JAKARTA | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si. (Brother Eggi Sudjana/BES), melalui Mutiara Hikmah Selasa, 6 Oktober 2026, mengajak umat Islam merenungkan kandungan QS Ali ‘Imran ayat 133-134 tentang ampunan Allah, surga seluas langit dan bumi, serta tiga ciri orang-orang bertakwa.
Bismillah, BES mengawali Mutiara Hikmah pagi ini dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133)
Kemudian ayat 134:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
” (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134).
Setelah Sholat Subuh hari ini, tanggal 6 Oktober 2026, BES membaca Al-Qur’an dari Surah Ali Imran ayat 133 dan 134.
Menurut BES, terdapat dua poin penting. Pertama, bersegeralah cari ampunan Allah, untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga tersebut disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Kedua, bagaimana mengetahui orang-orang bertaqwa itu?
“Menurut logika Qur’an tersebut ada 3 hal ciri orang-orang bertaqwa: 1. BERINFAQ walaupun lagi sempit alias bokek, 2. TAHAN AMARAH, 3. MAAFKAN KESALAHAN ORANG,” tegas BES.
BES menilai, secara sederhana apabila seseorang ingin meraih surga-Nya, maka lakukan tiga hal tersebut. Namun, menurutnya, justru tiga hal itu tidak mudah untuk dilakukan.
“Bahwa sangat Simple/sederhana bila Kita ingin meraih SURGA NYA, yaitu lakukan saja 3 Hal Tersebut dan dipastikan semua orang-orang yang bertakwa itu pasti bisa lakukan,” jelasnya.
Namun, BES kemudian mengajukan pertanyaan kritis mengenai jihad.
“Logika lainnya secara subtansi kok semudah itu masuk Surga NYA? Dimana JIHAD nya?” katanya.
Menurut BES, kesannya memang mudah, tetapi apabila disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tidak sanggup melakukannya.
“Memang kesannya mudah tapi saksikanlah dengan 3 hal tersebut BANYAK yang tidak Sanggup Lakukan nya,” tegasnya.
Ia kemudian memberikan contoh. Jangan dalam keadaan uang sedang sempit, ketika sedang banyak uang pun masih banyak orang yang pelit.
“Contohnya jangan kan keadaan uang lagi sempit, lagi banyak uang juga pada PELIT kok?” ujarnya.
Begitu juga dengan menahan amarah.
“Tahan Amarah, jangan kan suruh tahan, bahkan setiap hari nya kelakuan nya sering Marah2 terus kok?” lanjut BES.
Demikian pula dengan memaafkan kesalahan orang lain.
“Maafkan kesalahan Orang, bukankah banyak yang pilih DENDAM atau Sulitlah Maafkan kesalahan Orang apa lagi orang yang di Maafkan berkali kali lakukan kesalahan lagi?” katanya.
Karena itu, menurut BES, perlu konstruksi berpikir yang tepat mengenai tiga variabel tersebut dengan penempatan jihad di dalamnya.
“Karena TAK ADA TERORISME bila 3 Variable ajaran Islam tersebut berlaku, lalu mengapa ada stiqma Islam Teroris, masih ada BNPT [Badan Nasional Penanggulang Teroris] dan yang di maksud Teroris pasti Orang Islam, tak pernah Bes dengar ada stiqma TERORIS dari AGAMA LAIN?” ungkapnya.
QS Ali Imran 133-134: Rumus Surga Paling Simple tapi Paling Berat dan Anti-Terorisme
BES menyebut, setelah Subuh dirinya langsung dibukakan Allah ayat tersebut.
“Subhanallah, setelah subuh langsung dibukakan Allah ayat ini – ini ayat Road Map Surga Seluas Langit dan Bumi yang BES baca hari ini,” katanya.
Menurut BES, poin tersebut sangat tajam, yakni mempertanyakan mengapa masuk surga seolah hanya membutuhkan tiga variabel.
“Point Prof BES sangat tajam: Kok masuk surga semudah 3 variabel saja? Dimana Jihadnya? Dan mengapa Islam distigma teroris padahal ayat ini anti-teroris?” tegasnya.
1. Perintahnya: وَسَارِعُوا — Bersegeralah!
BES menjelaskan bahwa Allah tidak mengatakan sekadar berjalan, tetapi memerintahkan manusia untuk bersegera.
“Allah tidak bilang berjalanlah, tapi Berlombalah dengan cepat! Cari ampunan dan surga seluas langit dan bumi,” jelasnya.
Menurutnya, surga yang dijanjikan bukan surga kecil, melainkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
“Bukan surga kecil, tapi عَرْضُهَا السَّمٰوَاتُ وَالْأَرْضُ. Untuk siapa? أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ – disediakan untuk orang bertaqwa,” katanya.
Lalu siapa muttaqin itu? Menurut BES, jawabannya dijelaskan pada ayat 134.
2. Tiga Ciri Muttaqin: Simple di Lisan, Berat di Amalan
A. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ — Berinfaq di lapang maupun sempit alias bokek
BES menjelaskan bahwa logika manusia sering kali adalah berinfak ketika sedang kaya. Namun, logika Qur’an justru mengajarkan untuk tetap berinfak ketika sedang sempit.
“Logika manusia: Infaq kalau lagi kaya. Logika Qur’an: Justru saat bokek, tetap infaq. Inilah yang BES bilang: Jangankan lagi bokek, lagi banyak uang pun banyak yang pelit,” tuturnya.
Menurut BES, infaq tersebut merupakan JIHAD HARTA, atau jihad pertama.
“Infaq di sini adalah JIHAD HARTA – jihad pertama. Dan ini jihad paling berat. Memberi saat sempit butuh Power Tauhid QS 8:19 kemarin. Ini melatih anti-serakah, anti-oligarki. Orang yang lulus ini tidak mungkin jadi koruptor,” tegasnya.
B. وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ — Menahan Amarah
BES menjelaskan bahwa menahan amarah bukan berarti seseorang tidak boleh marah, tetapi mampu mengendalikan dan menahannya.
“Bukan tidak marah, tapi Kazim – menahan seperti menahan unta yang mengamuk. Ditahan di dada, tidak dilampiaskan dengan kekerasan,” jelasnya.
Menurut BES, ini merupakan JIHAD NAFS, yakni jihad melawan diri sendiri.
“Ini JIHAD NAFS – Jihad melawan diri sendiri. Ini jihad terbesar kata Rasul. BES tanya: Jangan kan tahan, tiap hari marah-marah terus. Betul. Karena menahan marah butuh sabar tingkat Isbiru & Shabiru dari QS 3:200 Sabtu lalu,” tuturnya.
Ia kemudian mengaitkannya dengan persoalan terorisme.
“Orang yang bisa tahan amarah, tidak mungkin jadi teroris. Karena teroris itu meledakkan amarah dengan bom. Islam menyuruh menahan amarah dengan sabar dan sholat QS 2:153,” tegas BES.
C. وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ — Memaafkan Kesalahan Orang Lain
BES menyebut memaafkan sebagai level yang lebih tinggi setelah mampu menahan amarah.
“Level paling tinggi. Sudah tahan amarah, sekarang maafkan. Bahkan orang yang berkali-kali salah, tetap dimaafkan,” katanya.
Menurutnya, hal tersebut merupakan JIHAD HATI — jihad memaafkan.
“Ini JIHAD HATI – Jihad memaafkan. Ini yang membuat Islam tidak ada dendam berkepanjangan. Dendam yang tidak dimaafkan itulah cikal bakal konflik, teror, dan perang saudara,” ujarnya.
BES kemudian menyusun rangkaian tiga hal tersebut:
Berani Infaq (Jihad Harta) → Tahan Amarah (Jihad Nafs) → Maafkan Orang (Jihad Hati).
“Jika 3 ini jalan, maka وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ – Allah cinta orang berbuat kebaikan (Muhsin). Naik level dari Muttaqin jadi Muhsin,” jelasnya.
3. Di Mana Jihadnya? Justru Inilah Jihad Sesungguhnya
BES kembali kepada pertanyaan awal: jika hanya tiga variabel tersebut, di mana jihadnya?
Menurutnya, jawabannya justru terdapat pada tiga hal tersebut.
“3 variabel itu sendiri adalah JIHAD PALING BERAT,” tegasnya.
Ia kemudian menguraikannya:
Jihad melawan Kekikiran = Infaq saat sempit. Lebih berat daripada jihad angkat senjata bagi orang pelit.
Jihad melawan Amarah = Kazim ghaiz. Lebih berat daripada jihad lawan musuh luar, karena musuhnya di dalam dada.
Jihad melawan Dendam = Afin anin nas. Lebih berat daripada memaafkan sekali, tapi memaafkan berkali-kali.
BES juga mengutip pemahaman tentang jihad besar melawan hawa nafsu.
“Rasulullah pulang dari Badar berkata: Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar – jihad melawan hawa nafsu. Ayat 133-134 ini adalah jihad besar itu,” ungkapnya.
Tak Ada Terorisme Bila Tiga Variabel Ini Berlaku
BES menegaskan bahwa pernyataan tersebut, menurutnya, benar secara logika Qur’an.
“MAKA TAK ADA TERORISME BILA 3 VARIABEL INI BERLAKU,” tegasnya.
Ia menjelaskan:
Teroris itu pelit ilmu dan pelit hati — tidak lulus infaq.
Teroris itu tidak tahan amarah — meledak.
Teroris itu tidak maafkan — dendam terus.
“Islam yang benar dengan 3 variabel ini adalah ANTI-TERORISME PALING EFEKTIF dan EFESIEN,” katanya.
4. Mengapa Ada Stigma Islam Teroris dan BNPT?
BES kemudian mengajukan pertanyaan mengenai stigma Islam teroris dan keberadaan BNPT.
“Ini pertanyaan jujur yang harus dijawab jujur,” ujarnya.
Pertama, menurut BES, terdapat oknum yang membajak ayat jihad perang tanpa melewati pemahaman tentang jihad hati.
“Karena ada oknum yang membajak ayat jihad perang (QS 8:19) tanpa melewati ayat jihad hati (QS 3:133-134). Mereka loncat langsung ke perang tanpa lulus 3 variabel muttaqin. Itu bukan Islam, itu Khawarij,” jelasnya.
Kedua, BES menyoroti apa yang disebutnya sebagai industri Islamophobia global.
“BNPT dibentuk untuk penanggulangan terorisme, tujuannya mulia. Tapi di lapangan, yang sering di-stigma ‘teroris’ hanya dari Islam. Tidak pernah ada stigma teroris dari agama lain padahal KKK, pembantaian di Myanmar, dll jelas teror. Ini yang membuat umat bertanya: Apakah ini penanggulangan teror atau penanggulangan Islam?” ungkapnya.
Menurut BES, solusinya adalah kembali kepada pesan QS Ali Imran ayat 133-134.
“Jika BNPT dan negara ingin hilangkan terorisme, ajarkan 3 variabel Ali Imran 134 di semua pesantren, sekolah, dan kantor TNI,” katanya.
Ia menyebut tiga ajaran tersebut adalah mengajarkan infaq saat sempit, tahan amarah, dan maafkan kesalahan orang.
“Jika ini diajarkan, terorisme mati dengan sendirinya tanpa peluru,” tegas BES.
BES Berharap Pesan Ini Dinasehatkan kepada Presiden RI ke-8
Pada bagian akhir Mutiara Hikmah, BES menyampaikan harapannya kepada jajaran Wantimpres yang baru dilantik.
“Harapan nya WANTIMPRES yang baru di lantik kemarin lusa, sudikiranya ini di nasehatkan pada Presiden RI ke 8, agar menggapai INDONESIA BERTAQWA,” harapnya.
BES menegaskan bahwa surga seluas langit dan bumi tidak diisi oleh orang yang pendendam, pemarah, maupun orang pelit.
“Bahwa itu karena Surga seluas langit dan bumi tidak diisi oleh pendendam, pemarah, dan orang pelit. Surga diisi oleh Muhsinin yang 3 variabelnya jalan tersebut,” pungkasnya.
Wallahu A’lam.
Salam Jihad dan Sabar 💪
Brother Eggi Sudjana (BES)




