilmu, lawan kebatilan dengan kebenaran, dan jangan takut hanya karena suara yang keras.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَاتَلَهُمُ اللّٰهُۖ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Artinya:
“Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran?”
(QS. Al-Munafiqun: Ayat 4)
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga hati kita dari sifat kemunafikan, menjadikan kita manusia yang jujur antara perkataan dan perbuatan, serta memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah di jalan kebenaran.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




