Mutiara Hikmah BES: QS Ibrahim Ayat 2-3, Siapa Golongan yang Diingatkan Allah dan Bagaimana Kondisi Kekinian?

BOGOR, MPI — Prof. Dr. BES dalam Mutiara Hikmah Selasa, (1/9/2026), mengangkat tema peringatan Allah SWT dalam Al-Qur’an mengenai manusia yang ingkar dan lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.

Kajian tersebut merujuk kepada firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 2:

اللّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ وَوَيْلٌ لِّلْكٰفِرِيْنَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ

“Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Celakalah bagi orang yang ingkar kepada Tuhan karena siksaan yang sangat berat.”

(QS. Ibrahim [14]: 2)

Dalam ayat tersebut terdapat peringatan:

وَوَيْلٌ لِّلْكٰفِرِيْنَ

“Celakalah bagi orang-orang yang ingkar.”

Lalu muncul pertanyaan, siapakah golongan yang dimaksud dalam peringatan tersebut?

Jawabannya dijelaskan Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 3:

ٱلَّذِيْنَ يَسْتَحِبُّوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى الْاٰخِرَةِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَيَبْغُوْنَهَا عِوَجًا ۗ اُولٰٓئِكَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ

“(Yaitu) orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada (kehidupan) akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan (jalan yang) bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”

(QS. Ibrahim [14]: 3)

Menurut kajian Prof. Dr. BES, ayat tersebut memberikan tiga gambaran mengenai perilaku yang harus menjadi bahan introspeksi bagi setiap manusia.

Pertama, lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.

Kedua, menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.

Ketiga, menginginkan jalan yang lurus menjadi bengkok.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana ketiga persoalan tersebut dapat dipahami dalam perspektif kondisi kekinian?

INI AYAT PERINGATAN KERAS

Dalam kajiannya, Prof. Dr. BES menyebut QS. Ibrahim ayat 2 dan 3 sebagai peringatan yang perlu dijadikan bahan muhasabah.

Allah SWT menjelaskan tiga ciri yang harus menjadi perhatian.

Kajian ini, menurut Prof. Dr. BES, bukan ditujukan untuk menghakimi orang per orang, melainkan sebagai bahan introspeksi terhadap perilaku, pemikiran dan sistem kehidupan yang dapat menjauhkan manusia dari jalan kebaikan.

1. MENYUKAI KEHIDUPAN DUNIA DARIPADA AKHIRAT

ٱلَّذِيْنَ يَسْتَحِبُّوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى الْاٰخِرَةِ

“Orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.”

Dalam perspektif kekinian, Prof. Dr. BES mengajak umat untuk melihat berbagai bentuk kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Cinta Harta

Kecintaan terhadap harta dapat berubah menjadi berbagai bentuk penyimpangan apabila tidak dikendalikan oleh nilai moral dan agama.

Dalam kondisi kekinian, hal tersebut dapat terlihat melalui korupsi, pencucian uang, perjudian, utang konsumtif dan gaya hidup berlebihan atau flexing.

Cinta Jabatan

Keinginan terhadap kekuasaan juga dapat berubah menjadi persoalan apabila dilakukan dengan cara-cara yang tidak benar, seperti fitnah, manipulasi atau praktik politik yang mengabaikan kejujuran.

Cinta Popularitas

Prof. Dr. BES juga menyoroti fenomena pencarian popularitas melalui media sosial.

Keinginan memperoleh perhatian, pengikut dan keuntungan dapat membuat seseorang mengorbankan nilai moral demi jumlah penonton atau keuntungan ekonomi.

Cinta Kesenangan

Kecintaan berlebihan terhadap kesenangan dunia juga dapat membuat manusia melupakan tanggung jawab spiritual dan sosial.

Menurutnya, ketika kesenangan dunia ditempatkan di atas seluruh pertimbangan moral, manusia dapat semakin jauh dari tujuan kehidupan akhirat.

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Jangan Biarkan Nafasmu Kosong Tanpa Ketaatan

Ia memberikan contoh muhasabah sederhana.

Apakah seseorang meninggalkan salat demi pekerjaan?

Apakah seseorang merasa berat mengeluarkan zakat dan sedekah, tetapi mudah mengeluarkan uang untuk kepentingan duniawi?

Apakah waktu untuk ibadah semakin sedikit, sementara waktu untuk hiburan terus bertambah?

Pertanyaan tersebut, menurutnya, perlu dijawab oleh masing-masing individu.

2. MENGHALANGI MANUSIA DARI JALAN ALLAH

وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

“Dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.”

Dalam kajian tersebut, Prof. Dr. BES mengajak umat untuk melihat apakah terdapat perilaku atau kebijakan yang justru mempersulit orang dalam menjalankan kebaikan dan ajaran agamanya.

Ia mengangkat beberapa bidang kehidupan sebagai bahan refleksi.

Pendidikan

Menurutnya, pendidikan harus menjadi sarana pembentukan akhlak dan penguatan nilai agama.

Setiap upaya yang mempersulit pendidikan keagamaan perlu menjadi perhatian dan dikaji secara objektif.

Hukum

Prof. Dr. BES berpendapat bahwa kehidupan hukum seharusnya tidak bertentangan dengan nilai moral dan keadilan.

Perbedaan pendapat mengenai hukum dan nilai agama, menurutnya, harus diselesaikan melalui argumentasi, dialog dan mekanisme hukum yang berlaku.

Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, ia mengingatkan pentingnya membangun sistem yang tidak mendorong eksploitasi, ketidakadilan dan praktik yang merugikan masyarakat.

Ia juga mengajak umat untuk memperkuat alternatif ekonomi yang sesuai dengan prinsip keadilan dan nilai keagamaan.

Media dan Media Sosial

Prof. Dr. BES juga menyoroti perkembangan media dan media sosial.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih aktif menyebarkan konten yang membawa manfaat, pendidikan dan kebaikan.

Sementara itu, konten yang merusak moral dan mendorong perilaku negatif harus dihadapi melalui edukasi dan peningkatan literasi.

Kehidupan Berbangsa

Dalam kehidupan berbangsa, ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki dasar Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945.

Oleh karena itu, nilai agama dan moral, menurut pandangannya, tidak seharusnya dipisahkan sepenuhnya dari pembentukan karakter dan kehidupan masyarakat.

Inti dari persoalan tersebut, menurut kajian Prof. Dr. BES, adalah jangan sampai seseorang justru menjadi penghalang bagi orang lain yang ingin berbuat baik dan menjalankan ajaran agamanya.

3. MENGINGINKAN JALAN YANG BENGKOK

وَيَبْغُوْنَهَا عِوَجًا

“Dan menginginkan jalan yang bengkok.”

Menurut Prof. Dr. BES, persoalan ini merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius.

Bukan hanya karena seseorang tidak mengikuti jalan yang diyakini benar, tetapi karena terdapat upaya untuk mengubah atau membenarkan sesuatu yang salah.

Dalam Kehidupan Agama

Prof. Dr. BES mengajak umat untuk berhati-hati terhadap pemahaman agama yang dapat menjauhkan manusia dari prinsip dasar ajaran Islam.

Perbedaan pemahaman harus dihadapi dengan ilmu dan dialog, bukan dengan kebencian.

Dalam Sejarah dan Kehidupan Berbangsa

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mengkaji sejarah bangsa secara objektif dan memahami dasar negara secara mendalam.

Menurutnya, Pembukaan UUD 1945 dan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa perlu menjadi bagian dari refleksi dalam kehidupan nasional.

Baca juga:  Juli E. Restu War: Kutuk Dugaan Penganiayaan dan Pelecehan Seksual Pekerja di Tangerang

Dalam Persoalan Moral

Salah satu tantangan zaman, menurutnya, adalah munculnya upaya untuk membenarkan perbuatan yang secara moral dan agama dipandang salah.

Karena itu, manusia harus memiliki pedoman nilai agar tidak mudah mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Dalam Kehidupan Politik

Prof. Dr. BES berpandangan bahwa nilai ketuhanan dan moral harus tetap menjadi bagian dari pertimbangan kehidupan publik.

Namun perbedaan pandangan mengenai bentuk dan penerapannya harus diselesaikan melalui cara-cara damai dan konstitusional.

MEREKA BERADA DALAM KESESATAN YANG JAUH

Allah SWT menutup ayat tersebut dengan firman:

اُولٰٓئِكَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ

“Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”

Menurut kajian Prof. Dr. BES, peringatan tersebut harus menjadi bahan introspeksi.

Bukan sekadar untuk menunjuk kesalahan orang lain.

Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya terlalu mencintai dunia?

Apakah saya pernah menghalangi orang lain dari kebaikan?

Apakah saya pernah membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah?

LALU APA HUBUNGANNYA DENGAN KITA DI NKRI?

Prof. Dr. BES menegaskan bahwa kajian tersebut bukan tuduhan terhadap orang per orang.

Ini merupakan pembahasan mengenai perilaku dan kondisi yang harus diwaspadai.

Jika seseorang masih melakukan korupsi, melakukan praktik ekonomi yang bertentangan dengan keyakinannya, atau meninggalkan kewajiban agama demi kepentingan dunia, maka hal tersebut perlu menjadi bahan muhasabah.

Demikian pula apabila seseorang mempersulit orang lain dalam melakukan kebaikan atau membiarkan penyimpangan tanpa melakukan upaya perbaikan melalui cara yang baik.

SOLUSI: RUMUS 3L

QS. Ibrahim ayat 2 mengingatkan:

اللّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ

“Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”

Menurut Prof. Dr. BES, manusia tidak seharusnya berlebihan dalam mencintai dunia, karena seluruh kehidupan pada akhirnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Ia kemudian menawarkan Rumusan 3L.

L1: LEBIH MENCINTAI AKHIRAT

Manusia perlu memperbaiki orientasi hidup.

Kehidupan dunia adalah tempat berusaha, tetapi akhirat merupakan tujuan akhir.

Karena itu, setiap keputusan hidup perlu mempertimbangkan nilai moral dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

L2: LURUSKAN JALAN

Jangan menjadi penghalang bagi orang yang ingin berbuat baik.

Dukung pendidikan, dakwah, pesantren, kegiatan sosial dan berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jadilah fasilitator bagi kebaikan, bukan penghalang.

L3: LURUSKAN PEMIKIRAN

Kesalahan pemikiran harus dihadapi dengan ilmu.

Menurut Prof. Dr. BES, narasi yang dianggap bertentangan dengan nilai agama tidak boleh dihadapi dengan kebencian, melainkan dengan argumentasi, dalil, pendidikan dan dialog.

TUGAS KITA: MENGELUARKAN MANUSIA DARI KEGELAPAN MENUJU CAHAYA

Kajian tersebut merupakan kelanjutan dari pesan QS. Ibrahim ayat 1 tentang tugas membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Perubahan, menurut Prof. Dr. BES, harus dimulai dengan memberikan pemahaman, pendidikan dan keteladanan.

Bukan dengan kekerasan.

Bukan dengan kebencian.

Tetapi melalui ilmu dan akhlak.

CHECKLIST 10 PERTANYAAN MUHASABAH QS. IBRAHIM AYAT 2-3

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Istiqomah, Syukur Kemerdekaan RI, dan Pertanyaan Besar soal SDA Indonesia

Prof. Dr. BES juga menyusun sepuluh pertanyaan sebagai bahan introspeksi.

BAGIAN A: CINTA DUNIA LEBIH DARI AKHIRAT

1. WAKTU

Saat azan berkumandang, mana yang lebih didahulukan: pekerjaan, telepon genggam atau salat?

2. HARTA

Ketika memperoleh rezeki, apakah yang pertama dipikirkan adalah kewajiban dan kepedulian sosial atau semata-mata kepentingan pribadi?

3. KEPUTUSAN

Ketika dihadapkan pada pilihan antara keuntungan besar melalui cara yang diyakini tidak benar dan keuntungan lebih kecil melalui jalan yang halal, pilihan mana yang diambil?

BAGIAN B: MENGHALANGI DARI JALAN ALLAH

4. DI RUMAH

Apakah kita mendukung keluarga untuk belajar agama dan melakukan kebaikan?

Ataukah justru sering menjadi penghalang?

5. DI TEMPAT KERJA DAN KOMUNITAS

Ketika ada kegiatan keagamaan dan kegiatan positif, apakah kita memberikan dukungan?

Ataukah kita justru mempersulit tanpa alasan yang benar?

6. DI MEDIA SOSIAL

Apakah kita ikut menyebarkan konten yang memberikan manfaat?

Ataukah kita lebih memilih menyebarkan hal-hal yang tidak memberikan kebaikan?

BAGIAN C: MENGINGINKAN JALAN YANG BENGKOK

7. PEMIKIRAN

Apakah kita bersedia mempelajari perbedaan pandangan dengan ilmu sebelum mengambil kesimpulan?

8. NORMA

Apakah kita pernah membenarkan sesuatu yang salah hanya karena memberikan keuntungan atau kesenangan?

9. KEPEMIMPINAN

Apakah dalam menentukan pilihan kita mempertimbangkan moral, kejujuran dan tanggung jawab?

10. KEBENARAN

Ketika melihat kesalahan pemahaman, apakah kita berusaha meluruskan dengan ilmu dan cara yang baik?

Ataukah kita membiarkan kesalahan tersebut berkembang?

HASIL MUHASABAH DAN TINDAKAN

Prof. Dr. BES mengajak setiap orang menggunakan pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi sebagai sarana memperbaiki diri.

Semakin banyak perilaku yang ditemukan perlu diperbaiki, semakin besar pula kebutuhan untuk melakukan taubat dan perubahan.

Perbaikan dapat dimulai dari satu persoalan kecil setiap minggu.

Mencari guru, lingkungan dan teman yang baik juga menjadi salah satu langkah untuk memperkuat perubahan.

DOA PENUTUP MUHASABAH

اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnat jitinabah.

“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang benar itu sebagai kebenaran dan berikan kami kemampuan untuk mengikutinya. Tampakkanlah kepada kami yang batil itu sebagai kebatilan dan berikan kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Prof. Dr. BES juga menutup kajiannya dengan doa dari Surah Ali Imran ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

Robbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa hab lana mil ladunka rahmah.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.”

(QS. Ali Imran: 8)

Jika berkenan, sudi kiranya doa tersebut dipanjatkan kepada Allah SWT sebagai bagian dari muhasabah dan upaya memperbaiki diri.

Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana ( BES )

Latest

Bupati Klaten Hamenang Mendorong UMKM Klaten Punya Peluang Besar Tembus Pasar Singapura dan Malaysia Lewat Pulau Bintan

Klaten, MPI - Pemerintah Kabupaten Klaten dan Pemerintah Kabupaten...

Dugaan “Damai” Ratusan Juta dalam Kasus Rokok Ilegal di Caringin Bogor Disorot

BOGOR, MPI — Dugaan kejanggalan dalam proses penindakan terhadap peredaran...

Mutiara Hikmah BES: Dari Kegelapan Menuju Cahaya, Refleksi Tauhid bagi NKRI

BOGOR, MPI — Prof. Dr. BES dalam Mutiara Hikmah...

DPD APPSI Kabupaten Bogor Dikukuhkan, Fokus Perkuat Daya Saing Pedagang Pasar

BOGOR, MPI — Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi...

Newsletter

Don't miss

Bupati Klaten Hamenang Mendorong UMKM Klaten Punya Peluang Besar Tembus Pasar Singapura dan Malaysia Lewat Pulau Bintan

Klaten, MPI - Pemerintah Kabupaten Klaten dan Pemerintah Kabupaten...

Dugaan “Damai” Ratusan Juta dalam Kasus Rokok Ilegal di Caringin Bogor Disorot

BOGOR, MPI — Dugaan kejanggalan dalam proses penindakan terhadap peredaran...

Mutiara Hikmah BES: Dari Kegelapan Menuju Cahaya, Refleksi Tauhid bagi NKRI

BOGOR, MPI — Prof. Dr. BES dalam Mutiara Hikmah...

DPD APPSI Kabupaten Bogor Dikukuhkan, Fokus Perkuat Daya Saing Pedagang Pasar

BOGOR, MPI — Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi...

Mutiara Hikmah BES: Waktu Milik Allah, Jangan Ukur Pertolongannya dengan Jam Manusia

BOGOR, MPI — Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan...

Bupati Klaten Hamenang Mendorong UMKM Klaten Punya Peluang Besar Tembus Pasar Singapura dan Malaysia Lewat Pulau Bintan

Klaten, MPI - Pemerintah Kabupaten Klaten dan Pemerintah Kabupaten Bintan memperkuat kerja sama dalam pengembangan produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kerja sama...

Dugaan “Damai” Ratusan Juta dalam Kasus Rokok Ilegal di Caringin Bogor Disorot

BOGOR, MPI — Dugaan kejanggalan dalam proses penindakan terhadap peredaran rokok ilegal mencuat di wilayah Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Senin (31/9/2026). Sejumlah pihak mempertanyakan proses penanganan...

Mutiara Hikmah BES: Dari Kegelapan Menuju Cahaya, Refleksi Tauhid bagi NKRI

BOGOR, MPI — Prof. Dr. BES dalam Mutiara Hikmah Senin, (31/8/2026) atau 6 Rabiul Awal 1448 H, mengangkat tema tentang Al-Qur'an sebagai petunjuk untuk...